
Mungkin saja malam ini, malam yang tepat untuk bertanya mengenai hal yang membuatnya selama ini penasaran.
Seperti malam-malam biasanya, setelah duduk di dalam cafe. Mendengarkan Aprit perform. Ia akan keluar dan duduk di sana, tepat di samping pintu.
Menunggu anak lelaki itu menghampirinya dan mengajaknya berbincang.
“Kenapa dia lama sekali? Apa dia sudah pulang?” tanyanya mengintip dari tembok kaca.
Tempat perform, tampak sepi. Ia berpikir jika Aprit telah pulang, lewat pintu belakang dan ia tidak menyadari itu.
“Ehem....” Dehaman dari belakang membuat Ali menoleh memperbaiki duduknya.
“Aprit!” panggilnya dengan wajah berseri kegirangan.
Anak lelaki itu mengangguk, dan bertanya apa dia boleh duduk di sampingnya.
Tentu saja Ali langsung mengangguk setuju. Sebab memang anak lelaki itu yang ia tunggu kedatangannya.
“How's it going, Kak?” tanyanya yang membuat lawan bicaranya tersenyum.
“Terima kasih, atas pertanyaannya. Kakak baik! Bagaimana denganmu?”
Satu hal yang ia baru sadari saat berbincang dengan Aprit. Anak lelaki itu sering melontarkan pertanyaan dengan bahasa Inggris. Meskipun demikian, ketika ia menjawab dengan bahan Indonesia. Anak lelaki itu lumayan paham.
Hal inilah yang membuatnya bingung. Siapa anak lelaki yang duduk bersamanya itu. Dan mengapa juga sering nyanyi di cafe.
Bagaimana pendapat orang tua Aprit. Apa itu keinginan atau justru tuntunan orang tua.
“Boleh Kaka bertanya sesuatu?” tanyanya memberanikan diri, meskipun kemungkinan tak memungkinkan akan ditolak.
Aprit yang duduk di samping mengangguk.
“Sebelumnya Kakak, minta maaf karena menanyakan hal pribadi. Sebenarnya alasan kamu perform setiap malam Minggu itu keinginan sendiri?” tanya penuh kehati-hatian.
Aprit melirik, anak lelaki itu terdiam. Beberapa detik, dan berucap, “No ...tapi tuntutan Dunia!”
Ali berusaha mencerna perkataan Aprit, yang terdengar ambigu ditelinga.
“Maksudnya?” pertanyaan itu keluar tanpa aba-aba.
“Since baby, I've lived in an orphanage (Sejak bayi, saya sudah tinggal sebuah panti asuhan) ... That's what makes me, have to work hard. (Hal itu yang membuat saya, harus bekerja keras)”
Ali terenyuh mendengar penjelasan, anak lelaki yang mencuri hatinya. Ia terdiam, tak bisa bertanya lagi. Karena menahan air matanya.
“But three months ago, I decided to get out (Tapi tiga bulan yang lalu, saya memutuskan untuk keluar)”
__ADS_1
“Kenapa?” Ali menatap intens.
“Sudah cukup, saya merepotkan ibu panti ...I do not know how to reply to his kindness. (Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikannya) Ya mungkin, dengan keluar ... setidaknya beban ibu Panti, ringan.”
“Oh ...my God! Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Ali benar-benar terpukau dengan cara berpikir Aprit.
“A man must be able to stand on his own feet. He's couldn't depend on other people.”
(Seorang lelaki itu harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Dia tidak bisa bergantung dengan orang lain)
“Apalagi, diketek Mama!” terkekeh kecil yang membuat Ali tersenyum lebar. Ini kali pertama ia melihat Aprit terkekeh. Sebelum-sebelumnya hanya tersenyum samar itupun jarang.
“Berapa umurmu? Pikiranmu sangat dewasa!”
“I am mature because of the situation, untuk umur tiga belas kurang!”
“Kelas 6 ya?”
Aprit menggeleng pelan.
“I have graduated, now continuing with package B at the village meeting hall. Because the orphanage only provides elementary school, (Saya sudah lulus, sekarang melanjutkan paket B di balai desa. Karena panti asuhan hanya menyediakan sekolah dasar)”
“Berarti kamu dapat ijazah SD?”
“Wow, kamu harus bersyukur karena masih bisa belajar. Cara pembagian jadwalnya gimana?”
“Jadwal? Belajar atau jadwal kita ngamen?”
Ali jadi bingung harus memilih salah satu yang harus ia ketahui. Sebab tidak memungkinkan jika ingin dijelaskan semua.
“Emm ... ngamen!” Mengelus dagu.
“Ngamen paling setelah kita belajar, berarti jam 12. Tapi sebelum ngamen kita makan, cuci baju, kalau ada jadwal tambahan ikut cuci piring. Dan pulang jam sepuluh malam, lebih dari itu akan dapat sangsi,” jelasnya sedikit kagok, berusaha memilih kalimat yang pas dalam bahasa Indonesia.
“Oh ... terus uangnya selalu di kasih ibu panti?”
Aprit menggeleng ragu, “It depends on us....”
“Ibu pantai tidak matre!” jawabnya geleng-geleng.
“Terus kamu sekarang tinggal di mana?”
“I'm sorry I can't tell you, because it's personal!” tolaknya yang membuat Ali mengatupkan mulutnya. Dia tidak menyangka jika remaja tanggung di depannya, memiliki sifat seperti Irene. Yang berani menolak permintaan seorang dengan terus terang.
***
__ADS_1
Waktu terus berlalu, pembicaraan panjang dengan Aprit membekas dalam ingatan. Itu adalah malam pertama mereka bicara dengan durasi lama.
Namun entah mengapa akhir-akhir itu. Ali merasa ada kebahagiaan, yang ia tak tahu kebahagiaan itu terjadi karena apa. Hingga pada suatu malam, ia kembali bertemu dengan Aprit.
Menanyakan tentang cita-cita apa yang ingin remaja tanggung itu gapai.
Dan Itulah kali pertama Ali melihat Aprit putus asa. Bagaimana tidak, jika remaja tanggung itu menjawab, “Saya tidak memiliki cita-cita. Sebab bisa makan saja sudah untung.”
“Kamu enggak boleh pesimis ...kamu pasti bisa,” ucapannya kala itu memberikan semangat pada Aprit.
“This is not pessimism, but thinking based on reality (Ini bukan pesimisme, tetapi pemikiran berdasarkan kenyataan)....” tegas Aprit menunjuk kepala.
Pembicaraan terakhir kala itu membuat Ali berpikir. Apa yang ia bisa lakukan untuk remaja tanggung yang mencuri perhatiannya.
“Apa yang bisa Kakak lakukan Prit? Jika mengingat karaktermu yang tidak suka dikasihani,” gumamnya menatap plafon kos, menutup matanya untuk berpikir. Namun tak disangka ia justru kebablasan tidur.
Hingga pukul setengah dua baru terbangun, sadar jika ia belum sholat isya. Ia pun langsung berlari ke kamar mandi, dan melakukan kewajibannya ditambah sunah. Memohon bimbingan, untuk yang akan terjadi ke depannya.
Waktu terus berganti, Dua pekan terakhir ini. Ia tak bisa bertemu dengan Aprit. Sebab pekerjaannya mengharuskannya lembur. Namun untuk malam itu, ia memutuskan untuk menjalankan motornya ke kafe meskipun matanya sudah 5 wat. Dan badannya memberontak untuk di rebahkan ke kasur.
Sesampainya di kafe, ia langsung duduk di kursi 08, kursi yang menjadi andalannya. Yang ia pesan secara langsung. Mungkin terdengar gila. Tapi itu benar, kursi 08 telah ia booking sejak pertama kali masuk ke kafe itu. Agar bisa melihat live music dari tempat pertama. Ia berjumpa dengan remaja tanggung itu.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Ali ketika Aprit izin duduk di sampingnya.
“Baik!” balas Aprit singkat.
Mereka pun mengobrol banyak hal. Hingga tiba akhirnya sebuah pertanyaan yang tidak pernah diduga oleh Aprit keluar dari mulut Ali.
“Aprit mau enggak jadi putra Kakak?”
Seketika suasana berubah hening. Aprit memasang wajah dingin.
Melihat hal itu Ali tampak merasa bersalah. Akan tetapi keputusannya, meminta Aprit menjadi putranya. Bukan keputusan yang ia ambil secara tiba-tiba. Melainkan telah ia pikirkan sebelumnya dengan matang.
Aprit berdiri dari duduknya dan berucap, “Looks like it's getting late, I have to go back. I hope we can meet again! (Sepertinya sudah larut, saya harus kembali. Saya harap kita bisa bertemu lagi)” Menangkupkan kedua telapak tangan, membungkukkan punggungnya. Membuat liontin dari balik kaus keluar.
Wajah Ali berubah , melihat liontin salib.
Ada rasa aneh menyusup hatinya. Yaitu rasa penyesalan atas permintaannya.
Tentu itu wajar, jika ekspektasi melenceng dari kenyataan.
Akan tetapi ia berusaha mengolah hati yang terlalu jujur. Jika keputusannya meminta Aprit menjadi putranya, kian berubah. Setelah mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Memberikan ruang untuk berpikir adalah cara yang tepat. Dan siapa sangka jika malam itu adalah malam terakhir ia bertemu dengan Aprit.
__ADS_1