
Beberapa hari telah berlalu, Ali selalu berdiam diri di ruang baca. Guna menghindari tidur dengan istri mudanya. Manik hitam itu mulai mengalihkan pandangannya dari buku ke komputer yang ada di depannya. Di sana ia bisa melihat, video CCTV dari kamarnya.
“Untunglah dia menuruti permintaanku!” gumamnya saat melihat Wan Aina tertidur pulas.
Lelaki itu meremas jari-jemarinya, ketika merasa ada yang mengganjal dalam hatinya.
“Untuk saat ini aku bisa menghindar, akan tetapi sepertinya tidak lama lagi. Aina akan menyadari hal ini,” gumamnya memijit pelipisnya, menyadari kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Akhir-akhir ini lelaki itu susah tidur. Yang mengakibatkan nyeri di bagian kepala.
Entah mengapa setelah menikah dengan Wan Aina. Dia sering gelisah.
Bahasa kerennya overthingking.
Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, langkah kakinya mendekat ke arah jendela. Tangannya mulai menggeser gorden. Pandangannya mengarah ke rumah tiga lantai, yang ada di seberang jalan.
“Apa kau sudah tidur istri?” tanyanya seolah istri pertamanya ada di hadapannya.
“Andai saja kau tahu, sangat berat bagiku tidur dengan wanita lain. Aku merasa aku telah berselingkuh di belakangmu. Padahal semua yang terjadi atas kemauanmu,” lirihnya, terkekeh getir.
Begitu jelasnya penyesalan yang lelaki itu rasakan.
Ketika tak mampu, mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri.
“BODOH, kenapa aku harus mengikuti apa yang kau katakan istri. Yang jelas-jelas ...ini tidak sejalan dengan prinsip hidupku,” teriaknya penuh kehampaan, mengusap rambut kasar.
Nafasnya yang tadi tersengal-senggal perlahan kembali stabil.
Ingatannya kini kembali saat istrinya terang-terangan memaksa untuk menikah.
...*** ...
Sosok lelaki itu duduk di tepi ranjang, dengan pencahayaan temaram. Suara pintu terbuka, membuat lelaki yang tadi menunduk menatap layar ponsel, perlahan mendongakkan kepalanya, kearah kamar mandi.
Perempuan berambut cokelat itu berjalan mendekat. Dan duduk di sampingnya.
“Ada apa Bib? Sadari pulang dari kantor. Aku lihat kamu sering merenung!” Kata Meisya menggenggam tangan suaminya.
Lelaki itu mendongak, menatap wajah istri pertamanya. Terdiam sejenak, tak langsung menjawab. Tangannya terulur. Membelai wajah sang istri.
“Istri, tahukah kamu apa yang terjadi tadi di kantor?” tanya Ali.
Meisya menggeleng.
“Aku mau kau mendengarnya?” tambahnya yang mendapat persetujuan dari Meisya.
Ali lantas menceritakan kejadian di kantor tadi. Di mana sang ayah tiba-tiba memintanya untuk menikah dengan seorang gadis. (Eps setelah bab 1)
Dalam rumah tangganya dengan Meisya. Sesulit apa pun masalahnya, mereka berusaha bercerita. Karena keterbukaan antar pasangan telah menjadi misi dalam pernikahan mereka.
Benarkah itu?
“Ta-tapi kau jangan takut istri. Aku tidak akan melakukan hal itu! Meskipun beberapa waktu yang lalu, kau memperbolehkan aku menikah lagi,” sanggahnya cepat, menangkup wajah istrinya.
Mimik wajah Meisya, malam itu tak bisa diartikan.
“Bib, sebaik-baiknya putra adalah yang berbakti kepada orang tuanya. Mumpung ayah masih ada, kabulkanlah permintaannya!” tutur Meisya, membuat lawan bicaranya shock.
“Kau gila!” Beranjak dari duduknya.
Di sinilah kali pertama mereka bertengkar hebat.
Ali yang tak pernah berteriak kepada istrinya, malam itu membuat Meisya ketakutan.
“Selama ini aku berusaha menjadi putra yang baik. Mengikuti permintaannya, namun untuk kali ini aku tidak mau!” tegas Ali penuh keyakinan.
Meisya terdiam menunduk.
“Percayalah padaku istri ...kita bisa melewati cobaan ini dengan saling menguatkan!” Lelaki itu bersimpuh di depan istrinya, menggenggam tangan Meisya kuat.
__ADS_1
“Ti-tidak Bib ...hiks ...aku mohon! Penuhi kebahagiaan ayah dan statusmu. Aku hiks ...ingin ayah bahagia karena memiliki seorang penerus darimu. Dan aku juga ingin ...kau menyempurnakan statusmu menjadi seorang lelaki!” kata Meisya menyeka air mata.
Lelaki itu melepaskan tangannya yang menggenggam tangan istrinya. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Tertawa getir, dengan mata berkaca.
“KAU GILA HAH?” sentaknya membuat bahu Meisya bergetar.
“Sejak kapan pikiranmu jadi dangkal seperti ini!” sinisnya.
“Aku rasa tidak ada yang salah, bukankah poligami itu diperbolehkan!” timpal Meisya dengan tenang.
Akankah ketenangan ekspresi dan tutur kata.
Itu benar?
Atau berbanding terbalik dengan hati yang hancur.
“Betul!” Ali menyetujui. “Perlu digaris bawahi Bagi Yang Mampu! Dan aku tidak sanggup apalagi ke tahap mampu.”
Bisa dibilang Ali sosok suami setia. Dia unik, di saat ada beberapa lelaki memutuskan diam-diam selingkuh di belakang istrinya. Bahkan sampai kawin siri tanpa sepengetahuan istrinya.
Mahbub Ali Al-Rasyid , berbeda. Bahkan saat istrinya memberikan lampu hijau padanya, untuk menikah lagi. Dia menolak, sebab ia sadar jika dirinya.
Tak mampu untuk berpoligami.
Pandangan kedua dari Ali adalah, sesuatu yang banyak atau banyak pilihan itu tidak baik.
Dikutip dari Psikolog dari Swarthmore College, Barry Schwartz. 'Terlalu banyak pilihan dapat membuat Anda malah ujung-ujungnya tidak bahagia'
Bagi Ali memiliki dua istri, akan menambah beban pikirannya.
Yang justru membuatnya tak bisa menikmati kehidupannya dengan damai.
“Aku mohon lakukan demi aku!” cicit Meisya mengiba.
“TIDAK AKAN!” sahutnya cepat.
“Kenapa kau memaksaku? Apa alasan dibalik semua ini!” selidik Ali curiga.
“Kau tahu Bib, seorang istri yang memperbolehkan suaminya poligami. Akan mendapat surga sebagai balasan. Kita hidup, tujuannya tak lain tak lebih hanya ingin bermuara di surga-Nya!” ucap Meisya dengan tatapan kosong.
Membuat lelaki itu terkikik geli. “ Tuhan menciptakan surga untuk hamba-Nya. Akan tetapi Tuhan, juga memberikan kemudahan untuk hamba-Nya bisa menepati surga-Nya. Islam itu memudahkan, yang membuatnya terlihat sulit itu interpretasi kita terhadap beberapa anjuran maupun ajaran! Disebabkan kurangnya kita mendalami ajaran. Atau memang sudut pandang kita ke beberapa ajaran itu keliru!”
“Perlu digaris bawahi, ajarannya tidak keliru. Melainkan persepsi kitalah yang keliru!” tukasnya.
“Jika kamu ingin menepati surga, cukup menjadi istri yang baik, salatnya dijaga, puasa di bulan Ramadhan. Maka kamu bisa memasukinya surga-Nya. Melalui pintu yang mana saja yang kamu kehendaki!” tambahnya lagi.
“Jadi tidak ada alasan aku menikah lagi,” terang Ali melangkah pergi.
Di saat Ali hendak menarik gagang pintu, suara tegas dari belakang membuatnya membeku.
“Sejujurnya aku pernah bersumpah, jika aku tidak bisa membuatmu menikah. Aku akan digerogoti penyakit!”
Lelaki itu terbelalak tidak percaya, membalikkan badannya menatap istrinya.
“Tolonglah aku dari sumpah yang aku buat! Bersumpah lah Bib, kau akan menikah untuk menyelamatkanku!”
...***
...
Gadis yang memakai piama itu menuruni anak tangga, sambil menguap.
“Mas Ali, kemana ya? Apa iya dari tadi malam, dia tidak balik kamar?”
“Apa pekerjaannya begitu banyak, hingga selalu lembur?” tanya Wan Aina pada dirinya sendiri.
Gadis itu memutar gagang pintu ruang baca. Dan menyembulkan kepalanya ke dalam. Cahaya yang temaram membuatnya mencari saklar.
Langkah kakinya mendekati sofa. Wan Aina membungkukkan badannya, menatap suaminya yang tertidur.
__ADS_1
Mimik wajah sang suami tetap datar, kerutan halus di bagian sudut mata terlihat semakin jelas. Jika dilihat dari jarak beberapa centi saja.
“Apa kamu kelelahan Mas? Hingga ketiduran di sini.” Matanya tak mengalihkan perhatian dari wajah suaminya datar.
“Aina janji tidak akan boros-boros mengeluarkan uang,” cicitnya prihatin melihat suaminya tidur dengan wajah lelah.
Ali memiringkan badannya, bersamaan dengan itu tangan yang tadi tersimpan di atas perut terangkat.
Wan Aina terbelalak saat Ali menarik lengannya, hingga membuat tubuhnya terjatuh.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, ketika sang suami memeluk pinggangnya erat. Inilah kali pertama gadis itu mendapatkan pelukan setelah beberapa hari menikah.
“Peluk aku, ayo peluk aku!” gumam Ali tidak jelas.
(Dalam mimpinya. Ali sedang tiduran bersama dengan Meisya. Dan meminta Meisya untuk membalas pelukannya)
“Istri apa kau mencintaiku?” tanya Ali dengan mata terpejam.
Gadis itu melengos mendengar pertanyaan suaminya, yang mengakibatkan pipinya panas.
Perlahan Ali mengangkat kepala sedikit, dari tangan sofa.
Cup! Satu kecupan di pipi, membuat gadis itu terkejut, memutarkan matanya.
Ali kembali menghempaskan kepalanya di tempat semula, dan tertidur pulas.
“Mas, bangun Mas!” ujarnya pelan, berusaha melepaskan pelukan suaminya.
“Mas subuh!” bisiknya sambil meniup wajah Ali agar bangun.
Merasa ada terpaan angin di wajah, kelopak mata tergerak, Ali berusaha membuka mata.
Pertama kali membuka mata, ia terbelalak. Saat wajah Wan Aina yang menyapanya pagi hari ini.
Tatapan keduanya terkunci sejenak, hingga Wan Aina melengos dengan pipi memerah.
Lelaki itu mengernyitkan dahinya. Ketika sadar tubuh Wan Aina berada di atasnya. Cepat ia melerai tangannya yang memeluk pinggang istrinya.
Wan Aina segera berdiri.
Ali duduk, menggaruk rambut. Masih bingung apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa saat bangun Wan Aina ada di atasnya.
“Aina saya minta maaf!” ujarnya ketika kesadarannya belum mengumpul sepenuhnya.
“Tidak apa-apa, aku tahu Mas lelah itu sebabnya tidak balik ke kamar!”
Padahal yang Ali maksud bukan itu. Melainkan karena lelaki itu telah memeluknya.
...***
...
Setelah shalat subuh lelaki itu duduk di pinggiran ranjang. Menatap istri mudanya sedang melipat mukena.
“Aina, apa kamu berani tidur sendiri. Di saat saya harus bersamanya?”
Wan Aina menunduk tidak menjawab.
Ternyata menjadi istri tidak satu-satunya bukan perkara yang gampang.
Melihat istrinya diam, Ali hanya mampu mengela nafas.
Inilah mengapa ia tak mau poligami. Sebab ia harus selalu beradaptasi. Dari sana ke sini. Dari sini ke sana.
“Saya akan meminta bik Tin pembantu rumah utama kemari untuk menemanimu, paling tiga hari lagi dia balik dari kampungnya! Dan saya akan membicarakan hal ini padanya(Meisya). Untuk memahami kondisi saat ini. Saya yakin, dia tidak keberatan. Jika saya menginap di rumahmu, tiga hari ke depan!”
Wan Aina terdiam, dia heran mengapa Ali tak pernah memanggil Meisya dengan panggilan nama saja.
Andai saja ia tahu, jika ‘istri’ yang dimaksud Ali adalah Meisya.
__ADS_1
TBC...