
Seminggu telah berlalu, namun Ali belum mendaftarkan perceraian di pengadilan agama. Semua itu karena urusan kantornya yang tak bisa ia tinggalkan. Bahkan ia juga harus memperpanjang durasi tinggal di kamar hotel 507.
Namun meskipun demikian, ia tetep menyempatkan diri untuk bertemu dengan psikiater. Untuk kesehatan mentalnya, sekalipun mungkin keadaannya jauh lebih baik. Dari sebelum-sebelumnya.
Siang harinya ia memutuskan untuk bertemu dengan seorang di kafe.
“Lu dimana? Saya sudah ada di depan kafe?” tanyanya lewat sambungan seluler.
“Oke! Saya masuk sekarang!” Lelaki itu menyimpan ponselnya di saku, dan mendorong pintu yang terbuat dari kaca.
Ia memicingkan matanya, mencari keberadaan seseorang. Tepat paling pojok, sosok yang tadi memberi ciri-ciri pakaiannya. Mengangkat tangan kearahnya. Ia pun lantas menghampiri orang tersebut.
“Maaf, terlambat lama enggak nih?” tanyanya mengajak salaman.
“Ck, lima menit! Kau membuang waktuku lima menit kawan,” jawab wanita berambut lurus sepunggung. Dengan setelan jas casualnya bermotif kotak-kotak.
Ali meringis, wanita yang ada di depannya ternyata sudah bertransformasi jauh lebih kece. Dibandingkan dulu saat SMP. Cara bicaranya lebih tegas, tidak seperti dulu saat dipalak kakak kelas.
“Airin, wow gebrakan yang luar biasa!” pujinya membuat lawan bicaranya tersenyum menyeringai.
“Basi ... tapi gua bersyukur karena masa lalu, gua bisa seperti ini sih ... dan ya lu masuk ke dalam list orang-orang berjasa dihidup gua....” Membalas pujian kawannya dengan pujian balik.
“Bisa-bisa besar kepala nih,” sahut Ali menyuapkan salmon ke dalam mulutnya.
“Eh ...sorry! Saya langsung makan sebelum mendapatkan perintah dari Nona advokat!” katanya menutup mulutnya yang sedang mengunyah.
Terlihat malu setengah mati.
Irene hanya menggeleng tak mempersalahkan.
“Wajah-wajahmu itu wajah orang nelangsa Al!” candanya, membuat Ali susah menelan salmonnya.
Irene terkikik melihat perubahan wajah lawan bicaranya.
“Ayolah kawan, jangan dimasukkan hati. Gua hanya bercanda, tapi ya ...memang apa yang gua cakap kan benar ...menurut gua pribadi,” dalihnya tetap dalam pendirian.
Ali menarik nafas panjang, sepertinya bicara dengan Irene. Ia harus menyiapkan hatinya untuk tidak baper. Dengan perkataan Irene yang kadang menyanjung, bisa saja tiba-tiba menghempaskan.
“Nelangsa gimana maksudnya? Apa gaya saya berpakaian, atau wajah saya yang tengil dimata Nona advokat? Dibandingkan kakak OSIS dulu!” Menyedot minuman dan meletakkannya kembali.
“Ck ... apa kabar mereka sekarang. Lu tahu enggak Al, kakak kelas yang sering malakin gua, dia jadi apa? Ayo tebak?” Memajukan wajahnya membuat Ali yang duduk di depannya langsung menyandarkan punggungnya ke belakang.
“Emang jadi apa?” Ali terlihat penasaran dengan kakak kelasnya yang dulu pernah berjaya.
“Ya ada di bawah gua lah hahahaha!”
Ali mengelus dadanya terkejut, saat mendengar jawaban wanita di depannya.
“Hust ... kecilkan tawanya, lu dilihatin orang enggak malu,” ucap Ali melirik kanan kiri, dan benar saja sebagai orang menatap kearahnya.
Ini kali pertama baginya menjadi tontonan gratis bagi pengunjung. Karena lawan bicaranya tertawa renyah.
“Tuh dilihatin, semua orang.” Ali menatap tajam Irine, sebab karena wanita itu pula, ia juga dipandang aneh.
“Sudah, kita bahas saja alasan kita bertemu!” saran Ali berusaha mengubah suasana.
“Apa saja syaratnya, mengajukan gugatan perceraian?”
“Sebelum itu lu harus nyiapin berkas seperti KTP, surat nikah, kartu keluarga! Lu udah punya anak belum?” tanyanya, berhasil membuat lawan bicaranya sedikit tersinggung.
Padahal itu hanya pertanyaan biasa, yang sering menjadi pembahasan. Saat orang baru berjumpa.
Namun hal itu menjadi beban, jika yang ditanyai seseorang yang belum dikaruniai anak.
Itupun berlalu di kalangan muda-mudi yang belum menikah.
__ADS_1
“Belum!” Helaian nafas berat yang mengiringi jawaban.
Membuat Irene, menggigit bibir bawahnya. Berspekulasi apa pertanyaannya menyinggung Ali.
“Begini saja, sebagai kawan yang dulu dikasih bakpao terus, saat uang dipalak. Gua sanggup menghandle semuanya, tapi lu harus menceritakan permasalahan lu, ke gua. Biar gua bisa mengajukan surat cerai ke pengadilan.”
“Lu tinggal nunggu, pemohonan diterima. Terus ada jadwal mediasi, biasa terjadi dua kali. Gua harap, kasus lu langsung diterima!” tuturnya.
“Memangnya Arfa enggak cerita, tentang perceraian saya? Dengan istri-istri saya?” ungkap Ali ragu.
“Hah? Istri-istri maksudnya? Arfa cuma bilang, si Ali ada masalah. Lu mau bantu enggak, ya gua jawab. Ya enggak apa-apa. Arfa enggak ngomong apa-apa,” balasnya.
“Berarti lu tahunya kasus perceraian saya, baru kemarin saat saya contact?”
Irene berdeham membenarkan.
“Maksudnya, istri-istri apa? Lu punya lebih dari satu gitu?” Monolognya.
Ali mendengus kesal. “Sudah nanti saya ceritakan semua.”
“Wah ...gila sehhh ...lu diam-diam jago main ditikungan ya hehehe!” serunya dengan tawa pelan, tak sudi melakukan kesalahan yang sama.
Ali mengumpat wanita di depannya.
“Sudahlah, habiskan dulu makanannya.”
Setelah hampir lima menit fokus pada makanan. Ali bersuara, “Sepertinya untuk hari ini saya enggak bisa lama-lama. Karena harus cari kontrakan!” ujarnya mengambil tisu.
Membuat wanita yang duduk di seberangnya bersuara, “Lu bawa mobil enggak?” tanya Irene melihat Ali berdiri.
Ali yang ingin keluar dari kursi menoleh. Kemudian menggeleng.
“Bagus, demi mempersingkat waktu. Bukan cuma urusan lu, yang harus gua urusin saat ini, ada sepuluh kasus yang gua tanganin. Gua mau lu, ceritakan semua permasalahan lu. Lu bisa cari kontrakan. Gua bisa langsung mengeksekusi kasus lu dengan cepat. Kita ngobrol di mobil,” ujarnya menyambar ponselnya dan berjalan kearah kasir untuk membayar.
Ali yang tadi diam mencerna ide Irene. Lelaki itu langsung berjalan mengikuti Irene dari belakang.
Saat wanita itu ingin memberikan kartunya ke kasir. Seorang lebih dulu menyodorkan kartunya.
“Ayolah Al, sudah tidak zaman lelaki harus bertanggung jawab. Membayari biaya makan, saat bersama cewek,” protesnya melirik kearah lelaki yang berdiri di sampingnya.
“Ini di Indonesia, Ren! Bukan diluar negeri, dimana saat jalan dengan pacar atau temanya, bayar sendiri-sendiri. Itu hal wajar. Namun jika ada lelaki menerapkan kebiasaan itu di Indonesia. Titelnya bisa berubah,” sinis Ali menyunggingkan bibirnya.
“Ohow ... gua baru paham hahahaha ... lelaki bokek.” Memukul pundak kawannya.
Mereka berdua berjalan beriringan kearah parkirkan mobil.
“Omong-omong, lu sudah berkeluarga?” tanya Ali.
Irene yang sedang mencari kunci mobilnya di tas, menatap wajahnya.
“Lu tahu enggak Al, pertanyaan seperti ini kalau di Jepang itu terdengar konyol. Dan dengan tanya kapan kawin? Kapan punya anak? Itu menunjukkan bahwa kita terlalu kepo dengan urusan orang lain. Pertanyaan konservatisme seperti ini mengapa masih ada di Indonesia sih?” Geleng-geleng kepala menyayangkan cara berpikir orang Indonesia.
“Nah lu tadi juga tanya, anak sama saya. Berarti lu enggak ada bedanya dengan masyarakat dong!” todongnya, menerima kunci dari tangan Irene.
“Eits ... jangan di sama-samakan, gua tanya itu memang untuk kelengkapan data tambahan. Jika memiliki anak, akta kelahiran dibutuhkan. Untuk menuntut hak asuh,” tuturnya menabok bokong Ali.
Membuat lelaki itu menggeram menahan emosi.
“Airin, lu bisa enggak kalau omong tangannya diam gitu. Sejam sama lu, badan saya kena tabokkan mulu. Dan yang terakhir bisa saya laporkan kasus pelecehan seksual,” hardiknya geram seraya membuka pintu mobil.
Irene menutup mulutnya tidak percaya, wanita itu langsung membuka pintu mobil. Dan duduk seraya memakai sabuk pengaman.
“Yaelah, itu hal wajar saat gua di Thailand. Nabok bokong!” belanya.
“Kalau di Indonesia, pandangannya beda. Apalagi cowok sama cewek ...ini gimana nyalain mobilnya.” Menggerutu bingung, sebab modifikasi mobil Irene berbeda dengan mobilnya.
__ADS_1
Perempuan itu mengajari dan menjelaskan secara telaten. Hingga akhirnya Ali bisa memundurkan mobil.
“Lu mau cari kontrakan?” tanya Irene mengikat rambutnya yang berantakan.
Ali hanya menoleh dan fokus menyetir.
“Mending cari kos-kosan aja deh Al!” serunya melemaskan badannya dengan duduk santai.
“Memang kenapa?”
“Ya kalau kos-kosan lebih enak, lebih ramai. Lu juga jadi enggak merasa sendiri, penghuninya cowok semua. Beda lagi ...dengan rumah kontrakan!” balasnya sambil mengetik pesan.
“Terus siapa tahu, lu juga ketularan virus anak muda. Style gaya pakaian, cara berpikir. Ya lebih gaul saja, istilah lu kan wajah-wajah nelangsa.* Irene kembali terbahak saat berhasil mencaci-maki lawan bicaranya.
Ali yang duduk di kursi kemudi hanya memasang wajah datar.
“Dari tadi lu, ngatain saya nelangsa mulu. Menang apa yang harus diperbaiki?”
“Ya cara lu memvisualisasikan diri lu. Harus memiliki pembeda dari yang lain. Itu berguna juga tahu buat pekerjaan lu, kalau tampilan lu rapi, kece, ada bedanya dari pekerja lain. Para kolega, investor yang lu temui juga. Akan mudah mengingat lu, gitu. Ya bisa dibilang kayak Atha Halilintar dengan kacamata dan bandana dikepala, pengacara Hotman Paris Hutapea dengan gerakan tangannya!” jelas Irene meniru gaya pengacara kondang saat memperlihatkan emas dan berliannya.
“Itu untuk gaya pakaiannya, dan yang paling penting itu karakter ...yah jurnalis Najuwa Sihab oke lah.”
“Sebab kalau gaya pakaiannya mecing ... But if you don't have a good and wise personality ( Tapi jika kau tidak memiliki kepribadian yang baik dan bijaksana) ...itu sama saja. Seperti mainan tanpa baterai ... tidak akan hidup ... sekalipun mainan ini dimodifikasi begitu amazing.”
“Berati saya harus memperbaiki beberapa hal?” Melirik kearah Irene, wanita itu mengangguk.
Dalam perjalanan mencari tempat kos mereka lupa, dengan niat awalnya.
“Biasanya, kos-kosan itu dekat kampus. Coba deh Al cari di maps.” Irene menjulurkan kepalanya keluar mobil saat mobil melintasi jalan raya.
Ali yang melihat hal itu langsung menarik, baju Irene dari belakang, dengan satu tangannya.
“Lu bisa enggak, mematuhi peraturan lalulintas? Kalau ada polisi gimana?” oceh Ali geram.
“Aduh, lu itu. Gua cuma sebentar tengok luar mobil wey?” bantah Irene tidak terima.
“Mending lu diam, gua ceritain masalah rumah tangga saya. Karena lu keseringan ngoceh dari tadi, sampai lupa.”
Irene menyetujui, ia menyimak setiap penjelasan Ali. Kadang pula ia mengumpat kebodohan kawannya, kadang ia menulis beberapa hal yang bisa dijadikan alasan gugatan perceraian, tuntutan primer, dan tuntutan subsider.
Disaat yang bersamaan pula, mobil yang dikendarai oleh Ali berhenti di sebuah tempat kos.
Lelaki itu keluar diikuti oleh, Irene dari belakang.
“Permisi, numpang tanya apa benar ini kos-kosan khusus pria?” tanya Ali kepada perempuan paruh baya yang ingin menutup gerbang.
Paruh baya itu menatap Ali dan Irene bergantian.
“Maaf Mas, disini menyewakan khusus yang lajang bukan yang udah nikah!”
Ali dan Irene saling pandang, lelaki melemparkan pertanyaan dengan gerakan kepala. Membuat si empu bergidik tidak paham.
“Sarang saya sih, mendingan Mas sama istrinya, cari kontrakan saja. Biar lebih leluasa. Sebab disini tidak menerima penghuni kos berpasangan!”
Kedua orang itu ternganga lebar. Mendengar penjelasan pemilik kos.
“Dia bukan istri saya,” tegas Ali yang tak lantas membuat paruh baya itu percaya.
“Maaf ya Mas! Saya tidak mau mengambil konsekuensi yang terlalu besar. Bisa saja, Mas sudah bayar sewa. Terus Masnya, bilang jika Mas akan tinggal dengan istri Mas di kos!” ujarnya menutup gerbang, membuat Ali mengumpat.
Negosiasi tidak bisa berlanjut, sebab pemilik kos sudah memutuskan. Dengan cara menutup gerbang.
“Ya sudah cari lagi, gua janji nanti akan diam di mobil. Biar lu enggak ditolak,” bujuk Irene, merasa bersalah.
Ali langsung berbalik ke mobil, dan mengendarai mobil itu dengan pelan.
__ADS_1
TBC...