
Happy Reading.
Alana menghela nafas panjang setelah melakukan banyak sekali rencana untuk balas dendam selama beberapa Minggu ini. Tapi akhirnya dia bisa mendapatkan kembali semua yang telah di ambil oleh mantan suaminya.
Zidane datang dari arah dapur dan membawa dua cangkir coklat panas, memberikan satu gelas untuk Alana.
"Minumlah, kamu pasti haus," ujar Zidane menyerahkan satu cangkir di tangan kanannya.
"Terima kasih," jawab Alana tersenyum. Mengambil coklat panas itu dan sedikit meniupnya.
"Apa rencanamu setelah ini? Setelah kamu berhasil mengambil kembali semua milikmu? Tidak mungkin kan kalau kamu tetap akan bekerja sebagai pembantu di rumahku?" tanya Zidane membuat Alana terkesiap.
Dia belum memikirkan sampai sejauh itu, yang pasti dia harus mulai belajar lebih giat agar bisa menjalankan perusahaan dengan baik.
"Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk anda tuan, karena berkat anda, saya bisa melancarkan pembalasan dengan sangat mudah, tapi sepertinya setelah ini saya akan mengundurkan diri dan mulai bekerja di kantor," jawab Alana.
Zidane menghela nafas, sebenarnya dia tidak suka kalau Alana berhenti bekerja dengannya, dia sudah cukup nyaman ketika setiap hari melihat Alana berada di dekatnya, melayaninya sepenuh hati.
__ADS_1
Menyiapkan pakaian kerjanya, sarapan dan hal-hal kecil yang terkadang membuat Alana cemberut karena merasa di goda oleh Zidane.
"Jadi, kau akan kembali tinggal di rumahmu ini?" tanya Zidane dengan nada yang terdengar tidak biasa.
"Tentu saja, tuan. Aku..!"
"Kalau begitu mulai sekarang jangan panggil aku tuan, panggil saja Zidane karena aku bukan lagi majikan mu," sela Zidane.
Mata pria itu nampak terlihat kecewa dan sedih, entah sedih karena apa, apakah karena perjanjian dengan Alana sudah berakhir, ataukah karena wanita itu tidak akan bisa ia suruh sesuka hati?
Wanita itu berjalan ke arah Zidane dan memeluk tubuh kekar itu. Entah kenapa ada perasaan sedih saat Alana melakukan hal itu.
Zidane membalas pelukan Alana, menyelusup kan wajahnya ke bahu Alana dan menghirup aroma parfum lily yang di pakai wanita itu.
"Tapi hubungan kita masih terus berlanjut bukan?" tanya Zidane masih betah menempelkan hidungnya di leher wanita tersebut.
"Hubungan apa? Hubungan di atas ranjang?" Alana melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Aku rasa setelah kerja sama kita selesai, hubungan itu juga harus selesai, Zidane. Terima kasih atas bantuannya selama ini, aku bisa berdiri di sini semua berkat bantuan mu, tapi kalau harus menjadi teman ranjang mu, maaf, aku sudah tidak bisa!" ujar Alana tegas.
Zidane menghela nafas panjang, ada sedikit rasa perih di hatinya kala mendengar ucapan Alana. Sungguh selama ini dia tidak pernah menganggap wanita itu sebagai partner ranjang atau wanita pemuas hasrat, tapi jauh dari itu Zidane sudah mulai merasa nyaman dan menyayangi Alana.
Zidane tidak pernah tidur dengan wanita lain sebelumnya, bahkan dia terakhir kali bercinta beberapa tahun lalu sebelum kenal Alana, dengan sang kekasih yang bernama Valeria.
"Aku tidak meminta hubungan yang seperti itu, Alana. Tapi aku akan membuat hubungan kita lebih serius, aku sudah memutuskan untuk menjadikan mu kekasih ku," ujar Zidane membuat Alana terkejut.
"Apa? Tuan, apa maksud anda? Jangan bercanda!" Zidane menyentuh pipi Alana dan mengelusnya perlahan.
"Aku serius, karena memang sejak awal aku meminta mu, itu artinya kamu sudah menjadi milikku!"
'Valeria'
Bersambung.
Maaf jarang up, soalnya lagi banyak gawean. othor jadi ketereran banget🙏🙏
__ADS_1