
Happy Reading.
Caroline melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seakan-akan merasa masih ada yang mengejarnya padahal tidak sama sekali. Setelah menyadari bahwa dia sudah jauh sekali dari area kampus dan tidak melihat mobil yang mengikutinya, akhirnya gadis itu memelankan laju mobilnya.
"Ya Tuhan, apa-apaan ini, udah kaya di film action, benar-benar memicu adrenalin!" gumam Caroline.
Ponselnya berbunyi kembali dan Carol melihat ada lima pesan dari Helen dan Seira. Mereka menanyakan di mana Carol sekarang, karena dosen mereka sudah datang.
Caroline menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Caroline : Aku izin ya, tiba-tiba perutku sakit banget, ini udah di perjalanan pulang ke rumah.
Gadis itu membalas di kedua ponsel sahabatnya, kemudian ia menyandarkan kepalanya ke jok dan mendesah perlahan.
"Sial banget sih, niat mau ke toilet malah di kejutkan oleh adegan perselingkuhan Zack sama Ave, malah ketahuan lagi!" Carol menekan keningnya ke setir mobil.
Tiba-tiba dia menegakan tubuhnya dan langsung melihat aplikasi Video di dalam ponselnya. Carol ingat kalau dia sempat merekam adegan pelukan dan ciuman kedua dosen itu.
"Eh, kok gak ada! Padahal tadi udah aku record kok?" Caroline mencoba membuka folder nya satu persatu tapi tetap tidak ada video yang merekam kegiatan Zack dan Ave.
"Astaga, apa jangan-jangan belum aku rekam?" Caroline menepuk jidatnya kala mengingat dia yang memang belum memencet tombol rekam dan sudah terburu-buru mengarahkan kamera nya ke arah dua dosen itu.
"Sial, sial, sial! Padahal itu bisa jadi bukti ke kak Austin kalau istrinya selingkuh!"
Akhirnya Caroline menyerah dengan ide gilanya. Sepertinya Tuhan memang sedang tidak memihak padanya kali ini.
Tapi dia juga belum bisa tenang mengingat apakah dirinya ketahuan oleh Zack Lee Smith.
"Lebih baik aku pulang saja," gumam Caroline menyalakan mobilnya dan melajukan menuju kediaman nya.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Alana melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Berkilau sangat indah dan sangat pas di jari manisnya. "Ternyata kamu tahu ukuran jari manisku," ucap Alana memperlihatkan tangannya pada Zidane.
"Tentu saja, ukuran jarimu tidak banyak berubah sejak dulu, apakah kamu ingat dulu aku juga pernah memberikan mu cincin?" tanya Zidane.
Alana terlihat berpikir dan mengingat pelan-pelan, sebuah kilasan ingatan mengharukan dan penuh cinta telintas di pikiran nya. "Saat aku ulang tahun yang ke-17?" ucap Alana menerawang jauh.
"Iya sayang, dulu pada saat kamu ulang tahun ke-17, aku memberikan cincin berlian indah, saat itu aku ingat perayaan ulang tahun terakhir kamu sebelum musibah itu terjadi sepuluy hari kemudian, dan hal itu membuatku benar-benar merasakan kesedihan yang luar biasa," ungkap Zidane.
"Pasti hari-hari mu terasa berat setelah kepergian ku?" Zidane mengangguk.
"Bukan hanya berat, aku sempat merasa gila karena ku kira kamu telah meninggal," jawab Zidane menangkup wajah Alana, menatap mata berwarna hazel itu dengan tatapan sayu.
"Tapi kan sekarang aku udah kembali, udah ingat semuanya, jadi milikmu lagi dan sebentar lagi kita akan menikah," jawab Alana.
Zidane langsung mencium bibir Alana, sebelum menghabiskan bibir merahnya di depan para pegawai toko perhiasan tersebut, Alana langsung mendorong dada bidang pria itu dan melepaskan tautannya.
Setelah itu Zidane mengajak Alana ke tempat Wedding organizer milik sahabatnya yang bernama Diana. Zidane ingin Alana terlibat langsung untuk memilih desain pernikahan yang mereka inginkan.
"Jadi dia calon pengantin mu, cantik sekali, hai namaku Diana, aku sahabat Zidane sejak masih kuliah, dia tuh dulu terkenal pria yang dingin dan tidak tersentuh, tapi sepertinya cuma kamu yang bisa menyentuh hatinya," ujar Diana menyodorkan tangan nya pada Alana.
Alana pun menyambut baik jabatan tangan Diana. "Aku Alana, jadi dari mana kamu tahu kalau hanya aku yang bisa menyentuh hati Zidane?"
Diana tertawa kecil sambil mengedipkan matanya ke arah Zidane yang di balas dendam merotasikan mata oleh pria itu.
"Zidane udah cerita semuanya sama aku waktu dia mau pesan WO ku, awalnya dia gak mau cerita, tapi aku ngancem gak akan mau jadi WO dasakan dia, karena menyiapkan pernikahan megah dalam waktu kurang dari dua bulan itu sulit, jadi akhirnya dia cerita semuanya tentang kisah kalian," cerita Diana.
"Kalau gitu cepat perlihatkan beberapa desain pernikahan yang kamu punya," ucap Zidane yang tidak ingin di goda oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
Setelah melihat beberapa desain yang di rasa cocok, Alana memilih tema indoor dan tentunya dengan tema klasih warna peach. Diana memuji Alana karena memilih konsep yang begitu bagus. Salah satu favoritnya.
Setelah seharian mereka berputar-putar mengambil cincin dan juga memilih konsep pernikahan, kemudian Zidane mengajak Alana untuk makan malam di tempat restoran mewah langganan nya.
"Eh, hai Alana, lama gak ketemu," ujar seorang pria yang baru saja masuk ke restoran itu.
Alana dan Zidane yang sedang menikmati makan malamnya mendongak melihat siapa orang yang menyapa.
"Zack? Oh hai, iya kita lama gak bertemu, kamu sama siapa?" tanya Alana.
"Aku mau makan bareng temen, tapi dia belum datang, ehmm ... Kamu tambah cantik aja setelah cerai dari Victor," ucap Zack terkekeh.
Zidane yang melihat interaksi antara Alana dan pria yang baru dia lihat merasakan cemburu yang luar biasa.
"Eghem!" Alana melihat Zidane yang berdehem agar keras.
"Oh iya, ini Zidane, calon suamiku, Zidane dia Zack lee, temanku, ehmm sebenarnya dia duku teman Victor," ujar Alana.
"Hai, aku Zack, wah selamat bro bisa dapetin Alana, dia tuh gadis yang baik," ucap Zack mencair kan suasana yang sepertinya tampak tidak enak melihat ekspresi Zidane.
"Aku lebih tau Alana dari siapapun!" jawab Zidane menatap Alana.
Zack yang merasa tidak enak hati akhirnya berpamitan kepada keduanya dan mencari meja yang sudah di pesan olehnya.
"Ada apa?" tanya Alana yang melihat Zidane bersedekap dada sambil menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku lupa kalau selama 8 tahun ini kamu pasti punya banyak teman bahkan mantan pacar?"
"Eh, maksud kamu? Zack itu memang temen aku dan aku gak punya banyak mantan pacar selain Victor!" jawab Alana yang kini nampak kesal dengan sikap Zidane.
__ADS_1
"Huh, iya sayang, maaf, aku tadi sempat cemburu saat kamu di sapa oleh pria asing, seharusnya aku sadar diri kalau kamu juga pasti memiliki banyak teman sewaktu kuliah dulu," ujar Zidane menampilkan raut wajah menyesal.
Bersambung.