Kekasih Gelapku

Kekasih Gelapku
Episode 31


__ADS_3

Happy Reading.


Nyonya Sofia menarik napas dalam-dalam, wanita paruh baya yang sudah terlihat begitu renta itu menipiskan bibirnya dan tersenyum.


"Tuan Zidane Alvares, atas dasar apa anda menginginkan cucu saya satu-satunya? Apakah karena dia sudah menjadi pembantu di rumah anda? Sejauh mana anda mengenal Alana?" tanya Nenek Sofia.


Zidane mengerutkan keningnya, ternyata selama ini nenek Sofia tahu semuanya tentang Alana? Lalu kenapa perempuan paruh baya itu tidak menolong keadaan sang cucu yang saat itu sangat terpuruk?


Bukankah dia punya kekuasaan untuk bisa membantu cucunya tersebut?


"Aku sudah tidak memiliki suatu hal yang bisa melindungi Alana, dia juga harus bisa berjuang sendiri merebut apa yang dia punya, jadi seperti itulah tuan Zidane, kalau anda begitu penasaran, aku sudah tidak muda lagi, seluruh kekayaan ku sudah ku wariskan pada Alana, sebelumnya aku sudah memberi peringatan pada cucuku itu tentang Victor, tapi dia sangat keras kepala dan bodoh, aku memang mempercayakan semua pada Victor, tapi kalau urusan perusahaan yang harus di serahkan jabatan pimpinan, aku tidak setuju, mungkin Alana tahu diri dan tidak berani meminta bantuan ku!" jelas Nenek Sofia.


Zidane kini paham kenapa Alana tidak meminta bantuan kepada neneknya yang sebenarnya bisa membantunya.


"Jangan pikir aku bisa membantunya, karena memang sekarang aku sudah tidak memiliki apa-apa, aku hanya ingin hidup dengan damai di hari-hari tuaku," lanjut Nenek Sofia.


"Lalu bagaimana dengan lamaran saya?" tanya Zidane.


Nenek Sofia meremas tongkat yang sejak tadi tidak lepas dari tangannya. "Kalau menurutku anda tidak pantas dengan cucu saya, tuan! Anda orang besar, tampan, kaya dan tentunya masih lajang. Alana hanya seorang janda, dia juga sama sekali tidak berpengalaman dalam urusan cinta, kalau menurutku sebaiknya anda pikirkan baik-baik, tuan Zidane!" jawab sang nenek membuat Zidane merasa sedikit tidak suka.


"Tapi saya mencintai Alana."


"Apakah Alana mencintaimu?" Zidane kesulitan untuk menjawab pertanyaan Nenek Sofia.


Tapi dia yakin kalau Alana juga sudah mulai bisa membuka hati untuknya.


"Ya, saya dan Alana saling mencintai!" Nenek Sofia menghela napas, sungguh sebenarnya dia sangat tidak ingin ikut campur untuk masalah percintaan cucunya itu.


Tapi kalau Alana bersama Zidane, apakah kehidupan nya bisa menjadi lebih baik, mengingat selama ini Nenek Sofia tahu siapa dalang di balik kebakaran 8 tahun yang lalu itu.

__ADS_1


Apa bukan suatu hal yang sangat berbahaya apabila Alana dan Zidane bersanding bersama?


"Apa kamu yakin bisa melindungi Alana? Apa kamu bisa membuat Alana bahagia?"


"Tentu saja, nek, aku bisa membahagiakan Alana dan melindunginya," jawab Zidane mantap dan percaya diri, bahkan sudah memanggil Nyonya Sofia dengan sebutan 'Nek'.


Nenek Sofia masih diam, dia hanya menerawang ke masa 8 tahun yang lalu, kecelakaan itu bukan hanya motif dendam, tapi juga karena ada urusan asmara di dalam sana yang membuat keluarga Alana harus menjadi korban dari semua itu.


"Ehm, sebenarnya saya ingin menanyakan sesuatu hal pada anda, Nyonya," ucap Zidane.


"Katakanlah."


"Alana adalah Valeria, kan?"


Deg!


"Siapa Valeria?"


Zidane tidak terkejut, karena dia sudah menyelidiki kasus keluar Arsavin dan Mcknight akhir-akhir ini.


"Tuan Fernando adalah putra kandung anda, Nyonya Sofia! dia memiliki seorang putri yang bernama Valeria Mcknight!"


####


Alana sedang berada di sebuah ruangan VIP di sebuah restoran Jepang yang terletak tidak jauh dari kantornya.


Dia sedang bertemu klien dan membicarakan tentang kerja sama dengan sebuah perusahaan besar dari kota New York.


Wanita itu tampak percaya diri, bersama dengan sekretaris nya yang akan melakukan presentasi di pertemuan kali ini.

__ADS_1


"Jadi, saya akan menjelaskan bagaimana perusahaan kami mengelola barang-barang yang akan di ekspor ke beberapa Negara-negara yang ada di Eropa, kalau perusahaan J. Weiner bisa menerima kerja sama ini, nanti kita akan memperoleh keuntungan dua kali lipat karena untuk masalah pengiriman sudah perusahaan kami siapkan," jelas Lisa. Sekretaris Alana yang baru.


"Bagaimana Tuan Jeff? apa tanggapan anda dengan presentasi sekretaris saya?" tanya Alana kepada CEO dari perusahaan J. Weiner tersebut.


"Saya masih mempelajari meeting ini, Nona Alana. Apa keputusan saya nanti, masih harus di pikirkan lebih matang," jawab Jeff.


Alana dan Lisa mengangguk. Ini adalah pengalaman pertama kali saat bernegosiasi dengan perusahaan di luar jalur. Alana ingin bisa mengembangkan potensi dan kemampuan nya untuk mengembangkan perusahaan.


"Tentu saja Tuan, kita akan menikmati makan siang terlebih dahulu, boleh sambil mempelajari berkas yang sudah saya siapkan," jawab Alana mempersilakan kedua pria yang ada di hadapannya ini untuk menikmati makanan yang baru saja datang di siapkan oleh pelayan.


"Saya di sini rencananya tiga hari, ehm bolehkah kita bertemu lagi setelah ini, maksud saya bertemu dengan keadaan yang lebih santai, Nona Alana?"


"Ehm, maksudnya?"


"Ya, nanti kita bertemu sambil membahas kerja sama ini, bisa di rumah anda, atau di hotel saya menginap?"


Alana dan Lisa saling berpandangan, Lisa mengedikkan bahunya karena tidak tahu harus menjawab apa.


Tiba-tiba ponsel Alana berdering, wanita itu mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan melihat siapa yang menelepon.


"Nenek?" gumam Alana.


"Saya keluar mengangkat telepon sebentar," ujar Alana memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan itu.


"Halo, nek, ada apa?"


"Alana, bisakah kamu pulang ke Mansion, nenek ingin bicara hal penting padamu!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2