Kekasih Gelapku

Kekasih Gelapku
Episode 37


__ADS_3

Happy Reading.


Zidane nampak membulatkan matanya ketika mendengar jawaban dari Alana, apakah dia tidak salah dengar? Alana mengatakan bahwa dia adalah sahabat nya saat SMA, apakah itu artinya Alana dalam keadaan benar-benar sembuh?


Zidane masih shok kala memahami ucapan wanita yang begitu ia cintai ini. Apakah dia tidak berhalusinasi? Apakah Alana benar-benar mengingat nya tanpa ada rasa sakit di kepalanya seperti yang sudah-sudah?


Biasanya Alana akan berteriak dan menarik rambutnya kala ingatan masa lalu itu datang, tapi saat ini Zidane melihat Alana tidak melakukan hal itu sama sekali.


"Alana, apa aku tidak salah dengar?" tanya Zidane kembali memastikan.


"Aku sudah ingat, Zidane, kita adalah sepasang kekasih saat SMA, dan sekarang kamu adalah calon suamiku, benar kan?" Zidane mengerjabkan matanya berulang-ulang, masih belum bisa mencerna kondisi ini.


"A-apa yang barusan kamu bilang? Apakah kamu mengingatku, Valeria?" kali ini Zidane mencoba memanggil Alana dengan namanya yang dulu.


Alana menghadapkan tubuhnya ke arah Zidane, menatap mata biru pria itu lekat. Seakan menyelami sebuah perasaan yang entah apa itu namanya, Alana tidak bisa menjabarkan, cinta, rindu, sedih, kecewa, entahlah apa itu. Tapi dia bisa melihat kilatan bahagia yang terpancar di mata biru yang sangat tidak asing untuknya.


Mata yang sama seperti dulu, mata yang memandangnya penuh cinta.

__ADS_1


Zidane memegang kedua bahu Alana dan sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah wanita itu.


"Apa kamu benar-benar ingat? tatap mataku dalam-dalam sayang?" Alana melakukan apa yang diperintahkan oleh Zidane.


Dia masih terus menatap mata biru tersebut, bayang-bayang akan kebersamaan mereka saat masih SMA terlintas begitu saja di pikiran Alana. Masa-masa remaja yang sangat bahagia dan penuh cinta.


Ya, sepertinya selama seminggu ini Alana berusaha berdamai dengan perasaannya, dua hari yang lalu dia memulihkan seluruh kepingan-kepingan puzzle yang tercecer di kepalanya. Alana bahkan sudah bisa mengingat dengan jelas kejadian peristiwa delapan tahun lalu di mana kejadian mencekam itu dia lalui. Sesuatu hal terburuk yang terjadi dalam hidupnya, Alana berusaha untuk mengiklaskan kepergian sang Ibu dan Ayahnya di mana di waktu itu terlihat begitu menderita.


"Aku sudah ingat semuanya, Zidane, ingatanku kembali dan aku sedang berusaha membuat semua kewarasan ku berkumpul jadi satu," ucap Alana masih memandang Zidane.


"Terima kasih, sayang! Terima kasih telah mengingat ku kembali!"


Puas agar rasa ketakutan dan bersalah nya selama ini ternyata tidak ada apa-apanya di banding dengan rasa bahagia yang saat ini telah memasuki relung hatinya.


Alana sedikit kewalahan menghadapi ciuman brutal Zidane yang menyerangnya dengan tiba-tiba itu, tapi setelah beberapa saat ciuman itu berubah menjadi sedikit lembut dan menuntun. Hisapan dan pagutan itu benar-benar membuat kedua menusia yang sedang di kuasai oleh perasaan yang tidak menentu itu sama sekali tidak sadar bahwa mereka sedang berada di rumah sakit.


"Eummmh...!" Zidane melepaskan ciumannya ketika Alana sudah kehabisan nafas. Menjeda sejenak kemudian pria itu kembali menyerang bibir Alana sambil membawa wanita itu duduk di atas sofa.

__ADS_1


Zidane mendudukkan Alana di atas pangkuannya tanpa melepaskan tautan mereka. Tangannya bergerak mengelus punggung wanitanya itu, Alana juga tidak mau kalah, tangannya menyusup ke sela-sela rambut coklat Zidane dan meremasnya perlahan seiring dengan bertukar nya saliva hingga berbunyi khas orang ciuman.


"Kakak...! Ya Tuhan! Maaf aku tidak lihat apa-apa, kok!" Zidane dan Alana langsung saling melepaskan diri ketika mendengar suara seorang gadis masuk ke dalam kamar rawat Alana.


Zidane menatap malas ke arah sang adik yang masih memunggunginya di depan pintu.


"Carrol!!"


"Aku gak lihat apa-apa, kak! Suer deh!" teriak Caroline masih menghadap ke belakang.


Alana yang merasa tidak enak pada Adik Zidane itu karena kepergok sedang ciuman dengan kakaknya akhirnya menghampiri gadis berusia 19 tahun tersebut.


"Caroline, masuklah," ujar Alana menyentuh bahu gadis cantik tersebut.


"Kak Alana udah sembuh?" Alana mengangguk dan tersenyum.


Zidane merengut kesal karena merasa kedatangan sang adik saat ini benar-benar tidak tepat. Padahal Caroline datang membawakan bekal sarapan untuk sang kakak.

__ADS_1


"Dasar pengganggu!"


Bersambung.


__ADS_2