Kekasih Gelapku

Kekasih Gelapku
Episode 63


__ADS_3

HAPPY READING


Zack merasa gelisah karena memikirkan Caroline yang hilang bak di telan bumi, sejak tadi dia hanya melihat ponsel dan nama Carol di layar, berharap ada balasan dari gadis tersebut. Tapi nyatanya tidak ada balasan sama sekali, bahkan sepertinya nomer Carol belum aktif sampai sekarang.


"Ada apa dengan gadis itu? kenapa dia begitu mengacaukan pikiran ku, huft!! dengan seenaknya mengajakku berpura-pura menjadi kekasih nya dan sekarang menghilang gak ada kabar sama sekali." Gerutu Zack.


Dia melihat undangan yang di berikan oleh sekretaris Alana yang tergeletak di atas meja. Sepertinya dia harus menunggu pernikahan akbar itu agar bisa bertemu dengan Caroline.


"Hahaha, aku tidak menyangka bisa memikirkan Caroline seperti ini, padahal sebelumnya tidak pernah begini dengan seorang perempuan manapun!"


Zack mengabaikan perasaan nya dan akhirnya melangkah keluar kamar.


❤️❤️❤️


Zidane melepaskan dasinya ketika masuk ke dalam kamarnya, malam ini dia pulang sedikit larut akibat pekerjaan yang harus ia selesaikan hari itu juga.


Waktu menunjukkan pukul 10 malam, Zidane ingin sekali menghubungi Alana tapi dia tahu kalau Alana pasti sedang istirahat.


Menyiapkan pernikahan ternyata memang mudah, tapi mental dan fisik untuk melangkah ke pelaminan ternyata membutuhkan kekuatan yang ekstra. Yah, harus Zidane akui kekuatan fisik harus benar-benar ia jaga, dia dan Alana harus bugar dan sehat di saat seperti ini.


Tok, tok, tok!


Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Siapa malam-malam begini yang mengetuk pintu kamarnya?


Tok, tok, tok!


Kali ini ketukan pintu terdengar sedikit keras, Zidane akhirnya melangkah ke arah pintu dan membukanya.


"Carol? Kamu belum tidur? Ada apa?" tanya Zidane menatap sang adik yang sedang tersenyum nyengir di depannya.


"Anu, itu aku gak bisa tidur, seharian ini aku udah tidur terus, jadi sekarang udah gak ngantuk," jawab Caroline.


Zidane menyentuh kening Caroline. "Demam kamu udah turun? Apa masih merasa pusing?" Caroline menggeleng cepat.


"Aku udah sembuh, kak! Mama aja tuh yang terlalu berlebihan, aku cuma demam biasa, istirahat sehari dan minum obat juga udah cukup!" jawab Caroline bersedekap dada.


"Terus kamu ke kamar kakak mau apa?" tanya Zidane akhirnya, karena dia merasa ada sesuatu yang ingin adiknya itu sampaikan.

__ADS_1


"Oh iya, aku hampir lupa! Hehe," Zidane menggelengkan kepalanya melihat tingkah Caroline itu.


"Apa? Pasti ada sesuatu dan ada maunya," ujar Zidane membuka pintu kamarnya lebar, menyuruh Caroline masuk untuk bicara.


Zidane memang dekat dengan adiknya itu, sedari kecil Carol selalu menceritakan apapun kejadian yang di laluinya kepada Zidane.


Caroline menganggap kakaknya itu sebagai sahabat dan tempat curhat, tidak ada sesuatu yang tidak Zidane tahu darinya, maka dari itu Carol akan selalu mencari Zidane dari pada Mamanya untuk bercerita masalah besar maupun kecil yang sedang ia hadapi.


"Ehm,, Mama menyita ponselku,, padahal aku sedang sangat membutuhkan nya, apakah kakak bisa membantu ku membujuk Mama untuk mengembalikan ponsel ku?" ujar Caroline penuh harap.


Zidane memegang kepala Caroline dan mengusap rambutnya kebelakang. "Memang nya apa yang ingin kamu cari di ponselmu? Apakah itu hal penting?"


"Tentu, ada hal penting, aku harus menghubungi seseorang," jawab Caroline semangat.


Zidane memicingkan matanya. "Siapa yang ingin kamu hubungi?"


Caroline bingung di tanya seperti itu, apakah dia harus menjawab jujur kalau ia ingin sekali menghubungi Zack. Tapi kalau Zidane tanya lagi untu apa? Apakah dia bisa beralasan dengan masalah yang menimpa dosennya itu?


Ah, bukankah semua masalah itu sudah di urus oleh anak buah kak Zidane? Batin Caroline.


"Ah, iya kak!" Caroline tersentak karena Zidane tiba-tiba mengagetkan lamunannya.


"Memangnya siapa yang ingin kamu hubungi? Apakah sepenting itu hingga membuat mu mencariku ke kamar dan menyuruhku untuk mengambil ponsel yang sudah di sita Mama?"


Caroline menghela napas dalam-dalam, sepertinya dia memang tidak bisa berbohong kepada sang kakak, Caroline juga tidak terbiasa melakukan hal itu karena berbohong sangat di hindari di keluarga ini.


"Ehm, aku ingin menghubungi Mr. Zack, ada sesuatu yang harus ku sampaikan padanya, kak," jawab Caroline akhirnya.


Zidane sudah menduga bahwa adiknya ini memikirkan dosen tersebut. Apakah Carol telah jatuh cinta pada Zack? Batin Zidane.


"Tapi Mama sudah tidur, bagaimana kalau besok saja, aku akan berbicara pada Mama bahwa kamu sangat membutuhkan ponsel itu," ucap Zidane membuat mata Caroline langsung memeluk sang kakak.


"Aah, terima kasih, kak!!" Zidane tersenyum penuh arti.


Melihat sang adik tersenyum lebar dan bahagia seperti ini, Zidane benar-benar merasa senang.


Caroline sejak dulu memang tidak pernah melakukan hal-hal di luar batas, misalnya mabuk-mabukan ataupun bergonta ganti pacar. Main bersama teman juga telah berkurang setelah dia kuliah. Zidane sangat melindungi sang adik, tapi semenjak kuliah Caroline memang sedikit di bebaskan tapi masih tetap dalam pengawasan.

__ADS_1


"Ehm, kalau kamu malam ini memang sangat merindukan tuan dosenmu itu, bagaimana kalau kamu hubungi dia lewat ponselku?" ujar Zidane memberi tawaran.


Caroline sedikit terkejut dengan tawaran yang di berikan oleh sang kakak. Tapi apa tadi yang Zidane katakan? Merindukan Zack? Apakah Carol memang merindukan dosen itu?


Carol mengerjapkan matanya, masih mencerna pikiran nya sendiri, entah kenapa tiba-tiba beberapa hari ini dia begitu ingin menghubungi pria itu, mungkin karena efek sakit dan Mama melarangnya untuk keluar rumah sampai pernikahan sang kakak tiba.


"Bagaimana?" tawar Zidane kembali.


Caroline menggeleng pelan, dia takut kalau kakak nya berpikir macam-macam terhadapnya, lebih tepatnya mengir Carol merindukan Zack.


"Tidak usah kak, besok aja sekalian memakai ponsel ku sendiri, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku, maaf udah ganggu waktu kakak, selamat malam," Caroline segera keluar dari dalam kamar Zidane.


Membuat pria itu mendesah kasar, melihat raut wajah Caroline yang memerah saat mengatakan bahwa dia merindukan Zack tentu saja Zidane paham bahwa Caroline memang sedang dalam pubertas.


Ck, seperti tidak pernah muda saja, apakah ia harus melarang Caroline untuk jatuh cinta? Tentu saja tidak, kan? Karena setiap anak manusia pasti akan mengalami masa itu.


###


Lily merasa kesal karena malam ini Austin mengabaikan nya lagi dan lebih memilih pulang ke rumahnya. Alasan Austin adalah sedang sibuk dan tidak bisa di tinggalkan. Tapi entah kenapa Lily tidak bisa percaya begitu saja.


'Bagaimana kalau perasaan Austin terhadap istrinya kembali lagi? Tidak, ini semua tidak bisa di biarkan begitu saja, Austin tidak boleh mencintai Ave lagi,' batin Lily.


Rasanya sudah tidak tahan saat melihat Austin yang mengabaikan nya.


'Aku harus memastikan Austin saat ini tidak bersama dengan Ave, ya aku yakin Austin memang sedang banyak pekerjaan,'


Wanita itu menghubungi nomer Austin hanya untuk memastikan.


Tuuttt ..... Tuuttt ... Tuutt!


"Halo?"


Lily terkejut saat mendengar suara perempuan di seberang telepon.


'Tidak, itu tidak mungkin! Austin tidak sedang bersama dengan istrinya, bukan?'


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2