
Happy Reading.
Zidane sedari tadi mendengus kesal, membuang muka ke segala arah agar tidak tidak membuatnya semakin emosi jiwa.
Setelah tadi Caroline yang menggangu, kali ini dokter dan perawat yang setiap pagi me-ngecek keadaan Alana juga datang untuk memeriksa. Padahal Zidane masih ingin meneruskan kegiatannya karena masih sangat rindu dengan wanita itu. Wanita sama yang sejak dulu telah menetap di hatinya.
Zidane tentunya sangat bersyukur saat melihat Alana yang kini sembuh dan kembali mengingat semua sama lalu dengannya. Zidane kali ini tidak akan membiarkan Alana tersakiti, siapapun itu orang yang akan menyakiti wanitanya, Zidane akan pastikan kalau orang itu hancur berkeping-keping.
"Perkembangan Nona Alana sangat bagus, kami juga tidak menyangka dengan hasil ini, di sini Nona Alana juga berusaha agar bisa mengendalikan dirinya sendiri, saya sangat salut, dan kalau setelah ini Nona Alana sudah bisa mengingat semuanya tanpa rasa trauma dan tertekan, bisa di pastikan beberapa hari ke depan sudah bisa pulang," jelas dokter spesialis tersebut.
"Terima kasih, dokter, mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar, dan saya pastikan Alana akan semakin membaik," jawab Zidane mengelus punggung tangan Alana dan dia setia berdiri di samping wanita itu ketika pemeriksaan berlangsung.
"Baik Tuan Zidane, kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter itu yang seakan tahu kalau Zidane tengah mengusir nya. Yah, tentu saja dari tatapan mata Zidane.
'Duh, tuan Zidane dalam mode kesal,' batin dokter tersebut.
"Carol, kamu bawa apa?" tanya Alana yang melihat Caroline berada di ambang pintu kamar rawatnya karena dia baru bisa masuk setelah dokter yang memeriksa Alana keluar.
"Ini makanan buat kak Alana sama kak Zidane," jawab gadis cantik tersebut.
__ADS_1
Alana mengajak masuk Caroline ke dalam kamar rawatnya, bahkan sekarang mereka sedang asyik mengupas buah jeruk yang tadi di bawa Carol.
"Ini manis kak, cobain deh, Aaaaakkk.....!" Alana membuka mulutnya untuk menerima suapan dari adik satu-satunya Zidane itu.
"Eh, iya, manis banget, punyaku juga manis, tapi ternyata tidak semanis jeruk yang kamu kupas," Alana memperlihatkan jeruknya pada Carol dan di ambil oleh gadis cantik tersebut.
"Eemm, iya ini sedikit asam, kakak makan yang ini saja," tunjuk Caroline pada jeruk yang tadi ia kupas.
Alana dan Caroline asyik memakan buah-buahan setelah mereka sarapan, sedangkan Zidane bagaikan obat nyamuk yang tidak di anggap di sana.
"Alana, jangan banyak-banyak makan buah Asam!" ucap Zidane.
"Yang ini manis kok, kamu mau?" mata Zidane langsung berbinar ketika Alana menyuapinya buah jeruk itu. "Manis, kan?" Zidane mengangguk dan membuka mulutnya lagi meminta di suapi.
"Awww! Kakak!! Sakit tau!" seru Caroline mengusap keningnya yang mendapatkan sentilan dari tangan Zidane.
Alana hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakak beradik itu, karena memang bukan kali ini dia melihat Zidane dan Caroline berseteru. Dulu saat masih bekerja di rumah Zidane, dia juga sudah biasa melihatnya.
"Carol, apa kamu gak ada jadwal kuliah?" Caroline menatap Zidane dan mengangguk.
__ADS_1
"Ada, tapi nanti jam 1 siang, sekarang aku lagi kosong, makanya gantiin Mama ke sini buat jenguk Kak Carol dan bawain makanan, Kakak sendiri kenapa gak pulang? Mandi terus ganti baju, Papa udah ke kantor dari tadi, kak Zidane juga udah beberapa hari gak ke kantor, kan?" Alana menatap Zidane dengan mengerut kan keningnya.
"Kenapa kamu gak ke kantor, Zidane?" tanya Alana penasaran.
Apakah pria itu selama ini selalu menemani nya di rumah sakit? Bukankah Zidane itu pria yang sangat bekerja keras dan tidak akan pernah bolos kerja kalau tidak sedang ada halangan.
"Meskipun gak ke kantor tapi aku juga kerja kok, cuma memeriksa email-email aja, Samuel udah handle semuanya," jawab Zidane.
"Jadi bener kalau selama aku di rawat, kamu di sini dan gak masuk kantor?" Zidane mengangguk.
"Aku ingin selalu ada di sisi kamu, Alana, aku merasa sangat bersalah karena membuat kamu masuk rumah sakit," jawab Zidane penuh penyesalan.
"Ya, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, sebaiknya kamu pulang dulu, ada Caroline disini yang menemaniku," ujar Alana.
"Iya, sana kakak pulang aja, nanti gantian sama Mama, mama juga mau ke sini setelah dari toko kuenya," Caroline ikut memaksa.
"Nanti saja deh, aku masih mau ngobrol sama Alana, masih kangen, kamu malah datang, kan jadi gak selesai kangennya," jawab Zidane.
Caroline memutar bola matanya malas. "Bilang aja kalau mau nerusin kegiatan kalian yang tadi!" Alana dan Zidane saling melotot.
__ADS_1
"Tadi katanya siapa yang gak lihat!" Zidane menarik telinga adiknya gemas.
Bersambung.