
Happy Reading.
Alana merasa tangannya sudah terasa kebas sejak tadi karena genggaman Zidane yang begitu kuat tidak lepas dari tangan nya. Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil sedang dalam perjalanan ke tempat sahabat Zidane yang mendesain cincin pernikahan untuk mereka. Di antarkan sopir kantor yang saat ini tidak bisa fokus karena melihat pemandangan di dibelakangnya tersebut.
"Zidane, tanganku sudah berkeringat, bisa gak kamu lepasin dulu," ujar Alana. Sedikit menarik tangannya agar Zidane memberikan ruang untuk telapak tangannya yang sudah basah.
"Maaf, sayang, aku tidak akan melepaskan nya sebelum kamu memanggil ku dengan panggilan 'sayang' sejak kemarin kamu selalu memanggil ku dengan panggilan Zidane, Zidane dan Zidane!" Alana melongo mendengar jawaban dari pria yang usianya setahun lebih tua darinya itu.
'Duh, kenapa jadi posesif banget, sih!'
"Ehm,, baiklah Zee, tolong lepaskan tanganku, please!" Alana memohon dengan menampilkan puppy eyes nya.
Kalau sudah seperti ini Zidane pasti akan luluh, dia mencium punggung tangan Alana dan melepaskan nya.
"Aku gak mau kamu lari dariku lagi, aku gak mau kamu pergi ninggalin aku, jadi mulai sekarang aku akan sering genggam tanganmu seperti tadi, itu juga hukuman buatmu karena udah melupakan ku selama bertahun-tahun!" Astaga, Alana semakin tidak bisa percaya bahwa pria yang ada di sampingnya ini adalah Zidane.
Seorang CEO yang terkenal dengan sikap disiplin, dingin dan juga berwatak kejam, bisa merajuk hanya karena masalah yang tidak seharusnya di ungkit lagi. Apakah Zidane kemasukan setan rumah sakit pada saat menjaga Alana?
"Zee, kamu tahu gak kalau aku suka bunga mawar peach?" tanya Alana mengalihkan perhatian.
Zidane menatap wajah cantik Alana yang setiap hari semakin cantik bagi Zidane dengan senyuman yang merekah.
"Jadi kamu sudah ingat sekarang, sayang? Kamu suka banget sama mawar warna peach tapi membenci mawae merah, padahal mereka semua adalah mawar dari jenis yang sama," jawab Zidane menyelipkan rambut Alana di belakang telinga wanita itu.
__ADS_1
"Hem,, betul sekali, aku ingin nanti konsep pernikahan kita harus warna peach dan banyak mawar warna itu di setiap sudut nya," ucap Alana.
Zidane tersenyum dan menangkup wajah Alana. "Tentu saja semua itu sudah aku pikirkan, sayang, awalnya aku memang memilih konsep warna peach karena warna itu adalah warna kesukaan mu dulu, berharap kamu bisa mengingat semuanya, tapi ternyata kamu sudah ingat dan nanti aku akan membawamu ke tempat Diana untuk melihat desain party wedding yang kamu impikan, sayang," ujar Zidane memajukan wajahnya ingin mencium Alana.
Tapi wanita itu langsung memberi kode bahwa di dalam mobil bukan hanya ada mereka berdua, tapi masih ada sopir yang mungkin sejak tadi mendengar kan ucapan mereka.
"Eghem! Roy sebaiknya kamu fokus ke jalan di depan," titah Zidane pada sopirnya.
"Baik tuan," jawab Roy patuh.
Meskipun Zidane tidak memerintahkan nya, tentu saja Roy tidak mungkin terang-terangan menyaksikan kemesraan kedua sejoli itu bukan.
Zidane berucap seperti itu hanya agar Alana merasa tidak perlu khawatir lagi kalau kegiatan mereka nanti ada yang melihat dan Alana tidak malu. Perlahan Zidane menyentuh kedua pipi wanita itu dan langsung mencium nya dengan intens.
Caroline masih berada di balik dinding toilet yang memang sangat sepi itu dan mendengarkan percakapan antara dua dosennya.
Sepertinya ini akan menjadi berita penting abad ini, mengenai perselingkuhan kedua dosen idola di kampusnya.
'Wah, Mr. Zack dan Mrs. Ave kartu As mu ada padaku!' batin Caroline.
Entah kartu As buat apa, yang jelas dia akan merekam aktivitas kedua orang berbeda jenis kelamin itu.
'Mungkin bisa jadi bukti untuk Kak Austin yang telah di khianati oleh istri cantiknya, hehe!'
__ADS_1
Caroline mengambil ponselnya dan siap mengarahkan kamera itu kebalik tembok toilet.
Masih terdengar isak tangis Mrs. Ave dan suara Mr. Zack yang menenangkan kekasih gelapnya itu.
"Ave, kita harus berhenti, oke! Aku tidak mau melanjutkan hubungan ini, kita sudah menyalahi aturan!"
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku cinta sama kamu, aku akan minta cerai sama Austin, aku gak mau kita pisah!"
Caroline mencoba memberanikan diri untuk melihat langsung dengan cara mengintip di balik tembok itu. Mata gadis itu membulat sempurna kala melihat pemandangan di hadapannya. Mrs. Ave menarik tengkuk Mr. Zack dan langsung mencium bibir pria itu.
Astaga! Caroline langsung menyembunyikan tubuhnya kembali dan segera berlari ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi dengan sangat keras.
Zack dan Ave yang mendengar bunyi ponsel itu langsung menghentikan aktivitas ciuman mereka. Wajah Ave langsung pucat karena ketakutan, sekarang sudah ada yang melihat hubungan mereka. Zack sendiri langsung berlari mengejar siapa orang yang telah iseng mengintip kegiatan mereka itu.
'Aku harus kabur! Oh tidak!! Zack mengejarku!!' batin Caroline terus berlari sambil menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Zack melihat tubuh seorang perempuan yang berbalik keluar dari gedung tersebut. Pria itu masih terus mengejarnya. Caroline terus berlari dan tidak melihat apa pun di depannya. Bahkan dia menabrak orang sampai tersungkur.
"Maaf, maaf, aku sedang terburu-buru!" gadis itu terus berlari menuju mobilnya dan masuk ke dalam. Heh, untung dia selalu membawa tasnya kemana-mana dan kunci mobil pun berhasil dia ambil dari dalam tas.
Zack sendiri masih terengah-engah ketika melihat mobil berwarna putih itu melaju meninggalkan pelataran parkiran kampus.
"I got you,,,! gadis yang menarik!"
__ADS_1
Bersambung