Kekasih Gelapku

Kekasih Gelapku
Episode 59


__ADS_3

HAPPY READING


Alana, Zidane, Caroline dan Zack sudah berkumpul di rumah Alana setelah memutuskan untuk mengakhiri acara makan malam mereka yang penuh dengan kejutan.


Ketegangan menyelimuti Zack ketika Caroline sudah menceritakan semuanya yang dia tahu tentang Austin dan Lily yang merencanakan sesuatu untuk Zack.


"Kami tidak akan memaksamu untuk bercerita tentang masalahmu dengan Austin, aku benar-benar tidak tahu apa yang membuat Austin bisa sangat membencimu, tapi yang jelas kamu harus lebih hati-hati setelah ini, sepertinya mendengar cerita dari Caroline, Austin sudah menyiapkan kartu emas untuk membuat nama baikmu dan Ave hancur!" ucap Alana.


Zack mengusap wajahnya frustasi, dia tidak mengira bahwa selama ini Austin sudah mengetahui semuanya perihal hubungannya dengan Ave, entah kenapa dia merasa benar-benar begitu bodoh. Dia yang awalnya mengira telah jahat dengan Austin karena telah mengkhianati sahabatnya sendiri, ternyata orang itu lebih dulu mengkhianati istrinya sendiri.


Bahkan dengan teganya akan menjadikan perselingkuhan nya dengan Ave sebagai ajang balas dendam.


Zack beranjak dari duduknya. "Kamu mau kemana!" Zidane menghentikan langkah pria itu.


"Aku harus menemui Austin dan membicarakan masalah ini, aku akan mengakui di hadapannya bahwa aku memang memiliki hubungan dengan istrinya, tapi aku bersumpah tidak pernah melakukan hubungan melampaui batas! jadi kalau memang dia juga berselingkuh, Ave harus tahu hal ini!" jawab Zack menggebu.


"Jangan gegabah, Zack! Kalau kamu melakukan hal itu sekarang, pasti semuanya akan menjadi lebih rumit!" sela Alana.


"Lalu apakah aku harus diam saja? tentu saja aku tidak akan tinggal diam!" Zack kembali melangkah, namun suara Carol membuatnya berhenti.


"Huh, seharusnya aku tidak perlu berbaik hati mengurusi urusan mu, aku juga tidak mau susah-susah memberitahu semua ini dan mengajakmu pura-pura menjadi kekasih! Lagi pula kamu tidak memiliki bukti perselingkuhan Austin dan Lily, bukan?" Zack membalikkan tubuhnya menatap Caroline.


"Lalu aku harus bagaimana?" desah Zack pasrah.


"Tenang saja, kak Zidane sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki kasus ini, sebenarnya semua ini bukan urusan kami, tapi karena rasa perikemanusiaan yang tinggi, aku meminta tolong pada kakakku yang hebat ini untuk mengurus segalanya," jawab Carol.


Zack menatap Zidane dan mengucapkan banyak terima kasih, mungkin dia harus berdiam diri dulu agar semua rencana yang sudah di jalankan oleh Carol dan Zidane berjalan lebih lancar.


"Baiklah, sudah malam, aku akan menyuruh Samuel untuk mengantarkan mu pulang," ucap Zidane pada Zack.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," jawab Zack.


"Eh, bareng aku aja gak apa-apa, tadikan aku yang udah jemput mister," ucap Carol yang juga bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu memaksa tidak mungkin kan ku tolak!"


"Ya, ya, aku memang memaksa! Baiklah, kak Alana, Carol pamit pulang dulu, dan kak Zidane, apakah kamu tidak akan pulang?" tanya Caroline melihat kakaknya yang masih duduk di samping Alana dengan merangkul bahu calon istrinya itu.


"Malam ini aku akan menginap di sini, jadi sebaiknya kamu cepat pulang, Samuel sudah aku cansel jadi dia juga sudah beristirahat sekarang," jawab Zidane.


"Eh, siapa yang mengizinkan mu menginap lagi? Malam ini tidak boleh menginap!" seru Alana menatap Zidane.


"Loh, kenapa tidak boleh? Pokoknya aku akan menginap," ujar Zidane mengekori Alana yang sudah meninggalkan sofa menuju lantai atas.


"Tidak, tidak, tidak, Zidane! Jangan seperti anak kecil! Malu ada Carol dan Zack!!" Zidane tidak menghiraukan ucapan Alana, pria itu malah menggendong Alana seperti membawa karung beras dan langsung naik ke lantai atas.


"Ayo mister, apa kamu juga akan menginap di sini?" Zack terkejut saat Carol memukul pundaknya.


"Eh, tidak, aku ikut pulang denganmu, tunggu Carol!"


Akhirnya malam itu Zack yang mengemudikan mobilnya Carol menuju apartemennya. Setelah menempuh perjalanan dua puluh lima menit akhirnya mereka sampai di lobi apartemen.


Caroline menggeleng pelan. "Tidak usah mister, aku harus cepat-cepat pulang, lain kali saja aku mampir." Zack mengangguk.


"Baiklah kalau begitu aku masuk dulu, terima kasih untuk malam ini, tanpa ada kamu pasti aku tidak akan tahu apa-apa," ucap Zack membuka pintu mobil.


"Tapi mister harus janji bikinin aku capuccino yang enak, ya!" seru Caroline saat Zack sudah berada di luar mobilnya.


"Sipp!" Zack mengacungkan dua jempolnya.


Di sisi lain!


Brakk!!


Lily menutup matanya saat melihat Austin membanting vas bunga di ruang tamu apartemennya. Entah kenapa Austin uring-uringan tidak jelas setelah pulang dari makan malam bersama Alana dan Zidane.


Melihat Zack yang bisa tersenyum bahagia bersama adik Zidane rasanya membuat Austin ingin menghajar pria itu. Tentu saja Austin sangat tidak suka melihat Zack tertawa di atas penderitaannya.

__ADS_1


"Aaaggrrhhhh!!"


"Austin!! Apa yang kamu lakukan!" Lily mencegah Austin yang akan melempar asbak ke arah televisi di ruangan itu, Lily tidak menyangka pria ini menjadi begitu menakutkan, padahal selama ini Austin selalu bersikap baik kepadanya.


"Aku akan menghancurkan Zack dan Desy seperti mereka menghancurkan ku dan Mama, mereka sudah membunuh Mamaku dan tunangan ku, dan aku tidak akan pernah membuat kedua orang itu hidup dengan damai dan tenang!" seru Austin dengan mata yang memerah.


Lily benar-benar tidak mengenali Austin, pria itu terlihat seperti orang lain, sampai Lily sendiri begitu takut saat mata merah itu menatapnya dengan tatapan yang tajam menusuk.


"Oke, tenang sayang, kamu harus tenang, kalau kamu ingin membalas dendam pada Zack, jangan emosi seperti ini, kamu harus mulai membuka aib mereka, bukankah kamu masih memiliki bukti-bukti," ujar Lily mencoba menenangkan Austin.


Mendengar ucapan Lily membuat Austin bisa sedikit menenangkan dirinya dari emosi yang sempat memuncak. Menarik rambutnya kebelakang dengan kasar dan mendesah frustrasi, Austin tiba-tiba berdiri dan mengambil jas serta kunci mobilnya yang berada di atas meja.


"Austin! Kamu mau kemana?" Lily mengejar pria tersebut. Austin tiba-tiba melangkah dengan tergesa mendekati pintu keluar.


"Aku harus pulang, Lily."


"Kenapa kamu pulang? Apa kamu tidak menginap lagi di sini?"


"Aku harus mencari bukti-bukti perselingkuhan Zack dan Ave yang masih ada di ruang kerja, aku harus mempersiapkan semuanya," jawab Austin membuka pintu.


"Baiklah, aku berharap kamu juga segera menceraikan istrimu, sayang, sampai kapan kamu hanya akan menjadikanku kekasih gelap? Aku ingin di akui di depan umum dan semua orang tahu kalau aku adalah istrimu, kapan kamu segera menikahi ku?"


Austin membalikkan tubuhnya dan memegang kedua bahu Lily. "Aku akan menikahimu kalau aku aku dan Ave sudah resmi bercerai, saat ini dia masih menjadi alatku untuk balas dendam kepada Zack, tapi sekarang aku tidak tahu apakah hubungan mereka sudah berakhir atau belum, melihat Zack yang mempublikasikan hubungan nya dengan Caroline aku jadi merasa kesal karena bisa saja hubungan Ave dan Zack memang sudah kandas!"


Lily mendekati Austin dan mencium bibirnya sekilas. "Kamu tenang saja , sayang, meskipun mereka sudah putus tapi tetap saja skandal perselingkuhan mereka akan menjadi berita panas, bahkan mereka bisa di keluarkan dari kampus dengan tidak hormat, yah, skandal mereka pasti akan menjatuhkan kehormatan kampus!"


Bersambung.


Hai akak reader semuanya, aku mau promosi novel sahabat ku yang berjudul : Akhir Pernikahan Dini


Nama pena : Covievy


__ADS_1


__ADS_2