
Hai akak2 reader semuanya 🥰
Maaf kemarin sempat hiatus selama seminggu. Othor harus nulis crazy di novel satunya dan juga banyak pekerjaan di real life.
Jangan bosan nunggu up-nya Alana dan Zidane ya, pasti bakal sampai end kok.
Happy Reading.
Alana sangat terkejut ketika mendengar perkataan neneknya mengenai Zidane, apalagi tentang Zidane yang ingin menjadikan seorang istri.
'Zidane melamar ku lewat nenek?' batin Alana terkaget-kaget.
Tidak menyangka bahwa Zidane melakukan hal itu sejauh ini, bahkan pria itu sama sekali tidak memberitahunya perihal lamaran ini.
Alana hanya bisa menunduk, kedua tangannya saling meremas, dia tidak ingin nenek kecewa lagi terhadap nya seperti saat ia memilih Victor yang saat itu hubungan nya sangat di tentang oleh sang nenek.
Wanita itu gelisah, dia takut kalau neneknya tidak merestui kembali hubungan nya dengan Zidane seandainya Alana bicara sejujurnya bahwa dia memang menyukai pria itu.
Nenek Sofia mengambil cangkir yang berisi teh tawar hangat di atas meja di depannya. Kemudian meminum teh tersebut sebelum menatap sang cucu.
"Alana sudah saatnya kamu membuka hatimu kembali, nak. Nenek tidak tahu bagaimana perasaan mu pada Zidane, tapi menurut nenek, pria itu sangat serius, aku tahu kalau kamu masih merasa bersalah karena Victor, tapi kali ini bisa nenek jamin kalau Zidane pria yang berbeda, dia bukan dari kalangan orang biasa," ujar nenek.
Alana melotot kan matanya tidak percaya dengan apa yang telah di ucapkan nenek padanya. Apakah nenek sudah tahu siapa Zidane? Kenapa nenek begitu saja merestui hubungannya dengan Zidane?
__ADS_1
"Jadi nenek menerima lamaran Zidane?" tanya Alana memastikan sekali lagi.
"Iya, Nak, nenek melihat binar di matamu saat menyebutkan nama Zidane, sepertinya kamu sudah mulai membuka hati mu kembali," Alana bersemu malu karena ketahuan.
"Alana hanya berpikir kalau nenek akan marah sama Alana kalau berhubungan dengan pria kembali, kesalahan Alana sangat fatal saat Alana hampir kehilangan perusahaan dan juga harta warisan yang nenek berikan, jadi aku merasa belum siap kalau harus menikah kembali," jawab Alana.
Nenek Sofia tersenyum, tentu saja dia sempat murka dengan berita tersebut. Tapi nenek tahu kalau Alana pasti bisa mengatasi semuanya.
"Kalau soal itu kamu bicarakan dengan Zidane, kalian berdua yang menjalani, jadi sebaiknya semuanya harus segera di bicarakan, apakah Zidane benar-benar bisa membuatmu bahagia atau sebaliknya," jawab Nenek Sofia.
###
Alana membuka berkas-berkas yang akan dia pelajari untuk kepentingan rapat nanti, dia harus bisa membuat para investor merasa senang dengan bekerja sama dengan perusahaan nya.
Setelah kemarin Alana berkunjung ke rumah sang nenek dan mendapatkan kabar bahwa Zidane telah melamar nya, Alana langsung pulang dengan pikiran yang berkecamuk.
Tapi dia juga tidak memutuskan untuk menghubungi Zidane setelah itu. Entahlah, rasanya masih tidak percaya dan Alana belum siap jika harus mempunyai hubungan baru yang lebih serius.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, Alana tidak mendengar orang yang mengetuk pintu sebelumnya, tapi sepertinya ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Siang Alana, apakah aku mengganggumu?" Alana langsung mendongak ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinga nya.
"Heh, tuan, apakah anda tidak punya sopan santun, kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" ucap Alana menatap pria yang sedang berjalan ke arah meja kerjanya sambil membawa buket bunga yang sedikit besar.
__ADS_1
Alana tertawa karena wajah dari pria itu tidak kelihatan. "Ini untukmu," pria tersebut menyodorkan buket bunga tulip putih pada Alana.
"Terima kasih, tuan, apa anda lupa kalau saya alergi bunga?" Alana mengambil bunga tersebut dan berusaha menghirup aroma yang terbuat dari parfum.
"Makanya aku membawakan mu bunga palsu dan bukan bunga asli," jawab pria yang tidak lain adalah Zidane.
Pria itu langsung membawa Alana ke dalam pelukannya, mencium pucuk rambut wanita yang sangat ia rindukan itu.
"Kamu tahu, aku sangat merindukanmu, Alana, apakah kamu mau ikut aku keluar?" Alana melepaskan pelukannya dan menatap Zidane dengan kedua alisnya terangkat.
"Kemana?"
"Membeli cincin untuk pertunangan kita," jawab Zidane.
Alana sedikit terkejut, tapi kemudian dia mengangguk, sepertinya dia sudah merasa sangat nyaman jika bersama dengan pria tersebut meskipun hatinya mengingkari.
Zidane langsung menggenggam tangan Alana. "Nenek pasti sudah cerita kan sama kamu, kalau aku kemarin datang menemuinya?" Alana mengangguk.
Sepertinya dia sudah yakin kalau hatinya memang lebih nyaman saat bersama Zidane.
Bersambung.
Jangan lupa untuk selalu dukung karya othor ya 🥰🥺
__ADS_1