Kekasih Gelapku

Kekasih Gelapku
Episode 39


__ADS_3

Happy Reading.


Hari ini Alana sudah diperbolehkan pulang, ya setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ternyata Alana memang sudah sembuh sepenuhnya, hebatnya dia tidak mengalami hal yang di takutkan Zidane dan sang Nenek yaitu depresi. Alana benar-benar wanita yang kuat, dia bahkan bisa menguasai pikiran nya sendiri yang seakan ingin merenggut kewarasannya.


Alih-alih pulang ke rumahnya sendiri, Alana malah di bawa Zidane ke rumahnya, tentu juga dengan persetujuan Felicia dan Morgan. Sebenarnya Alana menolak keras rencana Zidane ini, karena Alana ingin pulang ke rumah Neneknya, tapi Zidane tetap bersikeras mengurus Alana di rumahnya.


"Kamu istirahat dulu ya, Alana, Tante mau ke toko kue, Zidane, antar Alana ke kamar yang sudah di sediakan, biarkan dia istirahat, kamu sebaiknya cepat ke kantor!" ucap Felicia sang Mama.


"Iya, Ma!" sahut Zidane malas. Pasalnya Mamanya ini benar-benar cerewet.


Alana tersenyum setelah Felicia mengecup dahinya, dia benar-benar sangat di sayang oleh Ibu dari sang kekasih.


"Ayo sayang, kita ke kamar," Alana mengikuti Zidane yang mengarah kan ke kamar tamu.


"Caroline di mana?"


"Dia ada kuliah pagi, mungkin nanti siang sudah kembali, kalau Carol udah pulang aku akan ke kantor," jawab Zidane sambil membuka pintu kamar yang akan di tempati Alana.


"Ini kamar kamu, aku gak mau jauh-jauh dari kamu, jadi mulai saat ini tinggal di sini, ya?" ucap Zidane. Alana mengekor masuk.

__ADS_1


"Kamarnya wangi," ujar Alana melihat sekeliling dan kamar itu terlihat nyaman dan tapi.


"Ini akan menjadi kamarmu, sayang," Zidane mengajak Alana duduk di samping ranjang.


"Tapi, aku gak enak sama Nyonya Felicia dan Tuan Morgan, Zidane! Aku hanya orang asing yang numpang, seperti tidak punya rumah saja, " jawab Alana cemberut.


Zidane mengacak rambut Alana gemas, melihat wajah wanita di sampingnya itu mengerucutkan bibirnya.


"Kok kamu manggil Papa sama Mama masih Nyonya dan Tuan, sih? Panggil aja Papa Mama, hmm?"


"Tante sama Om aja, aku belum terbiasa, lagian kan aku masih merasa asing di sini," jawab Alana masih sungkan, apalagi dia juga pernah bekerja di rumah ini menjadi seorang pelayan, tentu saja tidak enak kalau tiba-tiba harus di spesial kan, bukan?


"Kamu bukan orang asing, sebentar lagi kita akan menikah dan aku tidak mau menunda-nunda hal baik ini, kita sudah sama-sama dewasa dan semua masalah pelik yang kamu hadapi juga sudah selesai, kita tunggu apa lagi?" ucap Zidane memegang kedua bahu Alana.


Pamannya juga sudah di hukum dengan hukuman yang setimpal, yaitu penjara seumur hidup. Semua masalah yang menghambat mereka kini mulai tertata satu persatu.


Alana bisa melihat cinta yang besar di mata Zidane untuk dirinya, begitupun Alana yang memang masih sangat mencintai Zidane apalagi setelah semua ingatan nya kembali.


"Baiklah, kalau memang itu yang terbaik buat kita, kamu siapkan semuanya, aku hanya akan nurut," Zidane langsung memeluk Alana ketika mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan dari bibir Alana.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang, aku benar-benar sangat bahagia, akhirnya kita akan segera menikah setelah berpisah selama sekian tahun, aku yakin kalau cinta ini akan selalu ada dan sekarang saatnya kita menyatukannya," Zidane menyatukan bibirnya pada bibir Alana yang di sambut manis oleh wanita itu.


Ciuman yang syarat akan kerinduan dan perasaan lega melingkupi jiwa. Saling memagut dan bertukar saliva, hingga suara decapan erotis yang ditimbulkan dari penyatuan bibir mereka membuat aliran darah kedua insan itu seperti terserang aliran listrik.


Tangan Zidane bergerak masuk menelusup ke dalam baju Alana. Mengelus punggung wanitanya dengan gerakan lembut, seakan memberikan sebuah sentuhan yang bisa membuat hasrat Alana langsung naik.


Zidane melepaskan kaitan di belakang punggung itu dan dengan gerakan cepat langsung menaikkan penutup dada Alana ke atas. Hidung Zidane sedang asyik menghirup aroma leher jenjang Alana yang wangi aroma vanila. Sedangkan bibirnya sudah menyesap kulit mulus wanita itu sehingga membuat Alana meloloskan suara alunan merdu yang membuat Zidane semakin bersemangat.


Tangan Zidane asyik bermain di area favoritnya yang cukup besar dan kencang itu, telapak tangan Zidane dengan intens meremat benda kenyal tersebut. "Aku menginginkan mu, sayang," bisik Zidane lembut di telinga Alana kala merasakan tongkat pusakanya sudah membesar dan sesak di bawah sana.


Alana hanya pasrah mengangguk karena dia juga sudah tidak tahan dengan sentuhan Zidane dan menginginkan lebih. Zidane kembali mencium bibir Alana sebelum meloloskan baju atasan Alana dengan sekali tarik ke atas.


Zidane membaringkan tubuh Alana dan kini menyerang nya dengan sedikit intens. Sentuhan dan ciuman Zidane yang memabukka mampu membuat Alana berteriak merdu.


Zidane melepaskan semua pakaianku dan juga pakaian Alana, memandang wanita yang sudah lama ia cintai bahkan dia berjanji akan mencintai dan menjaga Alana hingga akhir hayat.


"Aku benar-benar mencintai mu, Alana," ucap Zidane sebelum memasukan miliknya yang sudah berdenyut sejak tadi ke dalam sangkar hangatnya. Hanya milik Alana tempat senjata Zidane berlabuh, meskipun Alana sudah pernah menikah dengan Victor, Zidane tidak pernah mempersalahkan hal itu.


Yang terpenting saat ini Alana hanya miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya.

__ADS_1


Bersambung.


Mana nih dukungan nya untuk othor 🤧🤧


__ADS_2