
Happy Reading.
Alana berjalan sedikit tergesa masuk ke dalam sebuah restoran ketika dia sedikit terlambat untuk bertemu dengan klien pentingnya kali ini. Sungguh tadi malam Zidane benar-benar tidak membiarkan dia bisa tidur dengan tenang. Oh, ayolah, pernikahan mereka tinggal 10 hari lagi, tapi pekerjaan Alana semakin bertambah.
Meskipun asistennya masih bisa menghandle semua pekerjaannya yang semakin bertambah karena banyak investor yang ingin bekerja sa dengan perusahaannya, tapi Alana tidak bisa membiarkan asisten nya itu kewalahan sendirian. Setidaknya dia tidak meninggalkan pekerjaannya yang banyak sewaktu dia harus cuti menikah dan bulan madu.
Sebagai pemilik perusahaan, bukan berarti Alana bisa lebih santai dari bawahan lainnya. Justru karena dia sebagai CEO tentu saja pekerjaan nya semakin besar tanggung jawabnya. Apalagi setelah insiden yang membuatnya harus libur selama hampir 2 minggu.
Bersama dengan sekretarisnya, Alana masuk ke dalam sebuah pintu bertuliskan VIP di restoran itu. Biasanya Alana jarang bertemu klien di ruangan VIP seperti ini, tapi ini permintaan dari sang klien yang menginginkan mereka untuk meeting di ruangan yang tertutup dan lebih privasi.
"Maaf Tuan Austin Bradley, saya sedikit terlambat," ujar Alana setelah menyalami kliennya yang tidak lain adalah Austin dan juga sekretarisnya yang tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa, Nona Alana, silahkan duduk," jawab Austin juga tidak kalah ramah.
Alana duduk di susul dengan Lisa sekretarisnya.
"Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, nama saya Lily dan saya sekretarisnya Tuan Austin, ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan Nona Alana dengan keuntungan yang besar," ujar wanita sekretaris Austin dengan menyodorkan sebuah Map yang berisi berkas-berkas ke arah Alana.
"Baik, coba saya baca dan pahami terlebih dahulu, Nona Lily," jawab Alana mengambil map tersebut.
"Jadi benar bahwa anda ini tunangannya Zidane?" Alana mendongak menatap Austin yang juga tengah menatapnya.
"Apakah anda kenal dengan Zidane?"
Austin tertawa kecil. "Bukan hanya kenal, dulu dia teman kuliah saya yang paling dekat, tapi semenjak kita sudah sama-sama sibuk, sudah jarang sekali kita bertemu."
"Oh, iya, pantas saja saya tidak pernah bertemu dengan anda, baru kali ini kita bertemu dan ternyata anda kenal dengan calon suami saya," jawab Alana tersenyum.
__ADS_1
Setelah beberapa lama akhirnya Alana dan Austin sepakat untuk menjalin kerja sama untuk kedua perusahaan mereka.
"Apakah kapan-kapan kita bisa makan malam bersama, untuk merayakan kesepakatan kerja sama kita, maksud sama makan malam bersama pasangan, anda dengan Zidane dan saya dengan Lily," ujar Austin menatap Lily di sampingnya.
Lily merasa sangat bahagia ketika Austin mengajaknya makan malam bersama dengan kolega besar seperti Alana dan Zidane.
Dia sempat mengira kalau Austin akan mengajak istrinya sebagai pasangan. Sepertinya tekad dia merebut Austin begitu besar dan dia pastikan sebentar lagi Austin dan Ave akan bercerai.
'Ternyata tidak sia-sia hasutanku selama ini, Austin sudah menyingkirkan Ave dalam hidupnya, sekaligus menggunakan nya untuk balas dendam,, setelah melihat kehancuran mereka, aku dan Austin akan bisa bersama!' batin Lily.
❤️❤️❤️
Zidane menatap Caroline yang saat ini sedang berada di ruangannya, entah apa yang adiknya ini lakukan dengan pergi ke kantor seperti ini. Karena setahu Zidane, Carol paling tidak suka menginjakkan kakinya ke Alvares Grup itu.
"Ada apa? Sepertinya kamu sedang ada masalah? Apakah ini ada hubungannya dengan dosenmu?" tanya Zidane tanpa basa basi.
"Kakak selalu tahu apa yang kamu lakukan di luar sana, mobil di tinggal di kampus hanya karena pergi dengan dosen muda itu kan?" Caroline melototkan matanya mendengar ucapan Zidane.
"Ya, ya, ya, aku tahu kalau Kak Zidane memang memasang mata-mata di mana-mana, tapi jujur aku sebenarnya tidak suka kalau setiap gerak gerikku di awasi!!"
"Caroline, kakak tidak mengawasi mu, tapi Papa yang menyuruh para bawahan nya untuk mengawasi kegiatan mu di kampus, tapi Papa berjanji tidak akan mengganggu semua kegiatan mu, mereka hanya akan muncul di saat kamu dalam bahaya!" ucap Zidane tegas.
Caroline hanya bisa pasrah dengan keposesifan Papa dan Kakaknya. "Oke deh, yang penting mereka gak mengganggu ku, itu saja!"
"Lalu, apa tujuan mu mencariku ke kantor?" tanya Zidane masih menatap adiknya dengan bersedekap dada.
Caroline mendudukkan dirinya di sofa, bingung harus menceritakan dari mana dulu.
__ADS_1
"Kalau kamu cuma mau curhat atau minta barang-barang branded lagi, bisa hubungi Samuel atau nanti di rumah saja kita cerita." Zidane kembali menatap layar komputer nya, dia merasa Caroline hanya mengganggu nya saja.
"Tadi malam aku mau cerita sama kakak setelah kak Zidane nganterin kak Alana pulang, tapi nyatanya kakak tidak pulang semalam, makanya aku ke sini," ucap Caroline sebal.
Zidane menatap Caroline dan berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah ke arah sofa dan duduk di kursi single di samping Carol. "Baiklah, apa yang ingin kamu ceritakan? Apakah masalah Zack?"
Eh, dari mana kak Zidane tahu?
"Sebenarnya aku tidak mau ikut campur masalah ini, kak, tapi kebetulan aku tahu semuanya, dari sisi Zack dan juga kak Austin, kakak pasti gak tahu kan kenapa Zack akhir-akhir sering ngejar aku?" tanya Caroline serius.
"Ceritanya rumit dan yang pasti aku bingung harus bagaimana, kalau aku diam saja, rasanya gak enak, padahal aku tahu semua rencana kak Austin ke Mr. Zack dan istrinya," lanjut Caroline.
Zidane melihat jam di pergelangan tangannya. "Baiklah, masih ada waktu satu setengah jam untuk kamu ceritakan semua masalah ini, selagi kita menunggu makan siang setengah jam lagi," ucap Zidane.
Akhirnya Caroline menceritakan semuanya, tentang perselingkuhan Ave dan Zack, dan keinginan Zack yang memintanya untuk menjadi kekasih. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah cerita tentang rencara Austin dan sekretarisnya yang ingin menjadikan perselingkuhan Zack dan Ave sebagai kartu As untuk balas dendam.
"Huh, apakah kamu begitu tertarik dengan kisah hidup orang lain?" Caroline ingin menjawab tetapi bunyi ponsel Zidane menghentikannya.
"Halo, sayang?" sapa Zidane.
"Apakah kamu masih ingat sahabat mu yang namanya Austin, CEO dari perusahaan Bradley?"
"Austin Bredly?"
Kenapa hari ini dua wanita kesayangannya sama-sama mengucapkan nama itu?
Bersambung
__ADS_1