
Happy Reading.
Anne segera pergi ke lantai dua untuk membersihkan tempat itu, dia tidak terlalu suka kalau ada orang yang ikut campur dengan pekerjaannya yang saat ini tengah di percaya oleh Tuan mudanya, Zidane. Yaitu melayani Alana, wanita yang memang sudah ia kenal lama saat Alana bekerja di rumah itu.
Tapi Anne tahu kalau tuan mudanya itu sedari dulu memang begitu peduli terhadap Alana dan dia sama sekali tidak ingin ikut campur dengan urusan sang majikan. Sangat berbeda dengan kedua temannya yang tadi terlihat sangat kepo tentang urusan tuannya itu.
"Dasar sok ingin tau, kerja tuh ya kerja aja, gak usah ikut campur dengan urusan majikan!" gerutu Anne sambil menyalakan vacum kliner dan segera membersihkan karpet-karpet tebal yang berada di lantai atas.
Sedangkan di lantai bawah, kedua wanita yang tadi masih saja terus bergosip.
Kedua wanita yang usianya sekitar tiga puluhan itu hanya memandang punggung Anne yang sudah hilang di lantai atas dengan sinis, apalagi wanita yang berkulit gelap tersebut terus saja melontarkan cibiran pada Anne.
"Dasar sombong, cuma di ajak bicara dan di kasih kepercayaan sama tuan muda udah belagu!" ketus pelayan baru yang bernama Ella.
"Kamu tahu Ell, wanita yang tadi kita bicarakan? Namanya itu Alana, dia dulu pernah menjadi pelayan di rumah ini!" ucap Milla.
"Apa?!! tidak mungkin!" wanita yang bernama Ella itu sangat terkejut mendengar cerita tersebut. Masa sih mantan pelayan di istimewakan?
"Terserah kamu percaya atau tidak, tapi memang itulah kenyataannya," jawab Milla nyinyir.
"Benarkah, Mill? Kok pelayan bisa menjadi tamu tuan muda dan sepertinya sangat di spesial kan, ya?"
"Katanya sih, dulu pas masih jadi pelayan pribadi Tuan Zidane, dia itu suka menggoda tuan muda dan juga sering di suruh datang ke kamarnya tengah malam, tapi kami tidak...!"
"EGHEM!! Kalian mau bekerja atau bergosip! Cepat sana ke halaman belakang! Bukankah tadi sudah ku suruh untuk membersihkan kolam renang di sana!!" kedua wanita itu terkejut ketika mendengar suara kepala pelayan yang terkenal disiplin dan galak.
__ADS_1
Milla dan Elly langsung membalikkan badan dan menunduk karena takut dengan kepala pelayan itu.
"Iya, Rona! Kami mau lanjut ke halaman belakang!" jawab Milla yang langsung menarik tangan Elly untuk dia bawa ke halaman belakang yang memang terdapat kolam renang di sana.
"Ck, dasar tukang gosip!"
Sedangkan di dalam kamar tamu depan, Alana membuka kedua matanya setelah beristirahat cukup lama. Alana merasa tubuhnya begitu lelah akibat ulah Zidane.
"Ahh, udah tiga jam aku tertidur!" seru Alana melihat jam di ponselnya. Dia juga melihat dua pesan dari Zidane dan langsung dia baca.
Zidane : Nanti aku pulang agak malam, kamu harus banyak-banyak istirahat dan jangan lupa makan siang, i love you Alana!
Alana langsung membalas pesan dari Zidane sambil tertawa kecil. Entah kenapa saat ini dia benar-benar merasa senang dengan hal-hal kecil seperti ini.
Alana : Iya, kamu bekerja yang rajin, gak usah khawatir sama aku, i love you too.
###
"Kak Alana, bagaimana perasaan mu sekarang?" tanya Caroline saat mereka berada di balkon kamar gadis itu. Siang tadi setelah Caroline pulang dari kampus, adik Zidane itu langsung mengajak Alana bermain di kamarnya seharian.
Curhat masalah pelajaran dan dosen yang menyebalkan di kampusnya.
"Aku sehat dan merasa lebih baik," jawab Alana menyesap jus melon kesukaannya dulu dan sepertinya sekarang setelah ingatan nya kembali dia juga akan mulai menyukainya lagi.
"Syukurlah, aku senang sekali kakak bisa cepat sembuh dan sebentar lagi akan menikah dengan kak Zidane, ufh ... Udah gak sabar pokoknya, aku akan menjadi pengiring pengantin untuk kalian nanti," Caroline sudah membayangkan dia akan memakai pakaian yang sudah ia siapkan untuk menjadi Bridesmaids kakaknya.
__ADS_1
"Apa tidak terlalu terburu-buru, aku sama sekali belum memikirkan tentang pernikahan ataupun mempersiapkan, masih banyak hal yang harus aku urus, Carol," ucap Alana membuat Caroline merosotkan bahunya.
"Kakak tenang saja, semua persiapan sudah di lakukan oleh Mama dan kak Zidane, kak Alana tinggal duduk manis dan mempersiapkan diri. Besok siang setelah aku dari kampus kita nyalon, ya? Aku udah lama banget gak perawatan tubuh, besok kita harus manjain diri, gimana kak?" tanya Caroline antusias.
Alana terlihat berpikir. "Ehmm ... Sepertinya ide bagus, aku juga mau potong rambut."
"Oke deh, sekarang kakak istirahat, udah malem, tadi kak Zidane chat aku katanya akan pulang malam," Alana mengangguk.
Kemudian keduanya masuk ke dalam kamar dan Alana kembali ke kamarnya sementara di lantai satu.
❤️❤️❤️
Pagi itu suasana di kediaman Alvares terasa begitu hangat, semuanya sedang bersarapan dengan tenang, tapi tentu saja tidak mengurangi keharmonisan keluarga tersebut. Apalagi sekarang ada anggota baru yang juga ikut bergabung di meja makan.
Ya, siapa lagi kalau bukan calon menantu di keluarga tersebut. Alana sebenarnya merasa agak canggung dengan situasi ini, apalagi dulu dia pernah bekerja di rumah itu sebagai pelayan tapi sekarang di perlakukan sangat istimewa.
Melihat tatapan teman-temannya yang dulu pernah bekerja bersama di kediaman itu dalam beberapa bulan, ada yang melihat dengan heran, tatapan iri, ataupun tatapan biasa saja karena mereka sudah tahu kalau sebenarnya Alana adalah orang kaya.
Wanita cantik itu hanya bisa tersenyum kikuk saat ada yang terang-terangan menatapnya dengan tatapan marah dan emosi. Ya, siapa juga yang tidak iri dengan status Alana yang saat ini menjadi istimewa di keluarga Alvares.
"Aku sudah memesan cincin pernikahan untuk kita, karena memang aku ingin langsung menikah, nanti kita akan pergi ke tempat sahabat ku itu untuk mencobanya," ujar Zidane menatap Alana yang berada di sampingnya.
"Cincin pernikahan? Memangnya kapan kamu pesan? Kok udah langsung jadi?"
"Sebelum kamu sakit, sayang, kan aku udah bilang kalau aku akan segera menikahi kamu."
__ADS_1
Bersambung.