
Alana menghirup napas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya yang terasa entah kenapa tiba-tiba saja terasa sesak.
Sejak tadi dia tidak bisa memejamkan matanya dan sekarang berakhir di balkon kamar rumahnya, sambil membawa secangkir kopi hitam panas yang baru saja di seduh.
Lagi-lagi Alana menghela napas, apakah keputusan yang dia ambil sudah tepat? Keputusan mengenai hubungannya dengan Zidane, mantan majikannya.
"Aku rasa aku sudah gila! Tapi Tuan Zidane juga gila, yah aku rasa! Kenapa dia berpikir ingin menjadikan ku tunangan nya? Apa kata orang-orang di luar sana, apakah nanti aku tidak akan menjadi bahan gunjingan orang-orang!" gumam Alana.
Wanita itu menyeruput kopinya yang uapnya sangat menyengat di hidung karena di terbangkan angin.
"Ah, sudahlah! Aku sudah terlanjur menolaknya, mana mungkin aku menarik kata-kata ku kembali!" Alana berjalan masuk kembali ke dalam kamar, bukan kamar utamanya yang dulu ia tempati bersama dengan Victor, tapi kamar sebelahnya yang dulu ia di jadikan sebagai kamar tamu.
Alana tidak mau memakai kamar utama lagi karena di sana masih tercium aroma Victor yang membuatnya mual.
Alana duduk di pinggiran ranjang setelah meletakkan gelas kopinya di nakas, wanita itu sedikit menarik rambutnya, ada sebuah perasaan aneh ketika ia mengingat bagaimana raut wajah Zidane yang terlihat sedikit kecewa.
__ADS_1
Ah, kenapa sudut hatinya terasa di remas, melihat ekspresi Zidane yang benar-benar patah hati. Apakah pria itu benar-benar memiliki perasaan terhadapnya?
Apakah Zidane menyayangi nya, seperti seorang pria yang menyayangi seorang wanita, seperti seorang kekasih yang mencintai kekasihnya.
"Tidak, tidak mungkin Tuan Zidane mencintai ku, aku kan hanya sebagai kekasih gelap, tidak lebih baik dari seorang wanita penggoda," lagi dan lagi yang ada dalam otaknya adalah perasaan sebuah kesepakatan yang pernah ia jalin dengan Zidane, yaitu pria itu akan membantunya memperbaiki penampilan juga memberikan uang untuk perawatan diri di salon.
Alana akan dengan setia mengikuti keinginan Zidane, tapi pria itu benar-benar memperlakukan Alana begitu baik.
###
Ternyata dugaannya selama ini memang benar, Valeria adalah Alana. Alana yang telah kehilangan ingatan sewaktu terjadi kebakaran beberapa tahun yang lalu yang merenggut semua nyawa di mansion nya. Meskipun beberapa hari yang lalu Alana dengan tegas menolak Zidane yang ingin menjadikannya sebagai tunangan, tapi dalam hati Zidane merasa sangat bersyukur karena akhirnya penyelidikannya membuahkan hasil.
"Tidak sulit untuk menemukan data Nona Alana, tuan, karena selama ini Nona Alana memang tidak tinggal di Florida, bahkan dia sempat kuliah di Jepang selama 5 tahun, awal kembali ke USA Nona Alana sudah menjadi pribadi yang sangat beda, dia bahkan sudah tidak ingat lagi tentang kecelakaan itu, Nona Alana bagaikan hidup dengan orang yang baru," jelas Samuel.
Zidane manggut-manggut. Pantas saja selama beberapa tahun setelah penyembuhannya itu Alana tidak bisa mengingat semuanya karena trauma kecelakaan itu sangat besar dan hampir menyerang seluruh otak kirinya, sehingga membuat Alana benar-benar lupa siapa dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ya, kini aku sudah paham semuanya, Alana tidak bisa mengingatku, menghilang selama bertahun-tahun, membuat ku benar-benar menganggap bahwa Alana memang sudah meninggal, sungguh sangat pintar mengelabui," senyum miring tercetar di bibir ZIdane.
Dia tahu siapa yang dulu sangat menentang hubungannya dengan Alana, entah apakah orang itu ikut andil dan ada hubungannya dengan kejadian ini, Zidane akan menyelidikinya.
"Alana, akan pelan-pelan mengejar mu, aku yakin akan membuatmu mencintaiku seperti dulu," gumam Zidane.
###
Alana merasa resah gelisah, pikirannya begitu kalut saat ini. Entah kenapa pikirannya saat ini selalu terbayang oleh sosok Zidane, pria yang selama beberapa bulan ini selalu membuatnya susah dan tidak bisa tidur. Tapi kali ini pikirannya lebih teringan akan ketulusan pria itu ketika membantunya.
Alana bukan wanita bodoh yang tidak mengerti dan paham dengan tatapan mata Zidane kepadanya, tatapan penuh binar cinta di dalam sana, tapi Alana merasa tidak pantas untuk menerima cinta dari pria sesempurna Zidane.
"Zidane …. aku meridukanmu!"
Bersambung.
__ADS_1