Kekasih Gelapku

Kekasih Gelapku
Episode 36


__ADS_3

Happy Reading.


Zidane menatap wajah pucat di hadapannya ini dengan hati yang pilu. Alana sudah seminggu di rawat dirumah sakit dengan fasilitas kelas VVIP dan tentunya dokter terbaik di negara ini. Tapi belum ada perkembangan yang cukup berarti untuk Alana.


Dia memang tidak memakai alat bantu pernapasan atau selang-selang kecil untuk menopang hidupnya, Alana bahkan tidak terlalu terlihat seperti orang sakit parah, tapi dia harus di awasi dan di jaga ketat oleh dokter spesialis yang tentunya akan membantu Alana untuk pulih segera.


Alana tidak koma, dia sudah membuka kedua matanya dan dia hanya sering berhalusinasi dan berteriak kencang ketika merasakan kepalanya sakit, menutup kedua telinga sambil berteriak kesakitan dan hal itu benar-benar membuat Zidane meras semakin bersalah.


Alana hanya akan diam tidak berontak kalau dia di beri obat bius dan akhirnya akan terlelap dengan sendirinya. Sungguh bukan ini yang Zidane inginkan, dia hanya ingin Alana ingat akan masa lalunya yang indah dulu saat bersamanya, tanpa ada rasa tidak percaya seperti saat ini ketika Alana meragukan cintanya. Hanya itu, bukan untuk mengingatkan luka lama yang ternyata itu bisa membuat Alana sesakit ini.


Zidane ingin Alana nya kembali, dia menyesal telah memberitahukan semuanya pada wanita itu, padahal nenek sudah memperingatkan Zidane untuk mengurung kan niatnya.


Waktu 8 tahun bagi nenek sudah cukup lama, dia berusaha membuat sang cucu sembuh dan hari-hari nya di lalui dengan identitas yang berbeda.


Karena itulah dia tidak menginginkan Valeria kembali. Nenek hanya perlu mendidik Alana dan membuat wanita itu sukses sebagai pewaris tunggal nya.


Tapi ternyata Zidane sedikit keras kepala dan berakibat fata seperti ini.


Zidane terbangun dari lamunannya ketika melihat mata Alana yang mengerjap dan wanita itu membuka matanya secara perlahan.


Dia memang hanya tertidur, kalau sudah cukup tidurnya atau obat biusnya sudah habis, terkadang Alana membuka kedua matanya dan hanya memandang langit-langit dengan tatapan yang kosong.


"Alana, apa yang kamu rasakan? Apa kamu haus?" tanya Zidane mendekatkan tubuhnya ke ranjang pasien dan menggenggam tangan wanita itu kemudian mengecupnya lembut.

__ADS_1


Zidane selalu ada di sana untuk menemani sang wanita, pemilik hatinya. Terkadang dia bekerja di kamar rawat itu dengan Samuel yang menghandle perusahaan.


"Alana, sayang! Please ucapkan sepatah kata untukku, aku sangat mencintaimu, aku merindukanmu, aku ingin kamu bicara padaku lagi seperti dulu, aku minta maaf karena telah membuat mu seperti ini, maafkan aku!" Zidane masih berusaha mengajak Alana bicara, meskipun dia tahu kalau Alana sama sekali tidak menjawab ataupun merespon nya.


Perasaan makin bersalah menyelimuti hati Zidane, dekapan tangannya di tangan Alana semakin erat. Zidane tidak ingin Alana seperti ini, Zidane hanya ingin Alana mau merespon ucapan nya.


Alana merasakan tangannya sedikit sakit karena genggaman ditangan nya terasa semakin kuat.


Wanita itu menatap Zidane dengan pandangan kosong, pria itu masih menunduk berusaha mengatur nafasnya yang sesak karena ingin menangis melihat keadaan Alana.


Alana merasakan ada sesuatu yang hangat di hatinya ketika melihat bahu Zidane yang nampak bergetar, setelah beberapa detik ia kemudian mengalihkan pandangannya ke segala arah, memindai dan menyapu seluruh ruang itu, seakan-akan dia belum pernah melihat ruangan itu sebelumnya.


"Apa ini rumah sakit?" Zidane mendongak terkejut ketika mendengar Alana bicara normal, tidak seperti biasanya yang selalu berteriak dan mengamuk.


"Alana? Apa kamu bisa mendengarkan ku?" tanya Zidane memastikan. Pria itu pun mengusap matanya cepat, berusaha menghilangkan jejak air mata yang tertinggal di sana.


Dengan respon seperti itu saja sudah mengartikan bahwa Alana ada kemajuan pesat.


"Alana, apa yang sedang kamu pikirkan?" wanita bermanik hijau cerah itu menatap Zidane tanpa menjawab. Entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya tapi Alana merasa benar-benar tersentuh dengan tatapan mata Zidane yang masih basah itu.


"Aku ingin minum," jawab Alana serak.


Yah, tentu saja suara Alana serak dan berat karena wanita itu suka sekali berteriak akhir-akhir ini dan itu berhasil membuat suaranya hampir habis.

__ADS_1


"Minum? Ah, baiklah aku ambilkan!" pekik Zidane bahagia. Alanya sudah mauenjawab ucapannya. Ini luar biasa, Zidane langsung mengambil gelas dan mengisi air putih dari dispenser yang ada di kamar itu.


"Ini, minumlah, kamu pasti haus, kan?" Alana mengambil gelas itu dan dengan perlahan membuka mulut kemudian meminumnya.


"Apa lagi yang kamu inginkan, sayang?" Zidane mengembalikan gelas itu ke atas meja ketika Alana selesai meminumnya. Kembali duduk di samping wanita berwajah pucat itu lalu menggenggam tangannya.


Alana merasa senang ketika tangannya di genggam seperti ini.


"Aku ingin ke kamar mandi," jawab Alana.


Zidane tidak memanggil dokter ataupun perawat yang biasa membantu Alana, dia sendiri ingin membantu Alana ke kamar mandi karena sepertinya ada kemajuan kali ini. Alana tidak berontak dan memukulnya.


Setelah selesai urusan di dalam kamar mandi, Zidane kembali membawa Alana ke arah ranjang untuk berbaring.


"Aku tidak mau tidur, bawa aku ke arah jendela itu," Zidane menuruti keinginan Alana dan menuntun nya ke arah jendela kaca besar itu.


Zidane menyibak korden dan cahaya pagi dari mentari yang hangat masuk menerpa keduanya. Alana menutup kedua matanya, merasakan hangatnya cahaya matahari tersebut.


"Apa kamu mengingatku, Alana?" tanya Zidane hati-hati. Sambil tangannya terus menggenggam tangan wanita itu.


"Kamu Zidane, sahabat ku sewaktu SMA dulu."


Bersambung.

__ADS_1


Mulai ingat nih ya, Alana..


Gimana tanggapan Zidane?😁


__ADS_2