
HAPPY READING
Zidane menghela napas perlahan, baru saja calon istrinya telepon dan mengatakan bahwa sahabatnya yang bernama Austin Bredly mengundangnya makan malam bersama karena berhasilnya kerja sama yang terjalin antara perusahaan Alana dan Austin.
Zidane sudah tahu sepak terjang Austin untuk perusahaan Bredly peninggalan Ayah dari pria itu. Austin tipe pria pekerja keras, dia bisa membuat perusahaan kecil itu dengan tangannya sendiri menjadi perusahaan yang bersaing dengan perusahaan besar lainnya di kota Florida.
"Kak, ada apa?" tanya Caroline yang masih setia duduk di sofa ruang kerja kakaknya.
"Huh, hari ini belum ada satu jam aku sudah mendengar nama Austin," gumam Zidane.
"Apa, apa? Aku gak dengar?" seru Caroline.
Zidane menggelengkan kepalanya, dia menatap wajah sang adik yang dan mendesah pelan. "Sekarang kakak tanya, apa sebenarnya yang kamu mau dan kamu inginkan setelah kamu cerita semua itu padaku? Tentang Austin dan sekretarisnya yang saling berselingkuh?"
Caroline bersedekap dada. "Aku gak tahu, tapi kalau aku cuma diam saja dengan melihat semua rahasia yang ku tahu, tentu saja aku gak akan bisa tidur dengan tenang, siapa yang harus aku bantu dulu, kak? Kak Austin, Mr. Zack, atau Mrs. Ave? di sini mereka sama-sama korban, menurut ku Kak Austin juga korban dan harus segera di sadarkan kalau kelakuannya itu tidak baik, berselingkuh di belakang Mrs. Ave juga bukan hal yang baik dan sangat jahat, meskipun Mrs. Ave sendiri juga berselingkuh dengan Mr. Zack, sepertinya itu semua karena Kak Austin juga yang mungkin karena juga punya selingan di luar sana yaitu sekretaris nya!" ucap Caroline panjang lebar.
Zidane mengangguk, memegang dagunya seraya berpikir. Mungkin memang Caroline berada di posisi yang sulit, tapi apakah mereka ada hubungannya dengan kehidupan mereka?
"Jangan bertindak dulu, kita lihat nanti setelah undangan makan malam yang di ajukan Austin untuk ku, sekarang kamu pulang, atau mau makan siang di sini?"
"Aku mau makan siang di sini aja," jawab Caroline mengambil ponselnya dan melihat deretan pesan di layar.
Paling banyak pesan dari Zack, entah kenapa dosen muda itu sekarang semakin sering mengganggunya.
"Oke, aku suruh Samuel memesan makanan." Zidane menelepon asisten nya dan menyuruhnya membeli makanan dua porsi untuk di makan di dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Selagi menunggu pesanan, Zidane mengirim pesan kepada Alana. Rasa rindu sudah mencuat, Zidane paham kalau keduanya sama-sama sibuk. Dia selalu menggunakan waktu istirahat untuk menghubungi calon istrinya.
Zidane: 'Lagi apa, sayang ku, calon istriku?'
Tidak sampai lima menit balasan dari Alana sudah muncul.
Alana: 'Aku mau keluar cari makan siang sama Lisa, kamu makan siang di mana?'
Zidane senyum-senyum sendiri sambil membalas pesan tersebut.
Zidane: 'Aku makan siang di kantor, ada seseorang yang nemenin makan.'
'Siapa? Kamu makan siang bareng siapa, Zidane?'
Zidane: 'Bukan siapa-siapa.'
Alana: 'Apakah aku kenal?'
Alana: 'Laki-laki atau perempuan?'
Zidane: 'Perempuan.'
Lima menit kemudian.
Alana: 'Baiklah, silahkan bersenang-senang, aku sudah sampai di restoran dan mau makan!'
__ADS_1
Zidane langsung melongo ketika mendapatkan balasan pesan yang tidak sesuai ekspektasi nya. "Hei, kenapa dia tidak marah!" seru pria itu dan langsung menekan tombol panggil untuk menghubungi Alana.
"Dasar bucin!" Caroline hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang kakak yang semakin aneh semenjak semakin dekat dengan sang pujaan hatinya siapa lagi kalau bukan Alana. Carol tahu bahwa hanya Alana yang bisa merubah sosok Zidane yang datar dan dingin menjadi hangat.
Gadis itu juga sedang sibuk dengan ponselnya, membalas pesan dari Zack yang sepertinya saat ini sedang berada di kampus. Carol ingin mengabaikan pesan itu, tapi entah kenapa dia tidak bisa. Mungkin karena dia tahu semua rahasia dosennya itu dan ada sedikit rasa kesal maupun kasihan.
Zack: 'Nanti kamu ada jam kuliah sore, kan? aku ingin kita bicara.'
Caroline: 'Maaf, kalau mister hanya ingin membicarakan masalah mister yang memintaku untuk menjadi kekasih pura-pura mister, saya tidak bisa, masih banyak mahasiswi lain yang lebih tertarik kalau mereka di jadikan kekaih pura-pura, bahkan kekasih beneran kalau mau.'
Zack: 'Tidak mau, aku maunya kamu Carol, bukan karena kamu telah mengetahui semua tentangku. aku ingin kamu karena memang aku tertarik padamu, please! hanya sampai Ave mau berpisah dariku.'
Caroline hanya menatap pesannya tanpa berniat membalas lagi karena Saamule sudah datang membawa makan siang untuk mereka.
Di sisi lain.
Ave menghampiri Zack yang tengah berada di ruangannya, sejak malam di mana dia di usir oleh Zack, Ave memang belum sempat menemui pria itu lagi karena merasa sakit hati. Tapi sepertinya sekarang dia harus bertekad untuk bicara dengan Zack dan meminta kejelasan.
"Zack, kira harus bicara!" ucap Ave duduk di kursi depan Zack sambil brsedekap dada.
Zack menatap wanita itu dengan datar tanpa ekspresi, terlihat kantung hitam di bawah mata dan juga bibir yang agak pucat, sebenarnya Zack merasa kasihan dan prihatin dengan kondisi Ave yang seperti itu. Ingin dia merengkuh tubuh ringkih Ave dan membawa ke dalam pelukannya. Tapi tidak untuk mulai saat ini, Zack sadar bahwa dialah yang salah karena menerima perasaan Ave di saat tahu bahwa wanita itu sudah menjadi istri dari sahabatnya sendiri.
"Ave, aku minta maaf, aku bukan pria yang baik, aku memang sangat salah karena berhubungan denganmu, aku tidak bermaksud untuk mencampakkanmu di sini, aku hanya ingin meluruskan hubungan kita yang sudah terlalu membelok, jadi mulai saat ini kembalilah pada Austin, aku tahu kamu masih sangat mencintainya, bahkan sebenarnya cintamu hanya untuk dia dan aku hanya selinganmu di saat Austin tidak memperhatikanmu, aku hanya pelarian jadi sekarang sudahi larimu dan berbalik kembalilah pada suamimu itu, jangan sampai hubungan kalian yang selama ini menjadi sorotan karena terkenal romantis harus kandas karena kesenangan sesaat, aku ingin kamu kembali pada Austin!"
Bersambung
__ADS_1