Kekasih Gelapku

Kekasih Gelapku
Episode 64


__ADS_3

Happy Reading


Ave sebenarnya merasa kesal ketika Lily menelepon suaminya tengah malam seperti ini, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan sekretaris suaminya itu.


'Mau apa dia menghubungi suamiku setiap malam? huh, ingin lihat bagaimana wajah sekretaris itu sekarang, kenapa dia bisa sangat leluasa setiap saat bisa menghubungi Austin, bahkan di waktu dini hari seperti waktu itu!'


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, Austin keluar hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya dan rambut basahnya yang membuat penampilan pria itu semakin seksi di mata Ave.


Ave melihat Austin tanpa mengedipkan mata, tubuh suaminya memang indah dan hangat, Austin bisa membuatnya melayang berkali-kali saat bercinta.


'Ya Tuhan, apakah aku baru saja mengagumi Austin? Sudah lama sekali perasaan ini tidak muncul, tapi kenapa sekarang tiba-tiba hadir lagi?' batin Ave memalingkan wajahnya ke arah lain, agar tidak ketahuan oleh Austin jika ia terpesona dengan tubuh indah suaminya itu.


"Ave, kenapa kamu memegang ponselku?" Ave tersentak dan baru sadar jika dia masih memegang ponsel Austin setelah mengangkat panggilan dari Lily ia belum mengembalikan nya.


"Oh, ini tadi sekretaris mu menelepon, aku kira ada masalah penting dengan urusan pekerjaan," jawab Ave segera menyerahkan ponselnya.


Austin terlihat sedikit gugup saat menerima ponsel itu, dia takut kalau Ave akan curiga dengan Lily, lagian kenapa wanita itu selalu saja menelepon nya, padahal sudah ia katakan kalau jangan terlalu sering menghubungi kalau sedang berada di rumah.


"Oh, apa yang Lily katakan?" mata Austin tidak berani menatap istrinya dan hanya mengutak-atik ponsel dan melihat lima pesan dari Lily.


"Tidak ada, dia langsung mematikan panggilan nya saat aku jawab!" Ave mengedikkan kedua bahunya seolah cuek.


Hal itu membuat Austin merasa lega, setidaknya Lily tidak ceroboh dan membuat Ave curiga. Tapi sepertinya dia tidak tahu apa yang di rasakan oleh Ave, wanita itu seketika merasa waspada dan curiga, ada hal yang tidak beres antara suami dan sekretarisnya.


Kalau memang hal itu benar, apa yang harus dia lakukan? Ah, tapi sebelum berspekulasi apa-apa, Ave harus memiliki bukti terlebih dahulu.

__ADS_1


Sedangkan Austin sendiri langsung keluar dari dalam kamarnya dengan masih menggunakan handuk. Dia langsung menghubungi Lily setelah masuk ke ruang kerjanya.


"Halo? Austin, kamu sedang apa!!"


Pria itu menjauh kan ponselnya dari telinga ketika mendengar suara Lily yang berteriak.


"Kamu ini apa-apaan, sih? Kenapa malah berteriak?"


"Huh, maaf, aku hanya kesal saja tadi saat aku menelepon mu, Ave yang mengangkat! Apa yang baru saja kalian lakukan?"


"Itu bukan urusanmu, malam ini jangan menelepon ku!"


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menelepon? Kenapa malam ini kamu tidak ke tempat ku? Austin, aku ingin kamu menemani ku!! bukan kah kamu bilang kalau kamu sudah tidak mencintai Ave lagi dan ... !"


"Cukup, Lily! Menurutlah! dan ingat siapa dirimu, jangan berani membentakku dan jaga batasan mu!" Austin menutup ponselnya dan melemparkannya ke atas meja.


"Aarrggkk! Kenapa wanita itu jadi sesuka hati meneriaki ku!! Aku tidak suka ada yang mengendalikan ku seperti seorang budak, Brengsek!" emosi Austin menjatuhkan dirinya ke kursi. Dia sama sekali tidak suka ada seorang wanita yang memerintah nya, apalagi itu hanya seorang kekasih gelap yang tidak berhak memiliki apapun atas kuasa dirinya.


Di luar kamar Ave bisa mendengar kan suara Austin dan sedikit terkejut ketika mendengar percakapan mereka.


"Besok aku akan ke kantor!!"


###


H-5


Suasana di ruang makan di kediaman Alvares menjadi sedikit tegang, semua ini di karenakan Caroline yang tiba-tiba meneriaki seorang pelayan dan memarahinya. Jelas saja Carol tidak terima dengan perbuatan pelayan itu, karena dia dengan lancang menghina calon kakak iparnya, Alana sebagai seorang pembantu yang licik.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak tahu apa-apa, sebaiknya diam saja! Apa mulutmu itu tidak pernah masuk bangku sekolah sehingga suka sekali membicarakan orang lain yang tidak kamu kenal asal-usulnya?" pelayan itu hanya bisa menunduk ketakutan. Dia tidak menyangka jika ucapan nya menghina Alana terdengar oleh putri majikannya.


"Ma-maaf, saya benar-benar tidak sengaja, saya hanya membicarakan sesuatu yang benar dan itupun hanya dari cerita-cerita para pelayan dulu, saya tidak bermaksud menghina nona Alana, hiks!" Pelayan itu menangis tersedu. Tubuhnya gemetar karena takut, dia tidak mau di pecat dan kehilangan pekerjaan di rumah ini, karena baginya bisa masuk dan bekerja di sini adalah suatu anugrah yang luar biasa.


Dia sudah bisa membanggakan keluarganya hanya dengan bisa bekerja di keluarga Alvares dia bisa menghidupi keluarganya yang miskin, gaji di sini juga sangat besar, tentu saja wanita itu sangat takut kalau dia harus di pecat.


"Tidak sengaja? Heh, aku tahu kalau memang sebenarnya kamu tidak menyukai kak Alana, dan sudah sering menghasutnya di belakang bersama dengan pelayan lain! Jangan kira kalau kami bodoh, di rumah di setiap sudutnya ada CCTV dan aku bisa melihat dan memantau apa saja yang kalian lakukan di rumah ini!!" wanita yang bernama Emma itu terkesiap, dia langsung menangis keras di hadapan Morgan, Felicia dan juga Zidane meminta untuk di ampuni. Sungguh dia menyesal karena selama ini memang sangat membenci Alana hanya karena dia dulu pernah menjadi pelayan di rumah ini tetapi dengan mudahnya menjadi calon suami Zidane.


"Saya, saya minta maaf, saya menyesal! Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, saya mohon ampuni saya, tuan!"


Zidane memijit keningnya melihat drama yang ada di hadapannya ini. Sedangkan Felicia dan Morgan hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya.


"Hentikan drama ini, aku ingin sarapan dengan tenang, Zidane, urusi pelayan ini!" titah sang Papa yang langsung di angguki oleh Zidane.


"Kamu, dalam dua jam kemasi barang-baranhmu dan segera pergi dari sini!" Caroline tersenyum lebar dengan apa yang ia dengar, sejujurnya Caroline sudah malas dengan pelayan itu, mulutnya sangat pedas dan sangat suka meremehkan orang lain.


"Tuan, maafkan saya!"


"Sudah-sudah, kami sudah memaafkan mu, tapi sebagai konsekuensi karena kamu tidak menyukai calon menantu kami dan sangat di takutkan nanti akan berdampak pada pelayan lainnya yang ada di rumah ini, ya inilah pilihan terbaiknya, tenang saja nanti akan dapat uang pesangon," ucap Felicia.


Akhirnya drama tentang pembantu yang suka membicarakan majikannya bahkan menjelek-jelekkan di belakangnya selesai, masalah ini juga harus bisa menjadi pelajaran bagi para pelayan lainnya agar mereka bisa menjaga mulut dan tidak sesuka hati mereka di rumah itu.


Bersambung.


Hai akak reader semuanya 🥰 aku mau promosi novel keren karya sahabat aku.


Judul : BUKAN DIJODOHKAN

__ADS_1


Author : Kaka Shan



__ADS_2