
Masjid yang bernuansa hijau dengan tembok marmer berwarna cream ditambah lagi memiliki enam AC di lantai satu, membuat semua orang yang masuk di dalamnya merasa nyaman.
Anders menuju masjid itu, mengambil air wudhu di sebelah barat sisi masjid.
Ia pun langsung menunaikan shalatnya dengan tenang. Setelahnya, ia pun memutuskan untuk duduk di teras masjid yang terasa dingin itu sembari menunggu bel masuk berbunyi.
Anders mendongak ke atas menatap langit-langit teras masjid yang dibuat banyak sekali ukiran dengan nuansa warna biru muda yang menggambarkan langit seperti pada kebanyakan masjid.
Di atas sana terdapat sebuah ayat Al-Quran, jika diterjemahkan per kata dalam ayat tersebut. Ada satu kata yang mengingatkan dirinya pada kedua orang tuanya. Kata itu adalah ridho.
Tidak mungkin ia bisa menggapai mimpi-mimpinya bahkan memasuki SMA ini jika ia tidak mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
Anders kemudian menundukkan wajahnya dan memejamkan matanya. Membayangkan bagaimana perjuangan kedua orang tuanya saat ini. Ia berterima kasih pada Tuhan dan kedua orang tuanya dalam hati.
“Ma, Pa. Terima kasih atas dukungan dan restunya untuk semua yang telah Anders lakukan.” gumamnya dalam hati.
Sesaat setelah termenung, bel masuk berdentang dengan cukup keras. Ia segera memakai sepatunya. Dan berjalan menuju aula.
Rute dari masjid menuju aula, melewati depan koperasi dan ruang guru, serta ruang BK yang saling berdampingan ruang komite sekolah.
__ADS_1
Ketika ia melewati koperasi, ia melihat Ridha sedang mengantri disana. Spontan saja, yang harusnya ia tinggal berjalan lurus, ia tiba-tiba berganti arah dan masuk ke dalam koperasi.
Dilihatnya Ridha berada di antrian keempat dan tiga orang di depannya sama-sama membeli satu barang.
Ia pun bergegas melihat apa yang dibeli oleh Ridha dan mencarinya di rak yang ada di dalam koperasi.
Ketika waktunya Ridha di depan kasir, ia pun segera menyusulnya dan langsung meletakkan snack yang sama persis.
Ridha yang tidak menyadari masuknya Anders pun terkejut ketika ada orang yang menyerobot antriannya.
Bukannya marah, malah Ridha mengambil snacknya kembali dan mempersilahkan Anders untuk membayar terlebih dahulu.
“Permisi mas, saya ambil snack dua.”
Kasir koperasi itu pun bingung, dan bertanya kepada Anders.
“Satu lagi dibawa oleh perempuan di sebelah saya.” ujarnya singkat.
Ridha pun terkejut mendengar apa yang telah dikatakan Anders, terlihat dari matanya dan bagaimana ia mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Kasir pun tak mau berdebat dan ambil pusing. Segera ia masukkan bill untuk dua bungkus snack.
Anders membayarnya dengan santai. Setelah mendapatkan nota pembayaran, Anders pun menoleh kepada Ridha.
“Ayo ke aula, daripada telat.” ajak Anders.
Ridha yang masih bingung dan belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi mengikuti, tetap mengikuti perkataan Anders.
Anders berjalan menuju aula mendahului Ridha. Ridha hanya terdiam di belakangnya.
Setibanya di depan pintu aula, Anders tiba-tiba berhenti dan membukakan pintu aula untuk Ridha.
“Terima kasih.” ucap Ridha singkat.
Hal itu membuat Anders sangat bahagia. Ia merasa sangat senang apabila ada orang lain yang kebingungan karena suatu kebaikan. Entah kebaikan yang dilakukan orang lain atau oleh dirinya sendiri.
Begitulah Anders, ia merupakan orang yang tidak hanya royal tapi juga loyal kepada siapapun yang menurutnya pantas untuk mendapatkannya.
Kali ini, Ridha yang akan menjadi tuan putrinya.
__ADS_1