KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 024


__ADS_3

Cukup lama Anders mendengarkan instrumen itu, bahkan saat ini instrumen sudah berputar sebanyak tiga kali.


Dengan tenangnya ia merebahkan dirinya di atas kasur dan memejamkan mata, tanpa sadar Anders membayangkan sosok perempuan yang berjalan anggun dengan wedding dress berwarna cream.


Ia memandang perempuan itu dari belakang, juga melihat sekelilingnya banyak sekali tamu yang tersenyum lebar dan bertepuk tangan.


Di sebelah kanannya, ada papa, mama dan adik kecilnya yang memancarkan wajah bahagia mereka.


Anders tenggelam dalam bayangannya, ia tersenyum tanpa sadar. Ia melihat di sisi kirinya terdapat orang-orang yang juga tersenyum bahagia.


Ketika ia mendongakkan kepala ke atas langit, ia yang awalnya tersenyum tipis tiba-tiba mengernyitkan dahi.


Ia bertanya siapakah sebenarnya perempuan yang ada di balik wedding dress itu. Anders berjalan pelan menghampiri perempuan itu.


Dalam bayangannya, perempuan itu tertawa dan meminta Anders untuk mengejarnya.


Anders pun berlari mengejar perempuan itu sembari mendengarkan nada dan intonasi bagaimana perempuan itu berbicara.


Hingga pada akhirnya, dalam bayangan itu Anders berhenti terlebih dahulu untuk berlari. Sementara perempuan itu, tetap tanpa sadar menjauh dan tidak melihat ke belakang lagi.


Hmmhh..


Suara helaan nafas panjang Anders mengakhiri bayangan itu, ia mengusap matanya memastikan kembali bahwa ia telah sadar sepenuhnya.


Langit-langit kamar berwarna putih dengan aksen abu-abu muda sebagai hiasan minor saat ini menjadi satu-satunya hal yang ia lihat.


Bahkan langit-langit itu pun juga hanya diam dan tidak membatu Anders untuk memberikan sebuah petunjuk dari apa yang baru saja ia bayangkan.


Ia mencoba mengingat kembali bagaimana suara perempuan itu. Tetapi ia tidak bisa, hanya nada ketika perempuan itu memanggil namanya dengan dibumbui tertawa tipis sebagai pengiringnya.


Saat ini, Anders berusaha untuk memainkan logikanya. Dengan segala pengetahuan dan wawasannya yang luas, ia mencoba menerka siapa perempuan yang seharusnya ia bayangkan.


Tidak mungkin bagi seseorang untuk membayangkan orang lain yang belum pernah ditemui. Hal itu mustahil, karena otak manusia tidak sanggup untuk melakukan hal itu.


Begitulah isi salah satu kalimat dalam buku bacaan ilmiah yang pernah ia baca.


Dengan pernyataan seperti itu, ia bisa menyimpulkan bahwa perempuan dalam bayangannya adalah orang yang pernah Anders temui.


Lalu ia mencoba meruntut lagi ilmu yang ia punya. Memori yang paling kuat adalah ketika suatu hal dilakukan secara berulang dengan kesan yang eksplosif.

__ADS_1


Kesan eksplosif disini bisa jadi sebuah trauma yang menyakitkan ataupun kebahagiaan yang tidak bisa tergantikan.


Anders mencoba mengingat apa kegiatan berulang itu dan dengan siapa ia paling banyak mendapatkan kesan yang serupa.


Namun, yang muncul dalam benaknya adalah papa, mama, dan Syifa. Ia langsung menepis semua itu, karena mereka menyayangi mereka sebagai keluarga.


Ia juga paham bahwa ada etika untuk berkhayal terhadap seseorang.


Kemampuannya pun saat ini sedang diuji, ia mengorek kembali apa yang pernah ia pelajari.


Ada pengecualian yang terlewat untuk kasus memori yang tadi disebutkan. Anders sambil terbaring dan menatap serius langit-langit kamarnya, tiba-tiba duduk dan meraih ponselnya.


Secepat kilat dirinya langsung membuka catatan yang tersimpan di cloud miliknya.


Ia menggulir ke atas layar ponselnya itu dengan perlahan dan mencari kata “memori” yang ada disana.


Seingatnya, Anders pernah membuat catatan khusus tentang bagaimana cara kerja sebuah memori.


“Eureka.” ucapnya pelan.


Eureka merupakan bahasa Yunani yang berarti “aku telah menemukannya”. Anders menemukan catatan miliknya. Terakhir ia menulis tentang memori adalah sekitar satu tahun yang lalu.


Lima belas menit berlalu dan Anders masih belum menemukan apa yang dicarinya. Hal ini membuatnya kesal.


Namun ia bukannya berhenti membaca, atau mempercepat tempo bacaannya seperti yang orang umum lakukan jika tidak segera menemukan sesuatu.


Lain halnya dengan dirinya, yang lebih memilih untuk melambatkan temponya dan menggaris bawahi setiap kata yang ia baca dalam otaknya.


Memori yang paling kuat adalah ketika suatu hal dilakukan secara berulang dengan kesan yang eksplosif. Namun, ada satu pengecualian untuk hal itu, yakni ketika ada satu hal, meskipun tidak terjadi berulang tetapi meninggalkan kesan bimbang.


Anders akhirnya menemukan apa yang ia cari. Ia meresapi kutipan dari sebuah yang ia ketik dalam catatan di dalam ponselnya.


Tidak ingin terburu-buru untuk menyimpulkan, Anders memutuskan untuk memikirkan semua itu di bawah shower dengan guyuran air hangat yang membuat dirinya lebih tenang.


Ia bangkit dari kasurnya dan keluar menuju lantai tiga untuk mengambil handuknya yang tengah dijemur.


Terlihat cuaca sedang mendung, walaupun awan tidak begitu tebal.


Setelah mengambil handuk miliknya, ia segera kembali menuju kamarnya, dan bersiap untuk mandi.

__ADS_1


Knop pengatur suhu air ia putar ke arah kanan hingga menunjukkan 98°F atau sekitar 37° dalam skala Celcius.


Suhu yang menurut Anders pas, tidak dingin dan tidak terlalu panas untuk menghangatkan tubuhnya.


Beberapa menit berlangsung, ia akhirnya memutuskan untuk berendam dengan air hangat di bathtub miliknya.


Ia mencoba untuk rileks dan melepaskan semua pikiran yang mengganggunya hari ini.


Terlalu banyak kejadian yang tidak ia duga telah terjadi dalam kurun waktu hanya beberapa jam.


Untuk kali kedua setelah mengingat momen bersama dengan sahabatnya, Anders merasa nyaman dan tenang.


Dalam lubuk hatinya, ia berterima kasih kepada air hangat yang selalu ada ketika ia dibutuhkan. Air hangat yang selalu membantunya melepaskan segala kepenatan yang ia rasakan.


Bahkan, jika air hangat bisa berbicara dan meminta sesuatu atas jasanya, ia akan segera mengabulkan permintaan itu.


Di dalam bathtub miliknya dengan ketenangan yang ia rasakan, Anders tidak mendengar bahwa dari tadi ia dipanggil oleh adiknya untuk segera turun.


“Kakak.. kakak.. apa kakak tidur?” tanya Syifa sambil berteriak.


Anders masih tidak mendengar teriakan adik kecilnya.


Hingga beberapa kali Syifa berteriak dan akhirnya pergi naik ke lantai dua menuju kamar Anders.


Syifa mengetuk pintu beberapa kali dan Anders masih belum mendengarnya. Alex menyuruh Syifa untuk berteriak, barangkali putra sulungnya itu tertidur karena merasa terlalu capek.


“Kakak, keluar. Masak sama mama sama Syifa. Cepetan!” Syifa merengek kesal.


“Iya sayang, sebentar.” jawab Anders terkejut.


Syifa yang baru saja mendengar jawaban dari kakak laki-lakinya bergegas kembali turun ke dapur menuju mama dan papanya.


Sore ini, Lisa mengajak seluruh keluarganya untuk memasak bersama sekaligus makan malam.


Lisa sudah lama merindukan momen memasak bersama seperti ini. Dulu, ketika Anders masih kecil, hampir setiap hari Sabtu sore ia dan suaminya memasak di dapur dan mengajak Anders.


Meskipun saat itu, Anders hanya bisa bermain sayur yang ia imajinasikan sebagai sebuah robot dan kendaraan. Namun hal itulah yang Lisa rindukan.


Anders akhirnya turun dari kamarnya dan sampai di ruang dapur.

__ADS_1


Disana ia melihat papa dan mamanya sedang kompak bekerja sama untuk memasak sesuatu. Sedangkan Syifa sedang asyik bermain dengan anjing kesayangannya.


__ADS_2