
Di dalam keluarga Anders, yang paling cepat menghabiskan makanan adalah Anders.
Ia bisa makan dua porsi ketika yang lainnya belum menghabiskan porsi pertama mereka.
Tapi seperti itulah Anders, ia masih terngiang ketika guru mengajinya semasa kecil dulu mengatakan bahwa orang yang dengan sengaja makan lalu tidak segera dihabiskan, maka sebenarnya ia sedang makan dengan setan.
Hal yang dikatakan oleh guru ngajinya membuat Anders jijik, karena begitu banyaknya film yang ia tonton. Kebanyakan menggambarkan setan dengan penampilan yang begitu buruk.
Lidah yang terlalu panjang, hingga gigi yang penuh darah. Itu salah satu alasan mengapa dulu Anders makan begitu tergesa-gesa.
Hingga sekarang ini, pada akhirnya ia memang sudah terbiasa memakan makanan dengan tempo cepat namun tidak tergesa-gesa.
“Ma, mama masih lama?” tanya Anders kepada mamanya.
“Bentar lagi sayang, kenapa?”
“Anders mau ngobrol tentang pengalaman mama ketika MOS dulu.” jawabnya menyamarkan, padahal ia ingin bercerita lagi tentang perempuan bernama Ridha itu.
Lisa mengangguk mengiyakan. Ia tahu bahwa dalam kalimat jawaban yang dilontarkan oleh Anders hanyalah sebuah cover.
Dalam hatinya, ia ingin menanyakan kepada putranya satu ini mengapa Anders begitu menutupi hal ini kepada ayahnya.
Anders kemudian beranjak mengambil air minum dan pergi ke studio di lantai dua.
Ia menunggu mamanya cukup lama. Studio yang awalnya gelap, tiba-tiba menyala memutar video musik dari sebuah lagu berjudul Con te Partiro.
Dalam bahasa Inggris, lagu itu berjudul Time to Say Goodbye.
Anders dalam hati bertanya, mengapa mamanya memutar lagu ini, padahal ia baru saja bercerita tentang pertemuannya dengan seorang perempuan. Lagu ini sangat kontras dengan kejadian yang baru saja Anders alami.
Langkah kaki yang ringan terdengar menghampiri dan semakin mendekat ke arahnya. Dan ia sudah yakin bahwa itu adalah mamanya.
“Bagus ya lagunya.”
deg..
Anders begitu terkejut ketika suara yang seharusnya ia dengar adalah suara mamanya, tetapi ini adalah suara seorang perempuan yang mungkin masih sebaya dengan dirinya.
Ia langsung menoleh ke belakang, perempuan cantik dengan mata biru dan rambut hitam panjang yang terurai sepanjang bahu sedang duduk di sana.
Anders sama sekali tidak mengenal perempuan itu.
__ADS_1
“Maaf ya sudah bikin kamu terkejut untuk yang kedua kalinya.”
Kalimat kedua kalinya sontak membuat Anders semakin berpikir keras siapa perempuan ini. Ia berdiri dan berjalan mendekati perempuan itu.
Dan yang lebih membuat bingung lagi adalah, mengapa perempuan ini bisa masuk ke dalam studio ini. Apakah diijinkan oleh papa dan mamanya. Ataukah ia naik ketika di bawah sedang tidak ada orang.
Namun, rasanya tidak mungkin jika secara bersamaan satpam, papa, mama, dan bibinya tidak ada yang keluar sama sekali sehingga perempuan ini bisa melenggang bebas memasuki studio di lantai dua.
Dan bagaimana ia tahu bahwa dirinya sedang berada di sini. Itu menjadi pertanyaan tersendiri yang ingin ia tanyakan kepada perempuan asing ini.
“Anders. Who are you?” sapa Anders dengan menjulurkan tangan kanannya mengajak perempuan itu bersalaman.
Perempuan itu berdiri, dan tidak menyambut uluran tangan Anders. Ia malah melipat tangan kanannya dan membungkukkan badannya.
Anders langsung mengingat gerakan itu ia lakukan ketika berada di atas panggung. Mungkin saja perempuan ini adalah salah satu peserta games saat itu.
“Alexa.” jawabnya sambil menegakkan badannya kembali.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Anders penasaran.
“Yes, but not directly and face to face. Apakah kamu ingat ada yang memanggil namamu ketika berada di antrian menuju aula utama?”
“Kamu yang memanggilku?”
“Lalu siapa yang memanggilku?”
“Aku juga tidak mengenal siapa yang memanggilmu, saat itu aku berada di lantai dua. Aku sengaja memasuki aula di akhir barisan untuk menghindari kerumunan.” jawabnya.
“Then, how do you know me?” tanya Anders masih begitu penasaran.
“Hahaha.. setelah aku mendengar teriakan itu, aku mengamati siapa orang yang merespon dengan kebingungan. Dan kamu, satu-satunya yang menoleh ke arah belakang dengan cepat.”
Mendengar jawaban itu, Anders langsung bisa tahu bahwa perempuan ini mirip seperti mamanya. Seorang pemikir dan pengamat dan akan sangat susah untuk bermain kata-kata dengan dia.
Dalam benaknya, ia harus lebih berhati-hati karena tidak ingin terjebak di dalam permainan katanya.
“Okay, impressive. Lalu?”
“Aku kagum pada dirimu ketika melihat apa yang kamu lakukan di atas panggung terhadap teman perempuanmu itu.” jawabnya.
“Keberanian yang tidak dimiliki oleh semua orang, kerelaan untuk melepaskan kemenangan adalah hal yang langka, aku mengikutimu sepulang sekolah hingga sampai di rumah semewah ini.” tambahnya.
__ADS_1
“Is there a reason?” tanya Anders dengan nada datar berharap sedikit mengintimidasi perempuan itu.
“Nope. Bahkan aku memasuki ruangan ini dengan ijin semua orang. Aku mengenalkan diriku sebagai teman barumu kepada papa, mama, dan adikmu, Syifa.”
“Tidak perlu khawatir, aku tau kamu mewaspadai bagaimana caramu merespon pertanyaanku. Terlihat dari jari kelingking kirimu yang selalu mengetuk untuk menghitung tempo nada bicaramu.” tambahnya.
Anders semakin tidak bisa berkata-kata, pertanyaan yang bahkan belum ia pertanyakan kepada perempuan itu, sudah dijawab dengan begitu jelasnya.
Terlebih, pengamatan mikro pada hal-hal kecil yang biasanya tidak dilakukan oleh orang awam. Perempuan ini berhasil melakukannya.
Perempuan itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya. Pandangan yang sebelumnya tertuju pada Anders, saat ini ia sedang memperhatikan layar studio yang masih memutar video musik.
“Francesco Sartori, komposer handal berkebangsaan Italia, berhasil menciptakan lagu seindah ini. Apakah kamu setuju?”
Anders memikirkan pertanyaan dari perempuan itu, karena sedari tadi ia berbincang dengan perempuan itu tidak mendengar dan memperhatikan lagu yang sedang diputar di studio miliknya.
“Jangan coba mengalihkan pembicaraan denganku, perkenalkan dirimu lebih jauh.”
Alexa tersenyum, dan meraih kopi yang ada di tempat duduknya tadi. Ia dengan santainya menyeruput minuman itu.
“Alexa Aurelia Renata.” jawabnya. “Ingin tau arti namaku?” imbuhnya.
Lagi-lagi Anders dibikin terkejut oleh pertanyaan Alexa. Pertanyaan yang sangat tidak umum untuk ditanyakan.
“Seseorang yang terlahir kembali sebagai pelindung emas.”
“Aku yakin kamu hanya mengetahui sebatas arti tiap kata nama milikmu.” ujar Anders dengan begitu yakin.
Alexa tertawa.
“Hahaha.. Emas adalah hal yang berharga, jika sebuah hubungan menurutku hal yang berharga, maka itu setara dengan emas. Dan aku harus mati-matian untuk melindunginya.” jelas Alexa dengan tenang.
“Tidak usah terlalu terkejut seperti itu. Dalam hidupku, aku sudah terbiasa untuk mengamati banyak hal.” ujarnya.
Anders berdiri termenung dengan semua pertanyaan dan jawaban dari seorang perempuan asing yang baru saja ia temui.
“Semoga kita bisa bertemu lagi, dan semoga kamu tidak merasa canggung ketika bertemu denganku. See you later.”
Alexa mengucapkan kalimat itu, dengan melangkah keluar studio dan meninggalkan Anders sendirian disana.
Satu kejadian aneh lagi yang terjadi dalam satu hari. Belum sempat ia menceritakan kembali masalah Ridha kepada mamanya.
__ADS_1
Kali ini, ia sudah mendapatkan hal baru lagi, yakni bertemu dengan sosok Alexa Aurelia Renata.