KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 065


__ADS_3

Malam ini, malam weekend yang biasanya ketika SMA, Anders dan Ridha memutuskan untuk berjalan-jalan bersama.


Berhubung saat ini keduanya sedang menjalani LDR, maka yang bisa mereka lakukan hanyalah sebatas bercengkrama melalui panggilan video.


“Halo sayang. Gimana kabarnya?” sapa Anders pada kekasihnya itu.


“Halo juga, seminggu ini bener-bener sibuk banget sih.”


Ridha saat ini sudah diterima di jurusan Kedokteran Gigi di salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya.


Masa ospek dan pengenalan yang dilakukan di universitas itu tergantung pada kebijakan masing-masing fakultas.


Fakultas kedokteran gigi, terkenal dengan salah satu masa ospek yang panjang.


Ridha mengeluh karena ia tidak menyangka jika fakultasnya tahun ini memutuskan untuk melaksanakan masa ospek dan pengenalan kampus selama satu bulan penuh.


Tak ayal jika banyak sekali tugas-tugas remeh yang saling tumpuk satu sama lain.


Ada beberapa tugas yang membuat Ridha semakin jengkel, yaitu mengumpulkan beberapa artikel yang tercetak dalam koran yang membahas tentang universitas ataupun fakultasnya.


Bagi mahasiswa fakultas kedokteran gigi, hal itu sangat susah sekali untuk dilakukan.


Bahkan ada yang rela pergi ke perpustakaan kota untuk mencari apa yang ditugaskan.


Mereka mencari dari tahun ke tahun koran yang memuat artikel tentang universitas atau fakultas mereka.


Ridha, yang sudah menemukan beberapa artikel akhirnya menemui jalan buntu juga.


Ia sampai menelepon keluarganya dan meminta anggota keluarganya untuk mengirimkan semua koran yang masih utuh untuk mengirimkan ke alamat kost tempat ia tinggal.


Hanya demi menemukan artikel yang ia butuhkan dan memenuhi buku tugas ospeknya. Dan ada satu lagi tugas yang membuat kepala Ridha pening tujuh keliling.


Ia mendapat tugas dari panitia ospek untuk mencari jurnal internasional dan menerjemahkannya yang nantinya masing-masing mahasiswa harus bisa mempresentasikannya.


Mahasiswa baru, yang ketika duduk di bangku SMA sama sekali tidak pernah mengenal dan mengulik apa itu jurnal internasional dan semua instrumennya.


Kini tiba-tiba mendapat tugas yang membuat para mahasiswa menepuk jidat mereka.


“Kasian banget pacarku ini, semangat sayang.” goda Anders untuk membuat Ridha lebih bersemangat.


“Dih, semangat doang mah aku juga bisa kali.”


“Mau disamperin?” tanya Anders.

__ADS_1


Perpisahan keduanya dari yang awalnya satu SMA dan sering sekali bertemu, hingga masuk kuliah hanya berjarak sekitar satu bulan.


Namun, Ridha merasa ia masih belum terbiasa dengan kondisi ini. Ia kangen dengan pelukan hangat yang diberikan oleh Anders ketika ia sedang mengeluh.


Saat ini, ia hanya bisa menyemangati dirinya sendiri dan memeluk dirinya sendiri.


Sebenarnya, Ridha sangat ingin menjawab tawaran itu dengan kata ya. Tetapi ia berpikir betapa egoisnya dirinya jika meminta Anders untuk datang jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya hanya untuk memeluk dirinya.


Ia juga berpikir, pasti disana Anders merasakan hal yang hampir sama dengan apa yang Ridha rasakan saat ini.


“Nggak perlu sayang, I’m okay here.” ucap Ridha dengan tegas.


“Yakin nih? Tawaran nggak datang dua kali tau.”


Pertanyaan itu semakin membuat Ridha tidak bisa menahan rasa rindunya pada Anders. Ia berteriak di depan Anders.


“Hahahaha..” terdengar suara Anders menertawakan Ridha yang sedang berteriak.


“Udahlah, jangan digodain terus. Kasian loh aku.” ucap Ridha memelas.


Anders pun menghentikan kejahilannya, ia tidak ingin berlebihan dan malah membuat mood Ridha semakin buruk nantinya.


“Kamu sendiri gimana? Ospeknya lancar?” tanya Ridha pada kekasihnya.


“Salah sih sepertinya kalau aku tanya hal ini ke kamu. Pasti jawabannya seperti itu.”


Ridha sendiri pun mengakui bagaimana Anders bisa menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.


Sebanyak apapun tugas, sesusah apapun model yang diberikan, jika waktu yang diberikan masuk akal. Maka sangat mudah bagi Anders untuk menuntaskannya dengan baik.


Anders saat ini yang menempuh jurusan manajemen di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta, merasa sangat bersyukur karena bisa satu langkah lebih dekat menuju cita-citanya.


Semakin hari, bulan demi bulan pun tidak terasa mereka berdua lewati.


Kesibukan yang sangat menyita waktu mereka berdua.


Mata kuliah yang semakin berat ditambah lagi kegiatan organisasi, membuat keduanya semakin jarang untuk bertukar kabar.


Ketika hari Minggu, yang biasanya Anders menelepon Ridha untuk menanyakan kabar. Kali ini Anders tidak melakukannya.


Ia masih disibukkan dengan tergabung menjadi panitia untuk perayaan dies natalis universitas.


Suara nada dering panggilan masuk terdengar pada ponsel milik Anders yang saat ini sedang berada di dalam tas.

__ADS_1


Anders yang tengah rapat dengan divisinya, tentu saja tidak mendengar bahwa ada panggilan masuk itu.


Banyak sekali pesan yang sudah dikirimkan Ridha dari siang hingga saat ini, pukul 20.00 malam.


Ridha tidak mengetahui bahwa Anders menjadi panitia dies natalis itu. Karena sebelumnya, Anders tidak pernah bercerita.


Hanya cerita tentang kesibukan akademik dan beberapa konflik kecil yang terjadi di  kelasnya.


Hingga pukul 22.00, Ridha juga tak kunjung mendapatkan balasan atau respon dalam bentuk apapun.


Itu membuatnya sedikit jengkel, mengingat bahwa hari ini adalah hari Sabtu yang seharusnya menjadi hari libur bagi semua mahasiswa.


Hubungan keduanya, memang terlihat semakin renggang dalam hal komunikasi.


Meskipun seperti itu, keduanya masih cukup sering untuk mengirimkan makanan melalui platform online.


Ridha yang sudah mengetahui jadwal belajar Anders, terkadang mengirimkan beberapa snack yang menjadi kesukaan Anders.


Begitupun sebaliknya, Anders juga sangat sering mengirimkan makanan untuk Ridha, sebagai teman lembur tugasnya.


Hanya dalam hal komunikasi saja, mereka berdua masih belum menemukan titik cerah.


Waktu kesibukan yang berbeda, dan porsi kesibukan yang berbeda pula membuat mereka tidak bisa memiliki waktu luang yang sama.


Prioritas bagi keduanya timpang dengan sendirinya tanpa mereka sadari.


Anders, yang terlalu fokus dengan kuliahnya seringkali mengabaikan Ridha tanpa sengaja.


Sedangkan Ridha, yang dalam kuliahnya mendapatkan jam praktikum banyak di hari libur juga secara tidak langsung mengurangi porsi komunikasi mereka berdua yang sebelumnya mereka sepakati.


Namun, kali ini Ridha menelepon Anders ingin mengatakan, bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.


Menurut dokter, Ridha terlalu memforsir dirinya untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Alhasil, pagi itu ketika ia bangun dari tidurnya, ia mengalami mimisan yang cukup parah.


Saat ini, Ridha sedang terbaring lemas di atas kasur rumah sakit. Ia berharap, Anders mengetahui kondisinya.


Meskipun nantinya Anders tidak bisa datang menjenguknya, tapi paling tidak ia mendapatkan dukungan dan semangat.


Orang tua Ridha juga sudah mendapatkan kabar mengenai kondisinya saat ini.


Ridha tinggal menunggu kedatangan mereka esok hari, dan mendapat pelukan dari kedua orang tuanya.


Beberapa teman dekat yang ada di kelasnya, juga rela untuk menginap di ruangan tempat Ridha terbaring saat ini.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, Ridha menyerah untuk menghubungi Anders. Ia mencoba merilekskan pikirannya. Melepaskan semua dugaan buruk yang datang menghantui kepalanya.


__ADS_2