
Dalam perjalanan pulang, ia melihat banyak sekali pedagang jajanan tradisional. Dan itu membuat jalan yang ia lewati macet karena banyaknya parkir liar.
Anders merasa sedikit kesal karena hal itu cukup mengganggu. Ia membayangkan harus melalui jalan ini setiap hari sepulang sekolah.
Belum lagi bagaimana nantinya jika di sekolah diberikan banyak tugas rumah, dan ditambah masalah-masalah pribadi antar teman yang pasti akan ia alami.
Jika untuk melalui jalan lain, akan memakan waktu yang lebih lama lagi dibandingkan bersabar di dalam kemacetan ini.
Untuk menuju Rumah Anders hanya terdapat dua jalan utama melalui sisi utara dan barat. Dan jalan yang saat ini ia lewati adalah jalan sisi utara, sekaligus rute terdekat dari rumah menuju sekolahnya.
Sisi barat menjadi alternatif apabila ia sedang tidak dikejar oleh waktu. Memang, sisi barat tidak akan mengalami kemacetan yang seperti sekarang ini sedang terjadi.
Tetapi di sana akan melewati dua desa yang berbeda. Dikelilingi oleh lahan persawahan yang masih luas. Yang menjadi masalah Anders adalah jalan disana masih belum diaspal.
Rute sisi barat itu 70% merupakan jalan yang berupa tanah padat, dan juga masih cukup banyak lubang yang membahayakan bagi dirinya yang sangat senang memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Selain itu, jika ia memilih untuk melewati sisi barat, maka ia harus berjalan pelan karena masih banyaknya aktivitas petani yang berlalu-lalang di dua desa itu baik pagi ketika ia berangkat sekolah maupun sore hari ketika pulang sekolah.
Maka dari itu, ia lebih memilih untuk menahan rasa amarahnya di tengah kemacetan ini. Dengan perpaduan polusi dari kendaraan bermotor dan asap penggorengan para pedagang yang tidak semuanya berbau sedap.
Ditambah lagi, banyak sampah berserakan di sekitar daerah itu yang baru diangkut ketika malam hari.
Sudah hampir dua puluh menit akhirnya ia berhasil menerjang kemacetan itu dan keluar dengan bebas.
Ia merasa begitu lega karena tidak tersulut emosi ketika terjebak di dalam sana.
Anders merasa orang-orang sangatlah aneh, sudah tahu bahwa kemacetan akan memakan waktu. Tetapi banyak orang yang masih dengan ringannya menekan klakson hampir tiap sepuluh detik.
Dalam benaknya, mengapa jika sudah tahu bahwa tiap sore akan terjadi kemacetan, mereka tidak memilih menggunakan motor yang notabene bisa lebih meliuk-liuk mencari celah untuk menyalip mobil yang ada di depannya.
Ia pun bersyukur karena ketika masa orientasi siswa berlangsung ia lebih memilih menaiki motornya daripada mobilnya.
__ADS_1
“Untung bawa motor, jadi bisa sampai rumah lebih cepat.” bersyukurnya dalam hati.
Sesampainya di depan rumah, ia disambut oleh satpamnya. Ya, benar. Seorang satpam.
Rumah Anders begitu mewah dan megah. Di halaman depan rumahnya terdapat kolam ikan berbentuk oval yang begitu besar diiringi dengan air mancur yang ada di bagian tengahnya.
Air mancur kolam itu bisa menari ketika ada yang menyetel musik pada komputer pengaturnya dari dalam garasi.
Di malam hari, kolam itu terlihat sangat indah karena ada lampu yang juga bisa menyesuaikan dengan musik yang diputar.
Rumahnya memiliki tiga lantai. Pada lantai pertama, terdapat kamar orang tuanya, kamar adiknya, dapur, ruang tamu, dan ruang makan.
Tidak usah ditanya ada berapa kamar mandi di lantai satu, masing-masing kamar memiliki kamar mandinya sendiri di dalamnya. Ditambah satu kamar mandi yang ada di seberang dapur dan bersebelahan dengan ruang makan.
Di lantai dua, terdapat kamar milik Anders, di sebelahnya terdapat studio pribadi tempat berkumpul keluarga untuk menonton film bersama.
__ADS_1
Di depan kamarnya, terdapat alat-alat gym yang lengkap yang biasa ia gunakan ketika hari Sabtu dan Minggu. Dan juga, di lantai dua terdapat ruangan kerja milik ayah dan ibunya.
Sedangkan, di lantai tiga hanya berisi jemuran dan juga kamar untuk asisten rumah tangga yang menetap di rumah itu untuk bekerja.