KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 013


__ADS_3

Permainan pun dimulai, masing-masing pasangan harus bisa menebak nama hewan yang telah diperagakan oleh rekan setimnya.


Mereka secara bersamaan mendapatkan nama hewan yang sama. Ronde pertama ada lima peragaan. Dan ronde kedua dengan lima peragaan.


Jadi, setiap orang dalam pasangan mendapatkan jumlah peraga yang sama. Anders pun bertanya kepada Ridha.


“Kamu yang menebak dulu? atau aku?” tanya Anders.


“I’ll guess.”


“Okay, no problem.” balas Anders.


Akhirnya mereka dua puluh orang berlomba untuk menebak secepat dan seakurat mungkin.


Lima peragaan telah dilakukan oleh salah satu orang dari masing-masing pasangan. Saat ini, tim biru mendapatkan tiga poin.


Hal itu karena Anders memperagakan hewan yang menjadi pertanyaan begitu totalitas hingga membuat Ridha dan semua orang tertawa.


Begitu juga dengan Ridha yang sangat peka dan kreatif menyebutkan nama hewan yang telah diperagakan oleh Anders.


Kini giliran Ridha untuk maju di depan Anders dan memeragakan pertanyaan yang akan diberikan nantinya.


Namun, Ridha terlihat tidak segera maju. Hingga diperingatkan oleh panitia untuk segera melakukan sesuai dengan peraturan permainan.


Anders bertanya kepada Ridha, ia menyadari bahwa Ridha tidak siap untuk melakukan ini.


“Are you okay?”


Ridha yang mendengar pertanyaan itu dari Anders, akhirnya berjalan perlahan menuju ke depan Anders.


Kartu pertanyaan pun sudah disiapkan, dan Ridha pun sudah membacanya. Ketika hitungan mundur dimulai. Peserta lain langsung memeragakan nama yang tertera di kartu itu.


Tidak dengan Ridha. Ia hanya diam dan menunduk. Anders pun tersenyum. Ia meraih tangan Ridha dan berkata,


“It’s okay. Come here.”

__ADS_1


Anders menarik tangan Ridha dan menyejajarkan Ridha di sampingnya. Ia mengangkat tangan kepada panitia.


Agistia pun langsung merespon. “Ya, kenapa?”


“Kita menyerah.”


“Tidak bisa, karena kalian sedang dalam permainan.” jawab Agistia tegas.


“Kalau begitu, biarkan kami berdua berdiri disini tanpa menebak. Apakah itu tidak sama dengan menyerah?” tanya Anders sedikit menekan.


Agistia menghela nafas, dan akhirnya mengijinkan mereka berdua turun dari atas panggung.


Anders dengan cepat menggandeng tangan Ridha dan membuat perempuan itu terkejut.


Semua orang langsung berteriak dan membuat riuh seisi aula. Ridha hanya bisa terdiam sambil berjalan kembali menuju kursinya.


Ketika sampai di kursi mereka masing-masing, Anders masih tidak mau melepaskan genggaman tangannya.


“Maafkan aku.” ucap Ridha lirih.


“Tetapi aku sudah mengecewakanmu, aku tidak melakukan tugasku dengan baik.” Ridha berkata sambil menunduk, tidak berani menatap Anders.


Mendengar hal itu, Anders langsung beranjak dari bangkunya dan duduk di lantai tepat di depan Ridha.


“Look at me.”


Ridha melihat ke arah Anders dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tidak terlihat marah atau kecewa bukan?” tanya Anders pelan.


Ridha menggelengkan kepalanya. Dan kembali menunduk mengalihkan pandangannya dari Anders.


Anders pun kembali ke tempat duduknya sambil tetap memegang erat tangan Ridha.


Permainan masih terus dilanjutkan, hingga akhirnya tim warna coklat lah yang memenangkannya sebagai juara satu, dan tim warna abu-abu menempati posisi kedua.

__ADS_1


Keempat orang yang berada di dalam itu masing-masing mendapatkan hadiah dari panitia berupa uang tunai dan beberapa alat kebutuhan sekolah dan juga snack.


Terima kasih semua atas partisipasi dan antusiasme yang telah diberikan oleh semua siswa baru. Sampai jumpa di esok hari. Saya Agistia mohon undur diri.


Semua siswa bertepuk tangan dengan meriah dan kompak menandai berakhirnya rangkaian acara hari ketiga ini.


Anders juga akhirnya melepaskan genggaman tangannya dan ikut bertepuk tangan untuk menghargai kerja keras panitia dalam menyiapkan permainan tadi.


Setelah penutupan itu, semua siswa sudah terbebas dari ikatan acara sekolah.


Ada beberapa siswa yang memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya sendiri.


Ada juga beberapa yang masih ingin berada di sekolah, melihat kakak kelas yang sedang berlatih di tempat ekstrakurikulernya masing-masing.


Namun, sebagian siswa juga menuju ke koperasi sekolah untuk membeli snack dan minuman.


Anders mengemasi barang yang ia bawa, dan segera memasukkannya ke dalam tas dengan rapi.


“Apakah masih ingin berdiam dan duduk hingga malam disini?” tanya Anders kepada Ridha.


Ridha tanpa menjawab juga akhirnya mengemasi barang-barangnya. Ia langsung berdiri dan meninggalkan Anders setelah semua sudah masuk ke dalam tas.


Tidak ada kata perpisahan atau sampai jumpa yang dilontarkan oleh Ridha.


Anders tersenyum, dan memaklumi semua yang telah dilakukan oleh perempuan itu.


Saat ini, tinggal Anders satu-satunya siswa baru yang ada di dalam aula utama.


Di dalam sana, tersisa beberapa panitia yang juga sedang merapikan peralatan yang baru saja digunakan.


Ada juga beberapa guru yang sedang bercengkrama satu sama lain, mungkin sedang membicarakan baik buruknya acara MOS hari ini.


Anders menatap ke arah langit-langit yang dicat dengan perpaduan antara warna putih dominan dan aksen orange.


Ia masih tidak menyangka bahwa hari ini menjadi hari yang sangat baik bagi dirinya dan ia anggap sebagai hari penyambutan kedatangannya di SMA ini.

__ADS_1


Anders tersenyum. Memejamkan mata sejenak. Lalu ia beranjak dari bangkunya dan berjalan meninggalkan aula utama itu.


__ADS_2