
Alexa Aurelia Renata, seorang anak dari pasangan Indonesia dan Jerman. Sebagai seorang perempuan, ia dianugerahi oleh Tuhan dengan paras yang sangat cantik.
Tidak ada yang meragukan kecantikan pada wajahnya. Sejak bayi, banyak semua orang sudah memujinya karena kecantikannya.
Rasanya saat ini, bagi dirinya pujian adalah hal yang biasa ia terima. Dan ketika ia mendapatkan pujian dari orang lain, maka tidak akan berdampak apapun pada detak jantungnya.
Tidak berdetak lebih cepat karena adrenalin terpacu, ataupun tidak berdetak melambat karena merasa diayomi dan nyaman.
Ucapan terima kasih yang ia lontarkan kepada orang-orang yang bertemu dengan dirinya dan memujinya, sudah menjadi kewajiban dan spontan keluar dari mulutnya begitu saja.
Selain itu, Alexa adalah perempuan yang cerdas dan memiliki standar kepribadian yang tinggi.
Ia bisa seperti itu karena didikan kedua orang tuanya. Menjadi anak yang pintar dan cantik, seharusnya menjadi dambaan setiap perempuan.
Dan menjadi impian seorang laki-laki untuk menjadikannya pasangan. Namun, itu tidak berlaku bagi seorang Alexa dan itulah yang terjadi di dalam hidupnya.
Sebegitu pandai dan cantiknya Alexa, membuat banyak teman-temannya khususnya yang laki-laki merasa minder dan tidak berani mendekati Alexa lebih jauh.
__ADS_1
Hanya sekedar berkenalan dan menjadi teman di kelas. Mereka lebih dulu merasa takut akan kelebihan yang dimiliki Alexa.
Padahal, Alexa sendiri ingin dianggap sebagai perempuan normal yang juga bisa bercanda dan tertawa dengan siapapun.
Dalam hatinya ia juga menginginkan bisa mengenal apa itu kasih sayang dari orang lain selain kedua orang tuanya.
Ya, Alexa adalah anak tunggal. Ia tidak pernah merasakan bagaimana dilindungi dan diayomi oleh seorang kakak.
Alexa juga tidak pernah merasakan bagaimana bagaimana susahnya menenangkan seorang adik yang sedang menangis karena mainan milik mereka rusak.
Tak ayal jika terkadang Alexa mendambakan seorang lelaki yang bisa menjadi kakaknya, dan mengayomi dirinya.
Dalam hal pelajaran, tidak perlu diragukan lagi. Kedua orang tuanya merupakan Guru Besar di salah satu universitas ternama.
Ayahnya, merupakan guru besar di bidang ilmu manajemen. Ibunya, juga merupakan seorang guru besar di universitas yang sama, namun berbeda jurusan.
Ibunya, mendalami ilmu hukum dan berhasil menjadi guru besar di bidang tersebut.
__ADS_1
Dilihat bagaimana kedua orang tuanya saja, sudah bisa dikenali bagaimana kemampuannya di dalam bidang akademik.
Alexa pernah mengatakan kepada ibunya, jika ia nantinya akan mendalami bidang sains.
Berbeda total dari apa yang telah dirintis oleh ayah dan ibunya. Dan ketika itu, ibunya pun merestui pilihan anaknya.
Saat ini, Alexa juga telah memulai langkah awal untuk menggapai cita-citanya dengan masuk jurusan sains di SMA yang menjadi SMA impian banyak orang.
Ia cukup berharap banyak dengan SMA ini, berharap bagaimana model akademik yang akan ia terima dan juga berharap pada semua fasilitas sains yang bisa ia manfaatkan nantinya.
Di hari pertama MOS di sekolahnya, ia juga dengan normal mengikuti acara hingga selesai seperti siswa yang lainnya.
Begitu pula di hari kedua, ia merasa MOS tidak seseram apa yang diceritakan oleh kakak kelasnya dulu yang sempat tergambarkan dalam otaknya.
MOS akan begitu mengerikan dibumbui dengan banyaknya hukuman akibat masalah sepele yang dilakukan oleh para siswa. Tetapi hal itu tidak terjadi.
Dan di hari ketiga, ambisinya yang berkobar-kobar, tiba-tiba sedikit teredam karena ia melihat seorang laki-laki yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
Membuat dirinya sejenak lupa dengan apa saja yang akan dilakukan setelah MOS usai.
Tapi di lain sisi, baru kali ini ia merasakan perasaannya menggebu-gebu pada orang yang bahkan baru pertama kali dilihatnya.