KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 033


__ADS_3

..ting..ting..ting..


Lisa mengetukkan sendoknya pada mangkok berisi masakan untuk sarapan pagi ini.


Ia memasak lalapan bebek goreng dengan sambal pedas, seperti selera yang dimiliki oleh putri bungsunya, Syifa.


Mendengar suara itu, langsung saja ketiga anggota keluarganya juga keluar dari kamarnya masing-masing dan menuju ke ruang makan.


“Bebek goreng, ma?” tanya Anders.


“Iya, dari kemarin tuh Syifa pengen banget makan bebek goreng. Tapi mama nunda terus, soalnya masih nggak sempat buat beli bebeknya.”


Syifa mendengar mamanya menjawab itu, langsung mengambil potongan paha bebek. Potongan favoritnya.


Karena dengan potongan paha, ia bisa dengan bebas memegang dan menggigit semaunya. Tidak seperti potongan bagian dada, yang bisa dimakan dengan menggunakan garpu atau sebatas disuir dengan tangan terlebih dahulu.


Mereka bertiga pun juga ikut makan karena melihat begitu bergegasnya Syifa mengambil potongan paha itu.


Di tengah jamuan makan, Alex meminta ijin kepada anggota keluarganya karena minggu depan ia akan pergi keluar kota untuk melakukan pertemuan dengan klien dari luar negeri.


Semua anggota keluarga mengijinkan, kecuali Syifa.


“Papa.. Papa.. nanti mmm.. pulangnya masih lama?” tanya Syifa dengan gemas sambil mengunyah bebeknya.


“Nggak sayang, papa cuman pergi satu minggu habis itu pulang main lagi sama Syifa. Boleh?”

__ADS_1


Syifa mengangguk, ia sebenarnya tidak terlalu suka jika ada salah satu saja anggota keluarga tidak ada di rumahnya.


“Meetingnya dimana, pa?” tanya Anders singkat.


“Di Lombok, jadi, ada klien yang mau bangun hotel dan penginapan di sana. Maklum, kalo ada destinasi wisata baru yang potensial pasti bakal jadi rebutan investor. Kebetulan klien papa ini dari Italia.”


“Cuman papa doang yang kesana?”


“Nggak, nanti yang dari kantor papa ada dua as a analyst. Sedangkan dua orang lagi dari Surabaya, satunya itu orang hukum, satu lagi orang dari bidang marketing yang juga punya saudara kandung di deket tempatnya.”


“Oke, jangan lupa oleh-olehnya ya, pa.” canda Anders pada papanya.


“Kebiasaan kamu ya memang, papa belum juga berangkat. Udah dapet pajak jajan aja.”


Kehangatan suasana sarapan pagi hari seperti inilah yang hampir setiap dirasakan oleh keluarga Anders.


“Udah sih, ma. Nggak ada juga yang harus disiapin. Kan Anders nggak pernah keluarin dari tas.”


“Baguslah kalo gitu, jangan sampai ada yang ketinggalan ya.”


“Ma, mama sore ini mau kemana?”


“Entar sore sih mau ajak Syifa buat ke main ke temen mama. Kenapa?”


“Bisa ngobrol sebentar habis sarapan?” tanya Anders.

__ADS_1


Spontan langsung saja Alex dan Lisa saling bertatapan, mereka berpikir ada sesuatu yang sedang mengganggu putra sulungnya itu.


“Iya, boleh. Di studio lagi?”


Anders mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Ia segera menghabiskan sarapannya dan meminum jus yang udah disediakan untuk harian di dalam kulkasnya.


Setelah itu, ia langsung menuju ke studio pribadinya di lantai dua dan menunggu mamanya menyelesaikan sarapan.


Di belakang layar, ia memilih lagu yang menjadi favoritnya karya Elvis Presley. Setelah memutar lagu itu, ia pun duduk di barisan tengah, dan mencoba bersantai sebelum membicarakan hal yang serius dengan mamanya.


Tak lama, suara langkah kaki terdengar mendekati Anders. Lisa langsung saja duduk di sebelah kiri Anders.


“Ada apa sayang?” tanya Lisa pelan.


“Ma, apa yang harus aku lakuin nanti ketika di sekolah ketemu sama mereka?”


“Mereka siapa?”


“Ridha sama Alexa. I’ve no idea.” jawab Anders.


“Tenang aja, yang penting jangan terlalu berlebihan, okay? Juga dikondisikan terus emosinya, jangan sampai ada yang meledak.”


“Tapi, ma. Kalau mereka yang mulai gimana? Maksudku mereka yang mancing Anders buat ngerespon.” tanya Anders sedikit gelisah.


“It’s okay. Semua orang butuh berinteraksi, diperhatiin lagi sebelum merespon. Minta waktu buat menjawab itu hal yang wajar kok.”

__ADS_1


Jawaban mamanya, saat ini begitu mudah diterima dan dicerna. Anders seolah sesaat tadi melupakan bagaimana kondisinya di sekolah dan bagaimana pertemuan dengan mereka, kedua perempuan.


Ia mengangguk seakan-akan paham apa yang harus dilakukan. Tetapi, ia sedang tidak menyadari bahwa itu hanyalah jawaban dasar yang diberikan oleh seorang psikolog.


__ADS_2