
Suara air dari kolam terdengar begitu menenangkan bagi siapa saja yang ada di dekatnya.
Anders mengajak Ridha untuk duduk bersantai di gazebo depan aula, yang di sebelah utara nya terdapat kolam ikan yang cukup besar dihiasi dengan rimbunnya daun tumbuhan yang ada disana.
Suasana pulang sekolah, teriakan antar siswa yang ada di dalam kelas bersatu padu merayakan bahwa hari ini telah usai.
Aktivitas belajar yang cukup menguras tenaga mereka, bisa langsung kembali terisi penuh ketika bel pulang berbunyi.
“Pelajaran kimia, matematika, dan sejarah dijadikan satu hari.” cletuk Anders.
“Kenapa memangnya?” tanya Ridha.
“Tidak apa-apa, aku masih bisa menerima semua itu.”
“Karena kamu jenius.”
Anders mengalihkan pembicaraannya dengan membahas janjinya tadi ketika waktu istirahat kedua.
“So? Have you thought about what I said?”
Ridha tidak menjawab dan hanya diam. Ia bingung harus berkata apa kepada Anders saat ini.
“Aku menyukai dirimu.” ucap Anders sambil merebah menatap langit-langit gazebo itu.
Tiga kata singkat yang membuat Ridha memejamkan mata, menundukkan wajahnya berusaha untuk menutupi pipinya yang memerah.
Sejak pertemuan pertamanya dengan Ridha, sebenarnya Anders sudah menyukai Ridha. Menyukai bagaimana ia berbicara, bagaimana kesopanannya.
“Meskipun aku belum sepenuhnya menyukai dirimu secara keseluruhan. Karena aku belum terlalu mengenalmu.” imbuh Anders lagi.
Anders tanpa ditanya, sudah menjelaskan mengapa ia menyukai Ridha dan apa yang membuatnya tertarik pada Ridha.
“Ditambah lagi, kita punya satu selera musik yang sama.” sahut Anders.
Masih dengan posisi yang sama, Ridha mendengarkan semua itu. Ia semakin tidak bisa berkata apa-apa.
Yang ada dalam benaknya saat ini adalah mencoba untuk merasionalkan pikirannya terlebih dahulu agar tidak larut dalam keromantisan ini.
Ia tidak ingin melebur, ia juga baru beberapa hari mengenal Anders. Masih banyak sekali misteri dibalik sosok laki-laki yang baru saja mengungkapkan rasa kekaguman pada dirinya.
Ridha tidak ingin terlalu hanyut sehingga kewaspadaannya hilang dan mudah sekali dimanfaatkan oleh Anders.
__ADS_1
“But I didn’t do anything.” ucap Ridha.
Anders tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa Ridha tidak sadar jika ia adalah orang yang mudah untuk berbincang dengan orang lain.
Bagaimana bisa ia tidak sadar bahwa setiap tindakannya kala itu sangat menggemaskan dan membuat Anders tersenyum.
“Then, why did you impress me?” tanya Anders dengan masih nada tertawa.
“I just do it naturally.” jawab Ridha sambil terisak. Mata Ridha mulai berkaca-kaca, dan nafasnya mulai berat.
Anders bangkit dari posisinya, ia duduk di belakang Ridha. Sudah pasti jika ia duduk di depannya, Ridha akan memalingkan wajahnya.
“Can I hug you?” tanya Anders.
Ia mengerti bahwa saat ini Ridha sedang dalam keadaan bingung, ia tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi ini.
Ridha menahan tangisnya karena ia merasa bersalah telah membuat seorang Anders menyukai dirinya. Ia tidak ingin mengecewakan apa yang diharapkan Anders nantinya.
Ridha tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Anders. Anders pun menarik nafas panjang.
Ia juga mencoba menenangkan dirinya, berharap dengan tenangnya ia. Maka Ridha juga bisa merasa lebih baik.
“Everything will be okay.” bisik Anders lembut.
Ridha hanya mengangguk, dan menerima pelukan itu. Ia merasa bahwa orang yang memeluknya saat ini begitu tulus dan jujur tentang apa yang dikatakan sebelumnya. Benar-benar mengagumi dirinya, meskipun tidak semua hal.
“Terima kasih.” balas Ridha.
Anders pun melepas pelukannya, dan menyeka air mata yang jatuh di atas pipi Ridha yang masih memerah.
Mereka saling diam cukup lama hingga pada akhirnya Ridha membuka percakapan diantara mereka.
“Bisa jelaskan tentang apa yang diajarkan oleh orang tuamu?”
“Tentu saja.” jawab Anders.
Anders menjelaskan bahwa ketika liburan ujian nasional, ia banyak menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.
Membicarakan banyak hal, mulai dari hal umum seperti kebutuhan sekolah hingga bekal untuk dirinya.
Lisa pernah mengatakan, untuk menjalin sebuah hubungan diperlukan pondasi yang kuat. Anders pun juga pernah bertanya bagaimana untuk mewujudkan hal itu.
__ADS_1
Menurut Lisa, yang paling penting dalam sebuah hubungan bukanlah orang lain. Tetapi bagaimana mengontrol diri Anders sendiri dalam hubungan itu.
Pondasi yang bisa dibiasakan adalah dengan selalu memaafkan perbedaan pendapat. Jika memang bukan hal yang krusial, maka tidak perlu ada perdebatan diantara kedua orang itu.
Sebisa mungkin untuk menghindari perdebatan. Karena meskipun pada ujungnya nanti akan mendapatkan satu kesepakatan, tetapi tetap saja akan ada yang terbawa secara emosional.
Hal itu bisa mempengaruhi relasi yang terjalin di kemudian hari. Lisa juga pernah mengatakan tentang tipe seseorang dalam sebuah relasi, dan Anders diberi pilihan untuk menjadi yang mana itu terserah Anders.
Yang pertama adalah, ada seseorang yang sangat bergantung pada sikap orang lain.
Di jaman sekarang, bahasa yang lebih umum adalah “jika kamu baik, maka aku akan baik. Jika tidak, maka aku juga tidak.”.
Perumpamaan yang diberikan oleh mamanya begitu membekas di dalam benaknya.
Sedangkan tipe orang yang kedua adalah tidak bergantung pada apa sikap yang diterima oleh Anders dari orang lakukan.
Bagaimanapun perlakuan yang didapat, jika Anders ingin tetap bersikap baik pada orang itu, maka tinggal ia lakukan.
Begitu juga sebaliknya, meskipun ada orang yang baik dengan Anders, namun Anders ingin berbuat buruk kepadanya, maka ia bisa melakukannya.
“Lalu, kamu yang mana?” tanya Ridha pada Anders.
“Aku memutuskan untuk menjadi yang kedua.”
“Kenapa gitu?” tanya Ridha lagi.
“Diriku adalah tanggung jawabku. Apa yang aku lakukan seharusnya bisa aku kendalikan dengan baik.” jawab Anders dengan tegas.
Menurut Anders sendiri, ia merasa lebih mudah untuk melakukan apa yang ada di bawah kendalinya daripada berada di bawah bayang-bayang perlakuan orang lain.
Mamanya pernah berkata kepada Anders, jika siap untuk membangun sebuah hubungan juga harus siap untuk kehancurannya.
Bukan berarti pesimis terhadap apa yang sedang dijalani dalam relasi itu, tetapi lebih ke arah untuk mengurangi dampak ketika nantinya suatu hal buruk terjadi dalam relasi itu.
Pembicaraan diantara kedua orang itu terjadi cukup lama dan mengalir itu berakhir bersamaan dengan usainya kegiatan latihan rutin ekstrakurikuler yang ada di sekolah itu.
Mereka berdua pun saling berpamitan dan meminta maaf jika telah terjadi kesalahpahaman.
Dan juga dengan berakhirnya obrolan mereka, Anders dalam hati memutuskan untuk sejenak melupakan sosok Alexa. Ia ingin menghargai Ridha untuk saat ini.
Alexa, yang sudah ia dapatkan satu petunjuk tambahan, bisa ia cari di kemudian hari nantinya dan meminta penjelasan atas semua perlakuannya.
__ADS_1