
Lisa, memiliki suara yang merdu ketika bernyanyi. Dikombinasikan dengan Alex yang bisa memainkan beberapa alat musik seperti gitar dan piano.
Dalam hal bermusik, keduanya seolah merupakan pasangan burung merpati yang saling melengkapi satu sama lain.
Ketika Lisa masih duduk di bangku SMA, ia pernah mengikuti kursus privat untuk menyanyi.
Padahal, ia tidak memiliki garis keturunan seorang penyanyi. Ayah dan ibunya pun memiliki suara yang biasa saja dan keduanya tidak memiliki bakat dalam bermusik sama sekali.
Lisa muda juga pernah menjadi juara ketiga ketika mengikuti ajang lomba bernyanyi yang diadakan tahunan antar lembaga kursus.
Bagi dirinya, itu adalah sebuah hal membanggakan. Namun, ia tidak pernah sekalipun bercita-cita dan berkeinginan untuk menjadi seorang penyanyi atau artis.
Banyak orang di sekitarnya yang mengharapkan Lisa bisa menjadi penyanyi terkenal. Tapi ia mengabaikan hal itu.
Cita-cita utamanya dan apa yang ia sukai di bidang ilmu psikologi yang tetap menjadi motivasi utamanya.
__ADS_1
Berbeda dengan Lisa, Alex mempelajari alat musik karena di tongkrongan bersama teman-temannya dulu adalah kebanyakan pemain band yang tampil di acara pernikahan atau hanya sekedar mengisi di rumah makan.
Dengan lingkungan yang seperti itu, ia pun juga secara tidak langsung tergugah untuk mempelajari alat musik.
Ia sadar, suaranya yang berat dan sedikit fals tidak cocok untuk menjadi pengisi vokal sampingan, apalagi vokal utama.
Alex mempelajari cara bermain gitar dengan sembunyi-sembunyi dari teman-temannya yang lain.
Alasannya adalah ia tidak ingin malu jika nantinya ia membutuhkan waktu yang sangat panjang hanya untuk memainkan sebuah lagu.
Namun, kenyataan berbeda dengan ekspektasinya. Ia mahir memainkan gitar hanya dalam satu bulan. Paling tidak, ia sudah jarang melakukan kesalahan ketika berpindah dari chord satu ke chord yang lain.
Beberapa orang memuji karena mereka tidak mengetahui bahwa Alex bisa memainkan gitar dengan lancar, karena selama Alex berada di tongkrongan ia hanya bergumam lirih mengikuti semua temannya yang sedang bernyanyi.
Juga ada beberapa orang yang bercanda dan menggoda Alex, mereka menggodanya karena seharusnya Alex bisa memainkan alat musik yang lain.
__ADS_1
Dari candaan itu, akhirnya Alex setiap pulang sekolah pergi ke rumah pamannya yang memiliki piano lawas.
Ia belajar otodidak dengan membeli buku kecil yang menjelaskan tentang panduan bermain piano.
Sesekali pamannya juga mengajari Alex bagaimana agar bisa lebih cepat dan lebih lihai memainkan tuts-tuts piano.
Dan ternyata juga tidak butuh waktu lama, hanya dalam kurang dari dua bulan saja, Alex bisa memainkan piano dengan lancar dan bahkan berimprovisasi sendiri.
Dalam belajarnya menguasai alat musik piano, ia menemukan sensasi yang berbeda.
Hampir setiap hari sebelum ia belajar, ia menekan satu persatu tuts nya. Ia mendengarkan dengan seksama bagaimana bunyi nada yang dihasilkan.
Alex merasakan ketenangan. Ia bisa mengimajinasikan banyak hal dengan suara nada itu.
Hingga pada suatu hari, ketika ia sedang bermain piano dan pamannya sedang bercengkrama dengan istrinya.
__ADS_1
Secara tidak sengaja menciptakan melodi sebuah lagu bernuansa romansa klasik. Dan ia juga tidak menyangka, bahwa melodi itulah yang pertama kali membuat seorang Lisa berdecak kagum.
Dan satu hal lagi yang tidak disangka-sangka adalah di masa depan, Alex membawakan melodi itu di acara pernikahan miliknya, dengan kekasihnya hingga saat ini, Analisa.