KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 036


__ADS_3

Gazebo di sebelah selatan yang terbuat dari kayu dan berwarna coklat itu terlihat sedang tidak ada yang menempati. Anders pun mengajak Ridha kesana.


Mereka berdua duduk, dan melihat ke arah lapangan. Ada ekstrakurikuler voli yang sedang latihan rutin.


Hampir sepuluh menit mereka berdua hanya diam dan tidak memulai percakapan. hingga akhirnya Anders merebahkan badannya di gazebo itu berbantalkan tas ransel miliknya.


“Langitnya bagus.” ucap Anders.


“Hah? Kamu bahkan nggak lihat langit, kok bisa ngobrolin langit.”


“Aku yang bilang, kamu yang memastikan apa perkataanku benar.”


Ridha menengok ke arah atas keluar dari gazebo, dan benar. Kali ini langit terlihat begitu biru dan cerah tanpa ada awan yang menutupi sedikitpun.


“Kebetulan, langitnya bagus.” jawab Ridha sambil kembali duduk di sebelah Anders yang sedang merebahkan dirinya.


Anders sendiri mengingat betul kata-kata yang diucapkan oleh mamanya agar tidak terlalu bertindak berlebihan.


“Ridha. Kenapa kamu membayar minumanku?”


Ridha terkejut karena Anders mengetahui bahwa itu adalah dirinya.


“I’ll do the same thing as you did.” jawab Ridha.


“Hmmm.. jawaban yang berisiko. Lalu?”


Kata tanya yang tidak disangka Ridha. Seharusnya setelah Ridha menjawab seperti itu, Anders akan memuji atau mencelanya. Namun yang keluar dari mulut Anders adalah kata tanya lagi.


“Lalu bagaimana jika aku melakukan hal yang buruk kepadamu? Will you do the same?” tanya Anders lagi.


“Aku punya beberapa pengecualian untuk hal yang seperti itu.” jawab Ridha singkat.


“Then, how if I like you? Your personality, your skill, your beauty. Will you do the same?”


Ridha terdiam menjawab pertanyaan itu. Seumur hidupnya, baru kali ini ia menghadapi laki-laki yang begitu ringan dan terang-terangan tanpa ada rasa ragu untuk menanyakan terkait perasaannya.


Sebelumnya, ia pernah mendapatkan sebuah pernyataan kekaguman dari seseorang dan itu pun tidak secara langsung.


Kali ini, Ridha benar-benar terkejut. Pipinya memerah, dan jantungnya berdetak lebih cepat daripada sebelumnya.


Kebingungan yang belum pernah ia rasakan, pertanyaan singkat itu tadi seolah menjadi tembok yang begitu besar yang tidak bisa ia gapai.


Ridha kemudian menjelaskan bahwa dirinya baru pertama kali mendapatkan pertanyaan seperti itu kepada Anders.


Ketika libur panjang usai ujian nasional, ada kakak kelasnya yang juga dari SMA ini mengirimkan sebuah surat dan bunga.

__ADS_1


Dalam surat itu tertulis bahwa kakak kelasnya mengagumi Ridha sejak ia menjadi adik kelasnya.


Kakak kelas yang mempunyai satu almamater ketika SMP dan sekarang satu sekolah ketika SMA.


Mendengar cerita Ridha, Anders penasaran bagaimana Ridha merespon surat yang diterima ketika itu.


Sempat terlihat sebuah senyuman tipis di bibirnya.


Anders bertanya kepada Ridha.


“Apa yang lucu?”


“Tidak ada yang lucu, aku hanya tersenyum mengingat kejadian itu.”


Anders membiarkan Ridha, yang ada di sampingnya untuk memikirkan sejenak. Kedua orang itu juga sedang tidak dikejar waktu untuk pulang karena memang masih sangat lama untuk matahari terbenam.


“Aku cukup terkejut ketika itu, apalagi ketika tahu bahwa yang mengirimkan bunga adalah kakak kelasku sendiri. Aku menerimanya di siang hari sekitar pukul sebelas.”


Anders menyimak cerita Ridha dengan seksama dan tenang, mengendalikan emosinya.


“Setelah aku melakukan ibadahku, aku menemui ibuku dan bercerita tentang apa yang baru saja kudapat waktu itu.”


Persis seperti yang dikatakan oleh Lisa, mama Anders. Bahwa Ridha adalah orang yang sangat terbuka dalam segala hal.


“Lalu bagaimana dengan bunganya?” tanya Anders.


“Aku merawatnya, hingga pada akhirnya bunga itu mati karena takdir yang berbeda. Tidak akan ada yang tahu jika bunga itu, yang hari demi hari aku rawat ternyata pada akhirnya harus mati karena jatuh secara tidak sengaja dari jendelaku.”


“Bagaimana bisa? Seharusnya bukan jadi masalah yang serius bukan, jika hanya terjatuh.”


“Kamarku ada di lantai dua, bunga itu ada di jendela dan terjatuh ke taman. Dimana ada banyak sekali kucing yang kurawat akhirnya membuat bunga itu jadi bahan mainan mereka.”


“Oh, I see.. I got your point.” tukas Anders cepat.


“Bunga yang bermekaran tidak pernah berjanji untuk tidak mati. Bunga yang layu tidak pernah mau untuk mati dalam sendu.”


Anders mendengar kalimat itu, mencoba menguraikan dalam otaknya apa yang dimaksud oleh Ridha. Ia tidak menyangka bahwa Ridha adalah orang yang cukup handal dalam merangkai kata-kata.


“Kalau kamu?” tanya Ridha.


“Ada apa denganku?” tanya balik oleh Anders.


“Aku sudah menceritakan bagaimana diriku, walaupun tidak banyak. Namun, untuk seseorang yang sepertimu pasti kamu sudah sangat bisa menebak bagaimana perangaiku.”


“Coba tanyakan sesuatu saja padaku, aku akan menjawabnya.” sahut Anders.

__ADS_1


Menurut analisis dasarnya, seseorang yang baru dikenal akan menanyakan tidak jauh seputar kehidupan pribadi.


Tapi, ia menyadari bahwa Ridha adalah bukan perempuan yang berpikiran seperti itu. Pasti pertanyaan yang akan diberikan padanya adalah yang belum terpikirkan sebelumnya.


Dengan hasil analisis yang seperti itu, Anders memilih untuk tidak memikirkan apapun.


“Jika kamu bisa memilih, mana yang kamu pilih antara menjadi seorang bisu yang melihat semua kejadian buruk dengan jelas atau seorang buta yang merasakan banyak kasih sayang?”


Sesuai dengan apa yang baru saja Anders pikirkan, pertanyaan di luar nalar orang pada umumnya akan muncul.


“Bisa coba ulangi pertanyaanmu?” pinta Anders dengan pelan sambil mengeluarkan pena dan buku catatannya.


Ridha pun mengulangi pertanyaannya. Ia juga melihat Anders sedang menulis sesuatu pada buku kecilnya itu.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ridha kembali.


“Tidak ada, hanya menggambar sebuah sketsa mulut dan mata.”


Anders tidak terlalu pandai jika harus menggambar sesuatu yang berhubungan dengan alam dan manusia. Tapi ia bisa sedikit lebih baik jika hanya membuat sketsa kasarnya saja.


Ia kemudian menunjukkan sketsanya itu kepada Ridha.


“Jangan dibandingkan, kedua sketsaku sama buruknya.”


“Aku tahu, tapi menurutku terlihat lebih realistis untuk bagian mulut daripada mata.” sahut Ridha.


“Itulah jawabanku.”


“Maksudnya?”


“Aku akan lebih memilih untuk menjadi orang bisu yang melihat banyak hal kejadian buruk. Tidak, aku tidak akan membandingkan anugerah Tuhan antara satu dengan yang lain karena semuanya adalah hal yang berharga.”


“Lalu, apa alasanmu memilih itu?” tanya Ridha lagi.


“Realistis saja, aku akan lebih mudah melihat kekejaman dan kasih sayang menggunakan mataku, daripada menggunakan mata hatiku.”


Ridha mengangguk paham dan tidak menginterupsi jawaban yang diberikan oleh Anders.


Setelah membicarakan hal-hal dan berdiskusi dengan berat, akhirnya mereka memutuskan untuk bersantai dan tidak berbicara satu sama lain di gazebo selatan itu.


Ridha, melihat tim voli yang sedang berlatih dengan begitu semangat. Beberapa kali terdengar teriakan dari para pemain ketika baru saja mencetak poin.


Sedangkan Anders, kembali berbaring di samping Ridha. Ia memejamkan mata. Jika ia tertidur, maka ia yakin akan dibangunkan oleh Ridha.


Setenang itulah keadaan mereka berdua saat ini.

__ADS_1


__ADS_2