
Ia tidak memilih untuk langsung menuju parkiran tempat sepeda motornya berada. Anders ingin berjalan-jalan sejenak mengelilingi sekolah untuk melihat apa yang terjadi di sekolah ini ketika sore hari setelah pulang.
Anders naik ke lantai dua gedung sekolah itu, ia melihat ada banyak sekali siswa yang mengikuti ekstrakurikuler desain grafis dan pemrograman.
Di sebelah kiri ruang desain grafis, terdapat ruang untuk ekstrakurikuler band dan paduan suara. Ada beberapa siswa yang sedang asik memainkan piano di dalam sana dan terlihat menikmati apa yang mereka mainkan
Sedangkan di sebelah kanan ruang desain grafis terdapat ruang khusus untuk ekstrakurikuler teater. Cukup banyak yang mengikuti seni teater.
Dan didominasi oleh siswa perempuan. Mereka terlihat sedang mengulang-ulang adegan yang ada di dalam skrip. Dan lagi, terlihat sangat menikmati peran yang mereka mainkan.
Seketika itu, ia teringat dengan sosok Ridha. Sosok yang pasti dengan yakin tidak akan mengikuti seni teater ini.
Ia menyadari Ridha adalah seseorang yang cukup pemalu untuk hal-hal tertentu. Tapi ketika ada kewajiban untuk berorasi atau berbicara di depan umum.
Dimana Ridha hanya mengandalkan pemilihan kata dan sedikit gerakan tangan sebagai tanda untuk mempertegas sesuatu, maka Ridha akan sangat handal dalam hal itu.
Anders pun melanjutkan untuk naik ke lantai tiga, disana ia melihat ada ekstrakurikuler fotografi. Di dalam sana tampak cukup sepi, atau mungkin belum banyak yang datang.
__ADS_1
Ia mengintip lebih jauh tentang apa yang sedang dilakukan oleh tim fotografi SMA itu melalui jendela.
Betapa terkejutnya Anders saat mengetahui mereka yang ada di dalam ternyata sedang melakukan uji kompetensi pemotretan mikro.
Hal itu membuat dirinya tertarik, dan sedikit terbesit di dalam benaknya jika usai masa orientasi sekolah, ia akan mengikuti ekstrakurikuler ini.
Bagi Anders, fotografi ataupun videografi merupakan hal yang sangat menyenangkan. Ia bisa menikmati apa yang ada di depannya sekaligus bisa mengabadikan untuk selamanya.
Ia juga ingin mengikuti ekstrakurikuler itu karena ia saat ini memiliki dua buah kamera dan sangat jarang dipakai.
Hanya sekedar memencet tombol rana, dan tidak melakukan apapun terhadap fotonya.
Satu kamera mirrorless dan satu kamera analog. Memang, ia tidak membeli atau dibelikan oleh kedua orang tuanya.
Kedua kamera itu adalah sebuah hadiah dari sahabat dekatnya ketika ia berhasil menjuarai kompetisi menulis cerpen tingkat nasional.
Anders hanya beberapa kali menggunakan kamera analognya, ketika ia dan keluarganya merayakan kelulusan doktoral ayahnya.
__ADS_1
Untuk kamera mirrorless, sampai saat ini masih tersimpan di dalam box nya. Ia hanya membuka untuk mengecek ketika mendapatkan hadiah itu dan belum pernah memakainya hingga saat ini.
Sebenarnya, di dalam hatinya itu bukanlah alasan mengapa ia ingin bergabung ekstrakurikuler fotografi.
Di dalam hatinya, ia ingin mengabadikan dan menangkap banyak momen dengan Ridha. Ia tidak ingin ada yang terlewat satupun.
Sambil tetap berjalan pelan, ia memilih untuk kembali dan turun dan segera menuju parkiran. Dilihatnya jam yang ada ponselnya sudah menunjukkan pukul tiga lebih.
Sesampainya di parkiran, ia melihat Ridha masih duduk di tempat duduk yang memang disediakan di sekitar parkiran bagi siapapun yang ingin menunggu seseorang.
“Cukup untuk hari ini.” gumam Anders dalam hatinya.
Ia tidak ingin mengganggu Ridha, atau ingin lebih banyak lagi membuat Ridha terkejut karena tingkahnya.
Anders melewati Ridha begitu saja tanpa memberikan sapaan, dan segera menaiki motornya. Ia pun langsung menarik tuas gas motornya tanpa menoleh ke arah perempuan itu lagi.
“Sampai jumpa esok hari.” dalam hati Anders.
__ADS_1