KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 050


__ADS_3

Beberapa bulan berjalan, hubungan antara Ridha dan Anders semakin dekat. Anders juga tidak melanjutkan untuk mencari tahu tentang sosok Alexa lagi.


Meskipun perlakuan Alexa masih kerap kali ia dapatkan, ia semakin mudah untuk mengabaikannya.


Hubungan antara keduanya tidak selalu berjalan dengan mulus, bahkan sempat terjadi beberapa konflik kecil yang terjadi secara bersamaan.


Namun, akhirnya mereka berdua bisa melewati dan saling mengerti antara satu dan yang lain.


Lisa, mama Anders juga sering bertanya terkait hubungan yang menurutnya lebih dari sekedar pertemanan.


Anders sama sekali tidak menutupi apapun pada mama dan papanya. Semua ia ceritakan dengan terang-terangan.


Ia dalam hal ini tidak ingin mengambil resiko dengan mencoba-coba untuk memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang diberikan oleh mamanya.


Baginya, ini adalah kali pertama ia begitu leluasa dan begitu nyaman untuk menyukai seseorang. Perasaan yang muncul dengan sendirinya, tanpa ada paksaan atau kondisi yang mengharuskannya menyukai Ridha.


Namun, hingga saat ini Anders masih sama sekali belum pernah mendapatkan sanjungan langsung dari Ridha.


Tidak pernah satu kalimat pun ia dengar dari mulut Ridha, bahwa Ridha menyukai dirinya.


Sesuai dengan perkiraan mamanya, bahwa Ridha akan membutuhkan waktu lama untuk menerima apa yang sedang dijalani olehnya dan Ridha.


Anders pun juga menurut apa yang seringkali dikatakan oleh mamanya itu, yakni untuk lebih bersabar ketika menghadapi Ridha.


Seluruh teman kelasnya, kali ini sudah tidak lagi merasa terkejut tentang hubungannya dengan Ridha. Bahkan ada beberapa orang yang menganggap jika hubungannya dengan Ridha telah berakhir.


Penyebabnya adalah, ia dan Ridha telah bersepakat bahwa tidak akan ada lagi momen romantis yang terjadi di sekolah.


Sebenarnya itu adalah permintaan pribadi Ridha, ia masih belum bisa menerima hal itu jika dilakukan terlalu sering. Ia masih harus meyakinkan dirinya sendiri terhadap sosok Anders.


Anders juga menyepakati hal itu, karena ia tidak ingin Ridha merasa tertekan dan tidak nyaman dengan apa yang dilakukan.


Cukup bagi dirinya yang merasakan hal itu seperti di awal-awal pertemuannya dengan Alexa.


Alexa yang semakin hari, semakin tidak menunjukkan sisi misteriusnya juga membuat Anders merasa bersyukur karena lebih memilih untuk mengabaikan perempuan itu.


Ia menyadari hal itu, ketika ingat bahwa sebuah umpan dimakan oleh ikan maka nelayan akan segera merespon dan menangkapnya.


Sudah beberapa kali ia memakan umpan itu dan terjerat dalam jaring yang dibuat oleh Alexa.


Hingga akhirnya Anders memutuskan untuk tidak memakan umpannya, dan membiarkan sosok nelayan itu menunggu apa yang tidak pasti bagi dirinya.


Pernah suatu kali, Alexa memberikan banyak sekali perhatiannya yang menurut Anders itu sangat berlebihan.


Bagaimana tidak, Alexa memberikan foto Anders yang ia dapatkan secara diam-diam dan memberikannya kepada seluruh penjual yang ada di kantin.


Ia membayar dua kali lipat porsi seukuran satu anak siswa SMA kepada setiap penjual makanan disana.


Dan memohon pada ibu kantin untuk menggratiskan makanan yang dibelinya, jika melihat siswa laki-laki seperti yang ada di foto yang telah Alexa berikan.


Pada sore harinya juga ketika pulang, Anders mendapati di atas motornya terdapat sebuah coklat dan alat musik kalimba beserta kertas berisi catatan not angka sebuah lagu berjudul Eléana karya komponis Prancis, Paul de Senneville.


Namun, Anders mengabaikan semua itu. Ia tetap membayar makan siangnya dan meletakkan pemberian yang ia dapat di kursi di depan kelas Alexa.


Setelah kejadian itu, Alexa semakin jarang untuk melakukan hal serupa, mungkin Alexa merasa sudah tidak lagi mendapat ketertarikan dan rasa penasaran Anders.


Ridha, juga semakin mengetahui bagaimana sosok Alexa. Ia pernah berbincang sekali dengan tidak sengaja ketika sama-sama mengantri untuk membayar kue yang mereka beli di koperasi siswa.


Impresi pertama yang Ridha dapatkan dan juga yang ia katakan pada Anders adalah, Alexa sosok yang baik. Ia begitu mudah untuk bergaul dengan banyak orang terlihat bagaimana nada bicara yang ia ucapkan.


Selain itu, menurut Ridha, Alexa juga merupakan orang yang sangat percaya diri dan pemberani.

__ADS_1


Dan semua pernyataan Ridha dibenarkan oleh Anders tanpa ada penolakan atau sanggahan sama sekali.


Ridha menjelaskan mengapa ia bisa menyimpulkan hal itu pada sosok Alexa adalah karena ketika terjadi keributan antara dua orang siswa perempuan kelas XI dan XII, Alexa dengan mudahnya untuk mengancam dan melerai.


Terlepas dari posisinya yang masih duduk di bangku kelas X, kata-kata yang dilontarkan oleh Alexa pada kedua orang yang sedang ribut itu begitu mengintimidasi.


Hanya beberapa kalimat saja yang diucapkan oleh Alexa, sekejap bisa membuat mereka berhenti dan pergi begitu saja.


Seperti tidak ada kuasa untuk menolak Alexa untuk ikut campur, padahal kebanyakan jika ada adik kelas yang melakukan itu. Akan semakin dibentak dan dicaci karena berusaha untuk ikut campur masalah mereka.


Tetapi ada beberapa hal yang tidak diceritakan oleh Ridha pada Anders. Ridha merasa paras yang dimiliki Alexa begitu mempesona.


Wajah yang begitu cantik dengan postur tubuh ideal bagi seorang perempuan seusianya pasti menjadi dambaan bagi semua orang.


Sedangkan Ridha, ia merasa tidak percaya diri menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang menyukai Anders dengan begitu cantiknya, namun Anders malah lebih memilih dirinya.


Terkadang, Ridha merasa bahwa Anders dalam tekanan karena terlalu awal untuk mengungkapkan perasaannya, sehingga terjebak dalam kondisi seperti sekarang ini.


Ia tidak berani menceritakan hal ini, karena kemungkinannya adalah Anders akan meyakinkan Ridha bahwa dirinya tidak segampang itu untuk menyukai seseorang.


Yang mana hal itu tetap akan semakin membebani pikiran Ridha. Bagi Ridha, tidak ada yang bisa meyakinkan seseorang kecuali diri mereka sendiri.


Dan yang kedua, Anders akan melakukan sesuatu pada Alexa secara diam-diam tanpa diketahui oleh Ridha.


Ridha tidak ingin mengacaukan hubungan yang telah dibangun dengan baik oleh Anders dengan dirinya.


Dalam beberapa bulan menjalani hubungannya dengan Anders, ia merasa semakin hari semakin bisa menerima kehadiran Anders.


Meskipun tidak setiap hari ia dan Anders saling bertukar kabar dan mengobrol melalui pesan, ia tetap bisa merasakan kehadiran Anders.


Sama halnya dengan Anders, Ridha juga sering menceritakan apa yang ia alami kepada kedua orang tuanya.


Hanya saja, respon antara yang diberikan oleh Lisa dan Alex, dengan kedua orang tua Ridha sedikit berbeda.


Sedangkan orang tua Ridha, lebih ketat dalam mengawasi putrinya itu. Beberapa hal juga turut dilarang oleh kedua orang tuanya. Bahkan ibunya berkata, jika ingin mengajak Ridha untuk berjalan-jalan harus mendapat persetujuan dirinya dan suaminya.


Apabila salah satu tidak mengijinkan, berarti tidak akan ada komplain yang bisa diajukan oleh Anders untuk mengajak Ridha bepergian.


Ridha juga mengatakan hal itu kepada Anders, dan Anders menerima dengan senang hati peraturan yang diberlakukan.


Meskipun hingga saat ini, Anders masih belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Ridha, ia sangat menghormati melalui apa yang telah Ridha ceritakan.


Bulan ini memasuki bulan keenam sejak pertemuan pertama mereka. Banyak sekali momen yang telah mereka lalui bersama.


Kesedihan dan rasa capek Ridha yang seringkali ia ceritakan pada Anders sudah sangat bisa ia maklumi.


Begitupun sebaliknya, Anders yang kerap kali bercerita tentang rintangan yang ia hadapi untuk menggapai cita-citanya juga bisa Ridha terima dengan baik.


Seiring berjalannya waktu, keduanya bisa lebih bisa saling menghargai sebagai pribadi yang memiliki kepentingan masing-masing.


Tidak seperti remaja pada umumnya yang terlalu penuh dengan khayalan akan masa depan yang tidak rasional.


Ridha dan Anders mengusahakan yang terbaik apa yang saat ini dalam kapasitas mereka. Tidak ingin terlalu muluk untuk kehidupan yang masih jauh di depan.


Paling tidak, mereka berdua tau apa kewajiban sebagai satu sama lain. Meskipun hanya sebatas mendengarkan dan memberikan waktunya.


Hingga tiba hari ini, pada tanggal 19 November, Anders merencanakan untuk mengungkapkan perasaannya kembali kepada Ridha.


Ia berpikir bahwa waktu enam bulan untuk mengenal Ridha secara bebas sebagai orang asing sudah cukup.


Anders berencana untuk mengajak Ridha pergi ke rumahnya dan pergi menonton di studio pribadi miliknya, tentu saja ia harus ijin terlebih dahulu kepada orang tua Ridha dan berharap ia mendapatkannya.

__ADS_1


“Hari ini ada acara?” tanya Anders pada Ridha yang sedang menikmati bekal sarapan paginya.


“Nggak ada, kenapa?”


“Nanti boleh kuantar pulang?” sahut Anders.


Ridha terkejut Anders mengatakan hal itu, tidak biasanya ia meminta ijin terlebih dahulu.


Biasanya, Anders mengantarkan begitu saja sampai depan rumah Ridha, lalu Anders berbalik pergi pulang ke rumahnya.


“Boleh, tumben minta ijin.” ucap Ridha sambil melirik Anders dengan mata curiga.


Anders meninggalkan begitu saja setelah mendapat jawaban dari Ridha. Ia menuju kamar mandi dan menelepon mamanya.


Bertanya pada mamanya, apakah kue yang pesanan Anders sudah siap atau belum.


Ya, Anders memesan soft cake keju dengan layer teratas dilapisi coklat dan beberapa potongan buah kepada mamanya sendiri, Lisa.


Sebelumnya, Anders mengirim pesan kepada mamanya seolah mamanya adalah penjual kue yang biasa melayani pesanan.


Dan itu membuat mamanya terkejut, mengira jika Anders salah mengirimkan pesan untuk seseorang.


Tetapi setelah Anders jelaskan dengan panjang, akhirnya mamanya menyetujui apa yang dipesan oleh Anders.


Tak lupa, Anders pun akan membayar mamanya dengan membelikan es krim kesukaan Syifa selama satu minggu.


“Ma, kuenya sudah?” tanya Anders pada mamanya dalam percakapan telepon itu.


“Kamu pulang jam berapa?”


“Kurang lebih jam empat sih ma, soalnya nanti mau ijin ke orang tuanya Ridha dulu. Sekalian biar Ridha ganti baju dan lainnya.” jelas Anders.


“Kalo jam segitu udah siap kok, sayang. Tenang aja, nanti mama juga siapin seat di studio juga.”


“Okay, ma. Thank you.”


“My pleasure, my dear.”


Kabar yang diberikan oleh mamanya barusan membuat Anders semakin bahagia hari ini.


Ia semakin tidak sabar untuk menunggu bel pulang sekolah dan segera mengajak Ridha ke rumahnya.


Rencananya kali ini, benar-benar tidak diketahui siapapun kecuali mamanya dan Anders sendiri.


Berhari-hari ia merencanakannya seorang diri, membuat berbagai skenario. Sudah banyak sekali skenario di atas kertas yang ia tulis pada akhirnya ia buang karena merasa ada yang kurang.


Mulai dari mengajak Ridha untuk bepergian ke tempat yang sangat ingin Ridha kunjungi, hingga memberi Ridha sesuatu yang sangat ingin Ridha miliki.


Semua rencana itu akhirnya ia buang, karena memiliki ide yang lebih baik. Memberikan apa yang bagi Anders sangat berharga untuk dimiliki oleh orang lain adalah salah satu bentuk kerelaan yang sangat jarang orang lain bisa lakukan.


Dengan seperti itu, ia menandakan bahwa Ridha menjadi salah satu prioritas dari hidupnya kali ini.


Anders pun kembali ke kelas dan melihat Ridha sambil tersenyum lebar. Ridha yang menyadari hal itu membalas dengan mata melotot.


Kali ini, Ridha ada menyadari ada sesuatu yang salah dari diri Anders.


“Ada apa? Daritadi aneh banget gerak-geriknya.” tanya Ridha ketus.


“Hahahaha..” Anders hanya tertawa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan di depannya ini.


“Hei, jangan macem-macem ya. Awas!”

__ADS_1


“I don’t do anything, right? Am I hurt you?”


Ridha mengalihkan pandangannya dan kembali melanjutkan sarapannya. Dan kali ini, ia berpikir ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Anders.


__ADS_2