KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 054


__ADS_3

Usai sudah momen romantis mereka berdua di dalam studio itu, tidak terasa bahwa matahari sudah beranjak dari singgasananya.


Ridha diajak Anders untuk turun dan makan malam bersama. Tentu saja, masakan Lisa yang sangat bisa diandalkan menjadi salah satu sajian utama malam ini.


Lisa yang sedang berada di dapur melihat, kedua orang itu sedang menuruni tangga, memanggil mereka berdua untuk menghampirinya.


“Anders, Ridha, sini dulu sayang.”


Mereka berdua pun pergi ke arah Lisa dengan ekspresi yang sama, yang menandakan bahwa momen barusan adalah momen yang membahagiakan.


Tentu saja bagi seorang psikolog seperti Lisa, membaca raut wajah kedua orang itu sangatlah mudah.


“Iya, ma. Ada apa?”


Lisa hanya tersenyum, ia memeluk Anders dan Ridha secara bersamaan. Ia membisikkan beberapa kalimat di antara keduanya.


“Dijaga sebaik mungkin, berusaha untuk tidak saling mengecewakan, dan jangan terlalu berlebihan.” bisik Lisa sembari melepas pelukannya.


“Iya, ma.” balas Anders. “Terima kasih, tante.” begitu juga sahut Ridha.


Mereka berdua pun segera diusir dengan canda oleh Lisa agar segera menuju ke ruang makan karena makanan telah siap dari tadi.


Reflek Anders lagi-lagi membuat Ridha terkagum. Anders tiba-tiba menarik keluar kursi yang akan ia tempati dan mempersilahkan dirinya duduk disana.


Tak lupa, Anders juga menuangkan air perasan jeruk segar ke dalam gelas milik Ridha. Setelahnya, baru Anders duduk di tempat duduknya.


“Jangan khawatir, masakan mama pasti enak.” ucap Anders sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Lisa.

__ADS_1


Ridha yang melihat tingkah antara Anders dan mamanya tersenyum tipis dan mengambil makanan yang ada di depannya.


Di sela-sela makan malam mereka, Anders mengajak untuk berdiskusi tentang bagaimana hubungan mereka kedepannya.


Ridha mengatakan, mungkin di awal-awal mereka bisa menerapkan sebuah perjanjian untuk melakukan sesuatu.


Tidak wajib memang untuk membuat perjanjian ini, tetapi hanya sebagai pondasi untuk membiasakan kebiasaan baik yang sangat berguna nantinya dalam suatu hubungan.


Ada beberapa hal yang akhirnya mereka sepakati bersama. Yang pertama adalah perihal komunikasi.


Keduanya tidak akan saling menuntut untuk berkomunikasi secara intens satu hari penuh. Bagi mereka, hal itu akan malah membuang-buang banyak waktu.


Cukup memberikan kabar ketika akan pergi ke suatu tempat, dengan siapa dan ketika tiba di suatu tempat sudah cukup bagi keduanya.


Jika memang keduanya sedang dalam waktu luang, maka boleh saja mereka berkomunikasi intens selama tidak melupakan prioritasnya ketika itu.


Memang, seorang kekasih adalah seseorang yang penting bagi pasangannya. Namun, untuk saat ini mereka sadar bahwa mereka masih dalam sebatas berpacaran.


Prioritas utama mereka adalah kebahagiaan diri mereka sendiri, kemudian keluarga, dan baru di tingkat yang ketiga adalah sang kekasih.


Mereka sepakat bahwa kebahagiaan masing-masing, tidak boleh digantungkan antara satu sama lain. Kebahagiaan seseorang menjadi tanggung jawab diri mereka sendiri.


Mereka berdua, Anders dan Ridha tidak akan menunggu satu sama lain hanya untuk menantikan kebahagiaan.


Apa saja yang bisa membuat Anders ataupun Ridha secara pribadi yang bisa membuat bahagia, boleh saja dilakukan tanpa batasan apapun dalam relasi ini.


Kemudian, kesepakatan yang mereka ambil yang ketiga adalah perihal tuntutan. Anders dan Ridha memiliki pandangan yang sama dalam hal ini.

__ADS_1


Mereka tidak akan menuntut satu sama lain untuk melakukan keinginan mereka pribadi yang diluar batas, selama keinginan mereka tidak memberatkan keduanya. Maka keputusan yang diambil akan kembali pada diri Anders atau Ridha.


Lalu, keputusan bersama yang mereka ambil adalah tentang pendidikan, sikap loyal dan royal.


Pendidikan tetap menjadi tujuan nomor satu bagi Anders, begitu pula dengan Ridha. Cita-cita Anders tidak boleh terganggu oleh apapun dan siapapun.


Ridha yang ingin mewujudkan mimpinya berkuliah di luar negeri juga masih akan terus berusaha sebaik mungkin.


Momen romantis yang entah bagaimanapun bentuknya, mereka sepakat untuk membiarkan hal itu terjadi.


Yang paling penting, siapapun diantara kedua orang itu yang akan melakukannya, harus memikirkan terlebih dahulu.


Apakah sikap yang diperlihatkan pada teman-teman kelasnya nanti akan membuat kehebohan atau tidak.


Perihal sikap royal dan loyal, mereka berdua memiliki pendapat yang berbeda. Ridha meskipun terlahir sangat berkecukupan, ia tetap begitu sederhana karena didikan yang telah diajarkan oleh kedua orang tuanya.


Hal itu membuat pandangannya, bahwa untuk saat ini loyal lebih penting daripada bersikap royal. Ia memprioritaskan kesetiaan yang ia yakin bisa melakukannya.


Sedangkan Anders, terlahir dari keluarga kaya raya dengan segala keinginan yang bisa ia dapatkan secara instan, berpendapat bahwa untuk saat ini ia akan lebih mudah bersikap royal terlebih dahulu.


Alasan dibalik ia memilih hal itu adalah, menurut Anders sikap royalnya bisa menumbuhkan sikap kesetiaannya kepada Ridha.


Maka dari itu, di tengah perjanjian yang mereka buat, Anders sempat memohon kepada Ridha agar nantinya bisa menerima apa yang ia berikan dengan senang hati tanpa ada rasa harus membalas budi.


Perbedaan pendapat itu, tidak menggoyahkan keduanya. Mereka setuju untuk menerimanya selama hal itu bisa menjaga hubungan yang saat ini mereka bangun.


Lisa, yang melihat kedua orang tua berbicara serius tentang hubungan keduanya. Hanya bisa tersenyum, dan dalam hati mendoakan yang terbaik bagi putranya, Anders, dan kekasihnya, Ridha.

__ADS_1


__ADS_2