
Masa orientasi siswa hari keempat berjalan lancar dan tidak ada hambatan sama sekali.
Di akhir acara, ada beberapa tugas ringan yang diberikan oleh panitia. Tidak ada games, tidak ada hukuman, atau hal yang semacamnya.
Hari ini merupakan hari terpendek selama empat hari MOS telah berlangsung.
Biasanya, para siswa keluar gerbang dan pulang menuju rumahnya sekitar pukul tiga lebih.
Memang ada siswa yang masih di sekolah meskipun hanya untuk berjalan-jalan dan membeli jajanan tradisional.
Tapi untuk hari keempat ini, bahkan jam belum menunjukkan pukul 02.30, semua siswa baru sudah berhamburan keluar meninggalkan aula.
“Ini adalah waktu yang tepat.” kata Anders dalam hati.
Dengan kepulangannya yang lebih awal, ia bisa berbicara dengan Alexa dan Ridha tanpa mengkhawatirkan pulang yang terlalu sore.
Anders keluar dari aula dan langsung menuju ke tempat Alexa di lantai dua tadi sesaat sebelum bel masuk jam pertama.
Ia berdiri, dan melihat serta mencari kedua perempuan itu. Berharap jika memang kedua perempuan itu jalan berdekatan akan lebih mudah bagi Anders.
Tidak lama dari ia menunggu dan mengawasi situasi dari tempatnya, terlihat Alexa sedang berlari di koridor barat menuju arah koperasi siswa.
Di saat yang bersamaan, Ridha juga terlihat sudah hampir mendekati keluar pintu gerbang.
__ADS_1
Anders bingung harus bertemu dengan siapa dulu, ia tidak berani memanggil salah satu dari mereka karena akan menimbulkan kehebohan.
Terlebih lagi, saat ini masih banyak sekali siswa yang ada di sekolah.
Anders spontan berlari untuk turun ke lantai satu dan mengejar Ridha. Ia sendiri tidak tahu mengapa keputusannya jatuh pada Ridha.
Namun, secara teori psikologi yang pernah mamanya ajarkan. Bahwa seseorang akan lebih memusatkan perhatian pada kejadian yang bersangkutan dengan orang itu.
Anders dalam berlari juga sempat berpikiran bahwa itu adalah reflek karena mungkin saja tadi pagi Ridha yang membayarkan minumannya.
“Ridha.” panggil Anders saat sudah mendekati Ridha.
Ridha menoleh dan cukup kebingungan mengapa orang yang ada di depannya saat ini terlihat sedikit ngos-ngosan.
“Kamu, kamu mau kemana?”
“Pulang, ada yang salah?” tanya Ridha balik.
“I mean, is there an urgent agenda?”
“Tidak ada. Kenapa?”
“Aku ingin bicara denganmu. Bisa?” tanya Anders sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1
Sebenarnya ia sedikit terkejut dengan pertanyaan pertama yang dilontarkan Ridha tadi. Pertanyaan yang tegas dan jelas, tidak ada getaran kecanggungan dalam vokalnya.
Lain hal dengan Anders, yang bahkan masih ada sedikit kebingungan apa nantinya yang akan dibicarakan dengan Ridha.
“Bisa, sekarang?” jawab Ridha singkat.
“Okay, wait a minute. Aku mau ke koperasi dulu.”
“Yakin?” tanya Ridha sedikit tertawa.
“Kenapa emangnya?”
Anders mengatakan hal itu untuk memancing apa reaksi Ridha. Apakah dia akan mengingatkan bahwa Anders tidak memiliki uang kas, atau mengabaikannya begitu saja.
“Bukankah kamu tidak memiliki uang kas untuk membayarnya. Hahaha..” Jawab Ridha tidak sadar.
Dan ya, Ridha lah orang yang membayarkan minumannya di koperasi tadi pagi.
Jika itu bukan Ridha, pasti Ridha tidak akan merespon seperti itu. Mengetahui hal ini, Anders bisa lega. Paling tidak, tidak ada lagi orang misterius yang muncul dalam kehidupannya hanya dalam dua hari.
Selain itu, akhirnya Anders juga memiliki ide bahan obrolan dengan Ridha. Ia bisa membuka obrolan dengan kejadian tadi pagi, dan apa yang akan dilakukannya setelah pulang sekolah nanti.
Anders pun mengajak Ridha untuk pergi kembali ke depan aula utama dan duduk di gazebo sebelah selatan.
__ADS_1
Perihal Alexa, Anders merasa pasrah untuk kali ini. Dan ia harus menemui perempuan itu esok hari.