
“Anders, gimana hari ini di sekolah? Lancar semua?” tanya Alex pada Anders.
“No problem, and still no case.” jawabnya singkat.
“Sekarang berarti hari ketiga ya?”
“Iya, pa. Masih ada dua hari lagi sampe MOS ini selesai.”
“Three days, seharusnya udah dapet banyak teman dong. Atau memang dari panitia masih bentuk kelompok yang sama?” tanya Alex penasaran.
“Nope, hari ini cuma ada beberapa pesan dari wakil kepala kesiswaan, selebihnya tugas biasa dan ada games sebelum pulang.”
“Wah, kalo papa dulu waktu SMA itu nggak ada yang namanya games. Malahan papa dulu hampir tiap hari dididik keras banget. Salah dikit disuruh push up atau squat jump.”
“Wait, menurut papa, kenapa sistemnya bisa beda dari yang papa alamin dulu dengan yang Anders alamin sekarang?”
Alex pun mengernyitkan dahinya dan memikirkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan anak sulungnya ini.
Tidak biasanya memang bagi Alex yang terkenal berbicara dengan rasional walaupun secara spontan.
Kali ini, ia memikirkan juga mengapa alasan dibalik perubahan pendidikan saat ini.
Akhirnya setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya dan menggali informasi-informasi yang pernah ia terima dari rekannya yang bekerja sebagai akademisi. Ia pun akhirnya menjelaskan kepada Anders.
Menurut Alex, berubahnya sistem pendidikan dari zaman yang pernah ia alami hingga saat ini anak laki-lakinya memasuki masa SMA adalah karena saat ini zaman sudah semakin beradab.
Namun juga masih banyak diluaran sana orang tua yang tetap membanggakan model pendidikan yang dulu mereka tempuh.
Bagi mereka, pendidikan yang keras bisa membuat anak memiliki mental yang sekeras baja pula.
__ADS_1
Dengan begitu banyaknya siksaan bagi secara verbal maupun fisik menjadikan mereka memiliki daya tahan yang lebih kuat pula.
Mungkin hal itu ada benarnya, ketika di masa itu masih sedikit sekali informasi yang didapatkan. Alhasil, remaja ketika itu juga tidak mengeluhkan apa saja yang ia terima.
Karena tidak ada hal yang bisa dibandingkan dengan yang mereka dapatkan saat itu.
Berbeda dengan zaman sekarang dimana kata globalisasi sepertinya sudah terjadi hampir sembilan puluh persen.
Semua anak bisa mengakses informasi yang mereka mau dan mereka butuhkan sesuai dengan keinginannya.
Konten ataupun artikel ataupun pengaruh media dari budaya barat yang notabene sudah maju jauh di depan secara tidak langsung mereka jadikan pembanding.
Maka dari itu, ketika mereka mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai. Mereka akan mengadu akan perbedaan yang terjadi.
Tak ayal jika saat ini bahkan anak yang sudah duduk di bangku SMP saja sudah bisa memanfaatkan dan mungkin dalam tanda kutip menyalahgunakan kewenangan dari hak asasi manusia.
Mereka tidak segan-segan untuk melaporkan kepada orang tuanya. Dan acap kali mereka mengatakan hal yang berbeda di depan orang tuanya, dan tidak sesuai dengan fakta yang telah terjadi.
Respon orang tua mereka pun juga masih banyak yang berlebihan. Seperti tidak begitu terimanya jika anak mereka mendapatkan konsekuensi atas tindakan salah telah dilakukan oleh anak mereka.
Mengetahui hal tersebut, para orang tua juga kebanyakan akan langsung mendatangi pihak sekolah untuk meminta pertanggungjawaban.
Terkadang, ada beberapa yang tidak segan-segan untuk melaporkan hal remeh dan seperti itu kepada pihak berwajib, seperti kepolisian.
Alex menjelaskan kepada anaknya, bahwa perubahan sistem pendidikan di Indonesia ini menuai banyak hal positif sekaligus banyak hal negatif.
Ia menekankan kepada anaknya, bukannya Alex ingin menjelekkan pendidikan di Indonesia, tetapi memang setiap perubahan yang terjadi akan selalu ada yang dikorbankan.
Di dalam setiap perubahan pasti diiringi dengan begitu banyak kritikan dan pertentangan, tapi juga diimbangi dengan saran dan dukungan.
__ADS_1
Bagi Alex, pendidikan zaman dahulu memang memiliki sisi baik yang sudah ia jelaskan diawal tadi, tetapi juga ada sisi yang tidak baiknya.
Pendidikan yang keras yang diterapkan ketika dulu Alex bersekolah adalah terbentuknya mental yang kuat dan tahan tangisan untuk hal-hal seperti itu.
Juga dengan banyaknya hukuman fisik yang ia terima, menjadikan tubuhnya lebih memiliki daya tahan yang lebih baik.
Namun, sisi buruknya adalah mereka yang saat ini sudah dewasa atau bahkan sudah di usia senja akan cenderung memiliki watak yang keras dan kolot.
Hal itu tak lepas dari diajarkannya bagaimana harus menjaga sesuatu dengan baik, jika tidak akan mendapatkan hukuman.
Sedangkan pendidikan saat ini yaitu pendidikan modern yang beradab, sisi baiknya adalah mereka yang telah menempuh pendidikan ini akan memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih luas.
Itu bisa terjadi, karena anak zaman sekarang dibebaskan untuk mengakses begitu banyak informasi.
Jika mereka melakukan kesalahan dan berdampak pada dirinya, maka itu menjadi tanggung jawabnya itu mengubah apa yang telah ditimbulkan.
Di lain sisi, yaitu sisi buruknya adalah banyak anak yang tidak mempunyai rasa memiliki akan suatu hal. Karena begitu banyak dan bebasnya informasi ataupun prinsip yang mereka terima.
Bagi mereka, kehilangan prinsip adalah hal yang lumrah dan wajar, mereka menganggap bahwa jika sudah kehilangan hal itu mereka masih bisa menemukannya di lain waktu.
Juga sisi yang menurut Alex kurang baik adalah tidak terletak pada anak atau siapapun yang telah mendapatkan pendidikan zaman sekarang.
Tetapi pada peran orang tua dan juga institusi pendukungnya.
Ketidaksiapan kedua orang tua mengenai pendidikan modern juga menjadi salah satu penghambat mengapa saat ini Indonesia masih terjebak dalam kata “proses” yang entah sampai kapan akan berakhir.
Perpaduan antara orang tua yang kolot dan memaksa, dengan anak yang berpikiran terbuka dan pengetahuan yang lebih luas juga bisa menjadi masalah serius kedepannya.
Maka dari itu, Alex menjelaskan pada Anders bahwa bagaimanapun dan apapun yang terjadi, harus bisa saling berkomunikasi dengan dirinya dan mamanya.
__ADS_1