
“Syifa, kak Anders pulang tuh. Samperin ke garasi sayang.” teriak Lisa pada putri kecilnya yang asyik menyusun puzzle di ruang tengah.
“Iya, mama..” sahut Syifa dengan suara cemprengnya.
Syifa berlari menuju ke garasi dengan bernyanyi lagu yang baru saja diajarkan di TK nya.
Anders yang mendengar suara adiknya itu langsung bersembunyi dan ingin menjahili satu-satunya adik tercantik yang ia punya. Ia bersembunyi di samping mobil sport berwarna abu-abu miliknya.
“Kakak..” teriak Syifa.
Tidak ada sahutan atau respon balasan yang diberikan oleh Anders untuk adiknya.
Itu membuat Syifa kecil takut dan merengek.
“Mama..”
Ketika mendengar adiknya itu merengek ia pun langsung keluar dan menggendong Syifa.
“Halo sayang.”
Syifa yang terlanjur takut, akhirnya keterusan untuk menangis dan mengadu kepada mamanya.
“Anders, kenapa Syifa?” tanya mamanya yang sedang ada di ruang makan.
“Nggak apa-apa kok ma, tadi cuma aku jahilin aja. Aku sembunyi di samping mobil. Eh, si mungil malah takut.” jelas Anders kepada mamanya.
Mamanya yang sedang sibuk membuat kue coklat permintaan Syifa, tiba-tiba diminta Anders untuk berhenti.
Anders ingin menceritakan tentang kejadian yang baru saja terjadi di sekolah hari ini.
“Ma, bisa minta waktunya sebentar? Kalu emang bisa ditinggal sih.” ucap Anders.
“Tentu saja sayang, lagian mama juga lagi nunggu oven. Nanti kalo ovennya bunyi, berarti waktunya dikeluarin.” jawab Lisa.
Permintaan Anders disetujui oleh Lisa. Ia juga ingin mendengarkan kali ini apa yang akan dibicarakan oleh putra sulungnya itu.
Anders menceritakan bahwa jika pagi ini ia mengalami hal apa yang kemarin dilakukan oleh dirinya pada Ridha.
__ADS_1
Beberapa saat Lisa masih bingung dan tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh putranya itu.
Kembali Anders mengulang ceritanya, ia bercerita dengan detail bagaimana ia sampai bisa kelupaan untuk membawa uang kas dalam dompetnya.
Cukup lama Anders menceritakan banyak hal dalam waktu yang cukup singkat yaitu dalam satu pagi sebelum bel masuk sekolah.
Dan masih tidak ada tanggapan dari Lisa, mamanya. Seperti itulah karakter dan kesopanan Lisa meskipun pada anaknya.
Ia akan tetap menunggu lawan bicaranya selesai dengan seluruh monolognya, atau hingga lawan bicaranya berhenti dan meminta untuk direspon.
Sampai saat ini, Anders masih asyik mengoceh. Terlihat juga bagaimana Anders begitu antusias untuk mereka ulang kejadian ulang yang baru saja terjadi pada dirinya.
Hingga pada bab, sepulang sekolah. Anders bercerita tidak selancar ketika pagi harinya.
Lisa yang menyadari hal itu, berspekulasi bahwa anak laki-lakinya ini masih dalam keraguan dan kebimbangan. Anders mungkin saja telah mendapatkan hal yang mengejutkan lagi dari seorang perempuan yang bernama Ridha.
Dan ketika Anders mulai berhenti berbicara, dan juga tidak meminta respon dari Lisa, disitulah waktunya Lisa untuk bertindak.
Sebelum merespon, ia mencoba mengurutkan ulang seluruh rangkaian cerita dan mencari apakah ada celah yang bisa digali lebih dalam untuk membantu atau mungkin saja menenangkan putranya itu.
Anders tetap tidak menjawab, hanya menatap mamanya dengan tatapan yang bingung.
“Jadi, dibikin kaget lagi ya sama Ridha?”
Anders tidak membuka mulutnya untuk berbicara, nampak hanya anggukan ringan kepalanya.
Sebenarnya, saat ini hal yang paling penting bagi Lisa adalah untuk membuat anaknya merasa nyaman terlebih dahulu.
Dengan begitu, apapun nantinya yang akan Lisa sampaikan, Anders tidak akan merasa terbebani ataupun merasa tersinggung.
Maka dari itu, melihat kesempatan yang bersamaan, Lisa menyuruh anaknya untuk mandi dan membersihkan tampilannya terlebih dahulu. Ia juga bilang kepada Anders jika kuenya akan segera siap.
Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang bisa memotong obrolan antara dirinya dengan putranya.
Anders pun menuruti apa yang dikatakan oleh mamanya, ia menuju kamarnya.
Sebelum ia beranjak untuk mandi, ia melihat meja belajarnya berantakan. Ia lupa bahwa peralatan untuk menggambar gedung impiannya masih belum ditata kembali tadi malam.
__ADS_1
Disela-sela ia merapikan meja belajarnya, ia menemukan sebuah kertas catatan.
Di atas kertas itu ada sebuah catatan yang tertulis hasil goresan tinta bolpoin berwarna biru.
“Disetiap kecantikan pasti akan ada ancaman, seperti falsafah hutan kuno, ketika ada merak diatas maka pasti akan ada harimau di bawahnya. -Anders-”
Seperti itulah bunyi catatan yang ia temukan dalam kertas lusuh di antara buku-buku dan peralatan miliknya.
Anders sendiri bahkan lupa apakah ia yang menulis catatan itu, atau ada orang lain yang mengutip perkataannya di suatu tempat.
Ia pun memutuskan untuk menyimpan catatan itu di meja belajarnya di pojok dekat dengan koleksi buku ilmiah yang sering ia baca.
Sudah terlihat rapi dan tidak berantakan, kali ini ia segera bergegas menuju kamar mandi. Ia ingin segera menemui mamanya lagi dan mendengar apa yang akan dikatakan oleh mamanya.
Di lain sisi, Lisa sebenarnya menyuruh Anders mandi adalah karena ia juga butuh waktu untuk memikirkan saran yang paling tepat bagi anaknya saat ini.
Ia akan memberikan pilihan dengan diiringi berbagai pertimbangan. Bagi Lisa, memang sudah saatnya untuk Anders yang menginjak bangku SMA untuk bisa memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri.
Namun juga tidak berarti Lisa sebagai mamanya dan Alex sebagai papanya akan membiarkan begitu saja putra sulungnya itu memutuskan berbagai hal tanpa kawalan.
Karena, menurut Lisa dari berbagai pengalaman dan teori yang telah ia pelajari selama ini. Jika seorang anak terlalu dimanjakan pada keputusan yang instan, maka anak itu tidak akan berani mengambil resiko sama sekali.
Sebaliknya, apabila seorang anak dibiarkan untuk memutuskan semuanya tanpa mendapat perhatian dari orang yang ada di sekitarnya.
Terutama orang tua, maka bukan tidak mungkin keputusannya akan mencelakai dirinya sendiri.
Seusai mandi, Anders menuju kembali ke ruang dapur untuk menemui mamanya itu.
Lisa juga nampak sudah duduk santai, dan terlihat lampu indikator kematangan oven sudah padam yang artinya kue sudah dikeluarkan dan tidak akan digunakan lagi.
“Ini sayang, coba dulu. Tadi tuh Syifa waktu mama jemput pulang, katanya pengen makan kue coklat.” ucap Lisa.
Anders mengambil sepotong kue buatan mamanya itu, dan menunjukkan raut wajah yang seolah mengatakan bahwa itu enak.
Lisa yang paham dengan hal itu juga tidak ingin bertele-tele lagi, dalam benaknya sudah pasti putra sulungnya ini menunggu respon darinya.
Waktu yang cukup bagi Lisa untuk memikirkan respon terkait cerita anaknya tadi, bisa ia mafaatkan sebaik mungkin. Di babak inilah, adalah waktunya Lisa untuk mengoceh.
__ADS_1