KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 055


__ADS_3

"Sayang, lagi dimana?" begitulah pesan singkat yang dikirimkan oleh Ridha kepada laki-laki yang resmi menjadi kekasihnya saat ini.


Terlihat pesan tersebut dikirimkan pukul 17.00, yang seharusnya jika memang Anders sedang tidak ada kegiatan, maka ia sudah sampai di rumahnya.


Ridha tidak mengetahui bahwa saat ini, Anders sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk salah satu sahabatnya.


Perjalanan menuju rumah sakit cukup lama, karena sahabatnya itu baru saja mengalami kecelakaan yang jaraknya cukup jauh dari sekolah.


Diperlukan waktu sekitar sembilan puluh menit untuk tiba di rumah sakit, itupun jika jalanan memang sedang lancar.


Sedangkan saat ini, adalah jam waktunya banyak siswa untuk pulang sekolah dan banyak pekerja yang pulang dari kantor mereka.


Anders, terjebak dalam kemacetan. Meskipun ia sudah berusaha untuk mencari celah-celah di antara kendaraan yang lain, tetap saja ia tidak bisa secepat itu untuk mencapai rumah sakit.


"Sayang, is everything okay?" pesan masuk dikirimkan lagi oleh Ridha berselang sekitar lima belas menit.


Ridha curiga bercampur khawatir mengapa Anders tidak segera membalas pesannya.


Biasanya, Anders menepati perjanjian ketika mereka memutuskan untuk berpacaran. Salah satunya adalah memberi kabar jika sudah sampai di rumah dengan selamat.


Walaupun terkadang tidak tepat waktu, tetapi kali ini hingga satu jam lebih masih tidak memberikan kabar.


Dalam benak Ridha, ia khawatir jika kekasihnya itu mengalami hal yang buruk di tengah perjalanan pulang.


Dari awal Ridha memang sudah tahu, jika gaya bermotor Anders suka sekali untuk mengebut.


Tetapi, ia bisa memaklumi itu karena Anders juga tahu batasan dimana Anders harus menarik gasnya dengan penuh atau tidak.


Anders juga orang yang waspada dan hati-hati ketika di jalan. Makanya Ridha bisa menerima jika Anders meminta ijin untuk pergi ke suatu tempat dengan kecepatan tinggi.


Sudah setengah jam berlalu, dan sekarang tepat pukul 17.25, akhirnya Anders sampai di parkiran rumah sakit.


Setelah memarkirkan motornya, ia segera menuju ke pusat informasi yang ada di bagian depan.


Segera ia bertanya kepada perawat yang ada disana, untuk mengkonfirmasi apakah ada sahabatnya.


Cukup cepat bagi perawat itu untuk mencari apa informasi yang diinginkan oleh Anders, ia pun segera berlari menuju ruangan dimana sahabatnya sedang berbaring di sana.


Dari depan pintu, ia melihat sahabatnya sedang ditangani oleh banyak perawat dan dua dokter.


Ia memutuskan untuk menunggu hingga semuanya keluar dan bertanya pada dokter apa sahabatnya itu baik-baik saja.


Anders duduk termenung dan melihat dengan pandangan kosong begitu banyak perawat yang berlalu lalang di lorong tempatnya duduk.


Dalam hatinya, ia berharap semuanya baik-baik saja. Anders menghela napas panjang kali ini.


Tidak ada terbesit pun sama sekali dalam benaknya jika saat ini ia sudah memiliki kekasih dan harus mengabarkan apa yang terjadi.


Tak lama setelah itu, dokter dan perawat yang ada di dalam ruangan pun akhirnya keluar.

__ADS_1


Anders segera bangkit dan berdiri, dan menyapa mereka.


"Selamat sore, dok. Saya Anders, sahabatnya pasien. Bagaimana dok? Apa kondisinya ada yang dikhawatirkan?" tanya Anders.


"Oh, selamat sore. Untuk saat ini, penanganan sudah dilakukan semaksimal mungkin. Jika memang pasien yang bersangkutan memiliki progress yang baik, setidaknya dalam dua hari beliau pasien sudah sadar." jelas dokter singkat sambil tersenyum meninggalkan Anders.


Mendengar penjelasan itu, Anders sedikit membungkukkan badan tanda terima kasih.


Lalu ia masuk ke dalam ruangan itu. Sahabatnya sedari ia duduk di bangku TK kali ini harus terbaring kaku dengan segala alat medis yang menempel di tubuhnya.


Kursi yang ada di sebelahnya pun ia tarik dan duduk menghadap sahabatnya.


Anders menggenggam tangan sahabatnya, dalam hati ia berdoa kepada Tuhan agar bisa memberikan kesembuhan lebih cepat untuk sahabatnya itu.


ting…


Ponsel milik Anders kembali berbunyi. Suara notifikasi pesan masuk dari Ridha menyadarkan dirinya yang hampir tertidur sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.


Tidak sadar, ia telah menggenggam tangan sahabatnya cukup lama.


Hal itu terlihat dari saat ini pesan musik dari Ridha pukul 18.12.


Ia mengambil ponselnya dari dalam tas ransel kulit berwarna coklat pemberian papanya.


Disana ia melihat ada beberapa pesan yang sudah masuk cukup banyak, tidak hanya dari Ridha.


Memang, ketika ia menuju rumah sakit ia tidak memberikan kabar kepada siapapun. Bahkan mama dan papanya pun sampai lupa tidak ia kabari terlebih dahulu.


Tak lupa, ia juga membalas pesan bertumpuk yang sudah Ridha kirimkan.


“I’m okay. Sorry for delay. Sepulang sekolah aku langsung ke rumah sakit menjenguk temanku dan sekarang masih disini.” balas Anders.


“Maaf, aku hanya khawatir karena kamu tidak segera membalas pesanku tadi.” pesan masuk dari Ridha begitu cepat ia terima


“It’s okay, sayang. Maaf ya.”


Tidak berselang lama, ruangan itu diketuk oleh beberapa orang. Terlihat ada dua orang pria mengenakan seragam polisi dan satu orang perawat yang menemani mereka.


Anders yang mendengar ketukan pintu itu, segera beranjak dari tempat duduknya dan menemui mereka di luar.


“Iya pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Anders pada mereka.


Ternyata, polisi itu menjelaskan apa yang terjadi pada sahabatnya ini. Di ruas jalan tempat sahabatnya itu terjatuh, memang kala itu sedang ramai namun tidak sampai macet.


Jalan yang cukup lebar membuat semua orang yang melintasi jalan itu secara otomatis ingin memacu kendaraan mereka lebih cepat.


Dugaan yang diberikan polisi, sahabatnya yang kini tengah terbaring tidak sadarkan diri juga melakukan hal yang sama.


Dari penyelidikan polisi, terdapat bekas ban akibat pengereman kuat, sehingga membuat motor yang dikendarai terpelanting ke sisi kanan jalan.

__ADS_1


Sementara ini, beberapa saksi mengatakan bahwa sahabatnya itu menghindari adanya tabrakan antara dia dan satu orang pengguna motor yang menyeberang tanpa melihat kondisi keramaian jalan ketika itu.


Alhasil, secara spontan dilakukan lah pengereman secara mendadak. Beberapa tim dari polisi juga mengatakan bahwa saat itu, kendaraan dipacu juga tidak melebihi batas maksimum.


Hal itu terlihat dari panjangnya goresan ban akibat pengereman, semakin panjang goresan itu berarti semakin tinggi pula kendaraan dipacu.


Sedangkan di tempat kejadian perkara, panjang goresan itu tidak sampai lebih dari 80 cm.


Kemungkinan, kala itu kendaraan yang ditunggangi oleh sahabatnya sedang berada dalam kecepatan sekitar 50-65 km/jam.


Mendengar pernyataan dari polisi, ia merasa sedih. Karena ternyata sahabatnya mengalami kecelakaan bukan karena kelalaian. Namun, untuk menghindari pengguna jalan yang tidak tahu aturan.


Ia pun bertanya kepada polisi bagaimana kondisi orang yang saat itu hampir ditabrak oleh sahabatnya.


Menurut keterangan polisi, orang yang berada dalam posisi itu sedang dalam pencarian.


Karena dari beberapa kesaksian, orang yang bersangkutan melarikan diri begitu saja karena takut untuk bertanggung jawab dan mengganti biaya rumah sakit korban.


Anders merasa sangat marah ketika polisi mengatakan hal itu, ia meminta polisi agar segera menemukan orang itu dan memberitahunya jika sudah tertangkap.


Ia ingin orang itu bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan kepada sahabatnya.


Bahkan, dalam benak Anders jika pihak berwajib tidak segera menemukan orangnya, ia akan mencarinya seorang diri.


Rasa iba yang muncul pada diri Anders kini sedang memuncak, bagaimana tidak, sahabatnya sejak kecil sudah mengalami hal yang tidak menyenangkan.


Anders telah menjadi tempat cerita keluh kesahnya sejak duduk di bangku SMP yang sama.


Tak heran jika mengetahui bagaimana kondisi keluarga sahabatnya. Kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh ayah sahabatnya itu pada ibu, dan adiknya membuat sahabatnya harus berjuang seorang diri.


Kekerasan yang berakhir dengan perceraian secara tidak baik, ditambah lagi dengan perebutan harta warisan membuat kondisi yang semakin tidak kondusif.


Saat ini, sahabatnya itu hanya hidup dengan adiknya yang masih duduk di bangku kelas empat SD.


Ibunya, yang awalnya memilih pergi untuk bekerja di luar kota pun sudah hampir tiga tahun tidak kembali.


Mereka berdua tinggal di rumah kecil milik tetangga yang juga memiliki warung kopi. Sahabatnya itu, membayar balas budi tetangga yang baik hati itu dengan bekerja di warung kopi.


Tidak besar memang, penghasilan yang didapat. Namun, setidaknya kebutuhan makan dan tempat tinggal bagi mereka sementara ini sudah terjamin.


Melihat apa yang baru saja menimpa sahabatnya ini, Anders tidak akan berpikir panjang untuk membayar semua biaya rumah sakit yang ditagihkan.


Bahkan, ia tidak perlu meminta ijin kepada mama dan papanya terlebih dahulu.


Ia akan mengambil uang yang ada di tabungannya dan mengatakan hal itu kepada mama dan papanya ketika sahabatnya satu ini sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala.


Malam pun tiba, dan kini Anders memiliki dua kewajiban. Yaitu menemui adik dari sahabatnya dan menjelaskan apa yang terjadi, dan yang kedua menghubungi mamanya dan Ridha.


Sebelum dirinya melakukan itu, ia ingin pergi ke kamar mandi dan membasuh mukanya.

__ADS_1


Menenangkan sejenak kondisi pikirannya, agar nantinya tidak ada satupun yang telah ia rencanakan akan terlewat.


__ADS_2