
Satu minggu berlalu sejak Ridha terakhir kali berbaring di rumah sakit karena terlalu kecapekan, akhirnya Ridha mengatakan yang sebenarnya terjadi kala itu.
Sebelum hari ini, ia hanya menceritakan secara umum jika yang menjenguk dirinya cukup banyak ada beberapa teman, orang tua, dan juga beberapa orang lainnya.
Ia tidak menceritakan secara detail siapa saja yang datang ketika itu kepada Anders.
Karena Ridha masih merasa kecewa mengetahui bahwa kekasihnya sendiri, mendapat kabar dirinya sakit ketika sudah berbaring selama tiga hari lamanya.
Dalam percakapan telepon yang saat ini mereka berdua lakukan, Anders terdengar meminta maaf terlebih dahulu.
Anders merasa cukup menyesal karena tidak mengecek ponselnya sama sekali ketika itu.
Ia juga menjelaskan bagaimana tekanan yang ia alami dari pihak penyelenggara acara. Ridha yang hanya menjawab ketus permintaan maaf Anders, karena masih belum bisa menerima sepenuhnya.
Dalam percakapan itu juga, Ridha mengatakan semua ceritanya secara lengkap.
Ketika Ridha pingsan, orang pertama yang membantunya adalah teman perempuan satu kelasnya. Ia memanggil tim medis dari universitas untuk meminta dilakukan pertolongan pertama.
Kata temannya itu, Ridha pingsan hampir dua jam lamanya. Hingga pada saat Ridha tersadar, pihak medis universitas memutuskan untuk membawa Ridha ke rumah sakit terdekat.
Menurut penuturan tim medis saat itu, pihak medis universitas masih belum mempunyai kapabilitas dalam segi peralatan untuk melakukan diagnosa mendalam.
Apa penyakit yang sedang Ridha alami juga terlalu banyak jika hanya mengandalkan diagnosa melalui mimisan.
Temannya itu juga ikut mengantar Ridha hingga sampai rumah sakit. Bahkan yang menelepon orang tua Ridha adalah teman perempuannya ini.
Di rumah sakit, Ridha mendapatkan tindakan lanjutan. Hasil diagnosa awal yang diberikan oleh dokter, Ridha mengalami mimisan karena terlalu kelelahan.
Dalam masa inapnya, banyak teman kelasnya yang menjenguk dan memberi semangat Ridha agar bisa sembuh dan kembali beraktivitas seperti mereka lagi.
Pada hari kedua, barulah kedua orang tuanya datang untuk menjenguk dirinya.
Kedua orang tua Ridha juga tidak sampai menginap menunggu putrinya itu kembali sembuh.
Mereka berdua menjenguk putrinya di pagi hari dan kembali ketika malam hari tiba. Ridha yang sudah dijelaskan alasan mereka berdua tidak menginap juga bisa menerima dan berterima kasih kepada orang tuanya.
__ADS_1
Ada beberapa hal yang tidak ia duga sebelumnya terjadi pada hari ketiga, hari terakhir ia berbaring di atas kasur rumah sakit itu.
Pada siang hari, Ridha ditemui oleh seorang dokter yang sebelumnya juga telah memeriksa kondisinya.
Dokter itu mengatakan, kondisi Ridha saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ridha mengidap polisitemia vera. Yaitu kelainan produksi jumlah darah merah dalam tubuh.
Jika Ridha tidak melakukan olahraga secara rutin dan menjaga pikirannya tetap rileks, maka mimisan akan terus-terusan terjadi.
Dan apabila hal itu dibiarkan, maka akan merusak organ dalam milik Ridha. Menurut dokter, yang saat ini Ridha lakukan adalah tetap tenang dan tidak panik setelah mengetahui diagnosa penyakitnya.
Karena polisitemia vera bukanlah penyakit yang akan membunuh orang dalam sekejap. Masih banyak sekali kesempatan untuk sedikit demi sedikit bertahan hidup setiap harinya.
Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh dokter, ia menahan tangisnya. Ia mengangguk dan berterima kasih kepada dokter itu karena sudah melakukan yang terbaik.
Di hari terakhirnya di rumah sakit, ia juga mencari semua informasi tentang penyakit polisitemia vera yang ia idap. Sebisa mungkin ia akan melakukan semua anjuran yang tertera di sana.
Ia juga sesekali bertanya kepada kakak kelasnya yang saat ini berkuliah di jurusan kedokteran hanya untuk memastikan bagaimana sifat penyakitnya itu.
Tidak terasa, matahari sudah tidak berada di titik tertingginya lagi. Ia tidak menyadari bahwa sudah cukup lama ia menatap layar ponselnya.
Di dalam kamar mandi yang ada di ruangannya, Ridha tidak sadar jika ada orang yang memasuki ruangannya tanpa ijin.
Seseorang itu, tidak mengambil apapun melainkan meletakkan sesuatu di atas kasur tempat Ridha berbaring sebelumnya.
Begitu terkejutnya Ridha ketika keluar dari kamar mandi. Ia melihat ada satu buket bunga yang tidak terlalu besar, dan satu buah coklat batangan.
Ia segera keluar dan menengok ke arah sepanjang lorong, menengok adakah orang yang dikenalnya yang baru saja memasuki ruangannya.
Namun, karena lorong rumah sakit itu begitu ramai. Ia tidak bisa menemukan satu orang pun yang pernah ia temu.
Ridha kembali menuju kasurnya. Ia mencium bunga itu, wangi natural yang dikeluarkan membuat Ridha tersenyum tipis.
Namun, senyumnya tidak bertahan lama ketika ia mengambil coklat itu. Dibalik coklat itu, ada sebuah potongan kertas dengan catatan di dalamnya.
- “Semoga cepat sembuh\, dan bisa bersaing lagi. Alexa” -
__ADS_1
Ia sontak terdiam kaku ketika membaca tulisan di atas secarik kertas itu. Bagaimana bisa seorang Alexa mengetahui dirinya sedang sakit dan berada di ruangan ini.
Bagaimana bisa sosok Alexa yang sudah tidak ia perhatikan lagi, tiba-tiba datang dengan hal yang mengejutkan.
Ridha duduk di atas kasurnya dengan pandangan kosong. Ia tidak bisa berkata-kata dengan apa yang baru saja ia dapatkan.
Seorang perempuan yang pernah membuat kekasihnya merasa begitu jengkel karena merasa dipermainkan oleh Alexa.
Dan kemudian bisa terlepas dari permainan Alexa, kini ia datang kembali di saat seperti ini.
Ridha semakin takut akan apa yang terjadi pada Anders kala itu. Banyak sekali bayangan yang menakutkan yang saat ini ia bayangkan.
Pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Ridha sedang berputar-putar dalam kepalanya.
Coklat batangan itu, ia ambil kembali. Ia memperhatikan coklat itu seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah besar dari kedua orang tuanya.
Bedanya, jika seorang anak kecil akan dengan ceria melihat satu-persatu hadiahnya.
Namun tidak dengan Ridha, ia menatap coklat itu dengan pandangan kosong. Terlihat kekesalan yang tidak bisa dikeluarkan dari sorot mata ridha.
Anders yang mendengar nama Alexa dalam percakapan telepon kali ini langsung memotong cerita Ridha.
“Alexa?” tanya Anders.
“Iya, Alexa. Aku nggak tau Alexa yang sama atau berbeda orang. Bisa saja ada orang yang salah meletakkan di ruanganku.” ucap Ridha.
“Tapi, kata-kata yang ada di kertas itu sudah sangat menggambarkan sosok Alexa yang kita kenal.”
Menurut Anders, hanya Alexa Aurelia Renata yang bisa memilih kata seperti itu di saat seseorang sedang dirawat di rumah sakit.
“Jadi, maksudnya bersaing itu apa?” tanya Ridha.
“We don’t know. Semoga saja Alexa nggak ngelakuin hal gila lagi seperti dulu.” sahut Anders.
Mereka berdua juga tidak mengetahui saat ini Alexa sedang berkuliah dimana, itu salah satu yang menjadi pertanyaan juga bagi mereka.
__ADS_1
Karena, rasanya tidak mungkin seseorang yang berkuliah jauh dari Surabaya hanya untuk datang dan memberikan ucapan begitu saja tanpa bertemu pasien yang dijenguknya.