
Hari ini adalah hari pertama dimana pelajaran akademik dimulai, itu berarti semua siswa sudah resmi menjadi bagian dari SMA itu.
Biasanya, siswa di hari pertama masuk sekolah akan begitu semangat dan tidak ingin menyia-nyiakan waktunya.
Mereka tidak ingin impresi pertama dari semua orang yang ada di kelasnya menjadi buruk karena kesalahan-kesalahan kecil.
Banyak dari para siswa yang bahkan rela untuk mendobrak kebiasaannya sehari-hari. Seperti tidur larut malam dan begadang.
Di hari pertama, malam sebelumnya kebanyakan dari mereka akan tidur lebih awal hingga bisa bangun lebih pagi.
Tapi tidak dengan Anders kali ini. Memang benar bahwa Anders juga mendobrak kebiasaannya, namun kali ini adalah awal yang buruk.
Ia baru tidur pukul tiga pagi, dan bangun ketika suara azan berkumandang. Setelahnya, ia melanjutkan tidurnya.
Malam itu, ia melanjutkan untuk menggambar desain gedung miliknya, karena terlalu antusias, ditemani dengan musik yang berputar dalam headphone miliknya, ia sampai lupa waktu.
Di saat yang bersamaan, papa dan mamanya sudah meninggalkan rumah ketika pukul enam pagi untuk beraktivitas masing-masing.
__ADS_1
Papanya, Alex hari ini memutuskan untuk berangkat lebih awal karena mempersiapkan meeting dengan kliennya yang datang dari luar kota.
Sedangkan Lisa, mamanya, berangkat menuju pasar terlebih dahulu untuk membeli beberapa bekal snack untuk putrinya itu dilanjutkan langsung mengantar Syifa ke sekolahnya.
Oleh karena itu, tidak ada lagi yang membangunkan Anders. Papa dan mamanya pun juga tidak ada inisiatif, karena kebiasaan Anders yang selalu tepat waktu ketika mempunyai kewajiban.
Anders pun bangun pada pukul 06.11 pagi, ia sangat panik ketika melihat dinding yang ada di kamarnya.
Ia belum bersiap dan bahkan berkemas untuk mata pelajaran apa saja yang akan ia dapatkan hari ini.
Keputusan spontannya saat itu, adalah dengan mengira-ngira ada berapa jumlah mata pelajaran yang akan ia terima dalam satu hari.
Ketika mandi pun, ia memikirkan jalan mana yang akan ia lewati, ia menghitung dengan kasar, disertai dengan insting yang ia punya.
Anders pun bergegas keluar rumah dan berangkat menuju sekolah. Secepat apapun ia memacu motornya, tetap saja akan terlambat.
Mungkin bagi sebagian orang akan membiarkan hal itu, dan mengurangi rasa paniknya dengan berangkat begitu santai.
__ADS_1
Namun, yang namanya seorang Anders. Jika sesuatu yang baik akan bisa datang berkali lipat jika dilakukan, begitu juga dengan sesuatu yang buruk akan bisa berkali lipat jika dibiarkan begitu saja.
Ia tetap memacu kuda besinya itu secepat mungkin, berharap semakin sedikit waktu keterlambatannya dan semakin sedikit pula hukuman yang ia terima nantinya.
Sesuai dugaan Anders, sesampainya di sekolah gerbang utama sudah ditutup. Hanya gerbang tempat parkir kendaraan yang ada di sebelah timur yang dibuka, dan dijaga satpam.
Dalam hatinya, semoga permintaan maaf atas keterlambatannya kali ini bisa diterima.
Tetapi dalam hatinya juga ia menyangkal itu, mana ada orang yang akan memaafkan suatu kesalahan yang dilakukan dalam hari penting yakni hari pertama sekolah.
Anders tetap berjalan dengan cepat, namun tidak tergesa-gesa. Ia berusaha meredam rasa paniknya, agar detak jantungnya lebih pelan.
Dengan detak jantung yang lebih pelan, maka ia tidak akan mudah tersulut emosi oleh siapapun nanti yang akan memberinya sanksi.
Tepat di depan gerbang utama sekolah saat ini ia berdiri, sudah ada beberapa guru bimbingan konseling yang berjaga di sana.
“Loh, kok terlambat.” ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Iya bu, maaf.” Anders tidak ingin beralasan apapun, karena keterlambatan datangnya dirinya ke sekolah adalah karena dirinya sendiri, bukan kesalahan siapapun.
“Kenapa terlambat?” tanya dari orang yang berbeda.