
Perjalanan sembilan puluh menit sudah ia lewati, kini Anders telah tiba di bandara kota tempat tinggalnya.
Ia segera memesan taksi untuk menuju ke “rumah” Noah. Dalam perjalanan menuju kesana, tiba-tiba suara notifikasi ponselnya berbunyi.
Anders membuka ponselnya, melihat ada permintaan untuk mengirim pesan di instagram.
“Noah sedang tidak berada di rumah.” begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh akun anonim.
Merasa terkejut setelah membaca pesan itu, ia meminta sopir taksi untuk berhenti sejenak dan tidak usah mengkhawatirkan biaya yang dihabiskan. Anders akan membayar semuanya.
Ia membuka akun instagram itu, tidak ada satupun orang yang diikuti olehnya. Juga tidak satupun akun yang mengikuti profil tersebut.
Foto profil yang terpasang hanyalah sebuah foto meme kucing yang sedang berdiri.
Kepalanya yang sudah pusing sejak tadi malam, semakin pusing lagi setelah mendapatkan pesan itu.
Anders kembali memikirkan lagi, adakah orang yang ia ceritakan tentang rencana perjalanannya hari ini.
Cukup lama ia mengingat, dan tidak ada satupun yang mengetahui rencananya kali ini.
Bahkan kekasihnya sendiri, Ridha, juga tidak mengetahui secara jelas untuk apa Anders datang kemari.
Tidak lama sejak pesan pertama itu terkirim, ada satu pesan lagi dari akun yang sama.
“Alexa. Thank me later.” isi pesan itu.
Mengetahui bahwa orang yang ada dibalik akun itu adalah Alexa, ia segera membalas pesan itu bertubi-tubi.
Ia bertanya bagaimana bisa Alexa mengetahui rencananya yang sedang mencari sosok Noah.
Anders juga bertanya apakah semua ini sudah direncanakan Alexa, dan masih banyak lagi pertanyaan yang diajukan oleh Anders dalam pesan itu.
Namun, bukannya membalas dengan serius. Akun itu hanya membalas semua pesan beruntun yang telah dikirim Anders hanya dengan emoji acungan jempol.
Perasaannya kali ini bercampur aduk, ia merasakan kekesalan yang begitu membara pada Alexa dan Noah.
__ADS_1
Bagaimana tidak, belum usai satu konflik ia tuntaskan, kali ini sudah ada konflik baru yang menunggunya.
Ia juga tidak bisa menginterpretasikan dari jawaban sebuah emoji acungan jempol tadi.
Anders tidak mengetahui acungan jempol itu merujuk pada pertanyaan yang mana karena begitu banyaknya pesan yang telah ia kirim.
Akhirnya, ia kembali menyuruh sopir taksi itu untuk melanjutkan perjalanan sesuai dengan tujuan awal, yaitu rumah Noah.
Perjalanan yang memakan waktu 40 menit itu pun akhirnya berakhir, kini ia sudah berada tepat di depan rumah Noah.
Ia segera turun dari taksi, membayarnya dan langsung menghampiri warung kopi itu.
Disana sudah tidak terlihat lagi Noah yang biasanya berjaga warung. Ia pun bertanya pada laki-laki yang saat ini menjaga warung itu.
“Permisi, ada Noah?” tanya Anders.
Laki-laki itu tidak menjawab hanya menunjuk ke arah belakang tempat rumah itu berdiri.
Anders pun tidak mau membuang waktu lagi, ia segera menuju ke rumah itu. Diketuknya pintu yang tertutup itu oleh Anders.
Anders juga mau tidak mau harus menyembunyikan emosinya untuk sesaat, ia tidak ingin bapak yang tidak tahu-menahu tentang masalah ini ikut terseret ke dalamnya.
“Nak Anders, ada apa?” tanya bapak itu dengan sopan.
“Begini, pak. Saya ada urusan dengan Noah. Apa Noah nya ada?”
Tiba-tiba bapak itu pun mengalihkan pandangannya dari Anders sembari menghela nafas.
Ia menceritakan, jika Noah meninggalkan rumah ini sejak kondisinya sudah benar-benar pulih seratus persen.
Tidak ada pesan atau apapun yang ditinggalkan oleh Noah, hanya saja kala itu adik Noah pernah berbincang dengan dirinya.
Adik Noah menceritakan jika kakaknya pamit untuk pergi keluar kota selama beberapa hari dan akan tetap memberikan uang saku kepada adiknya.
Memang, Noah menepati janjinya untuk memberikan uang saku itu. Setiap bulan, ada kurir pos yang mengantarkan uang ditujukan kepada bapak dan adik Noah.
__ADS_1
Di lain sisi, Noah tidak pernah menepati janjinya untuk kembali hingga saat ini.
Bapak itu juga menceritakan gelagat aneh Noah ketika baru saja pulih. Kerap kali Noah mengigau dan menyebutkan nama seorang perempuan, namun berhubung bapak itu sudah tua, ia tidak bisa mengingatnya lagi.
Anders yang mendengar cerita dari bapak itu, sempat menduga bahwa nama yang Noah ucapkan adalah nama kekasihnya, Ridha.
Tetapi tidak lama, ia segera membuang pikiran itu. Ia mencoba meredam semua pikiran buruk yang datang kepadanya kali ini.
“Jadi, bapak benar-benar tidak tahu Noah sekarang ada dimana?”
Bapak itu hanya bisa menggelengkan kepala. Ia turut bersedih, karena merasa kasihan dengan adik Noah yang saat ini sudah tidak memiliki siapa-siapa.
Meskipun di rumah itu ada dirinya dan istrinya, tetapi tetap saja mereka berdua tidak bisa memberikan sepenuh waktunya untuk adik Noah.
Anders pun yang mendengar cerita itu juga menjadi merasa kasihan pada apa yang menimpa adik Noah.
Dan hal itulah juga yang membuatnya semakin geram pada Noah. Bagaimana bisa seorang kakak laki-laki dengan tega meninggalkan adik perempuannya seorang diri.
Cukup lama Anders dan bapak itu berbincang, akhirnya Anders pun pamit untuk pulang.
Di depan warung kopi itu, ia menunggu taksi yang sudah ia pesan. Tidak lama berselang dari ia menunggu, sebuah pesan dari Alexa masuk ke dalam notifikasi ponselnya.
Dalam pesan itu, Alexa mengirimkan sebuah lokasi tanpa keterangan apapun.
Tidak ada kalimat pembuka dan kalimat penutup, benar-benar hanya mengirimkan sebuah koordinat peta.
Anders pun membuka koordinat itu pada aplikasi yang ada di ponselnya. Menurut peta, koordinat itu berjarak sekitar 12 km dari tempatnya saat ini.
Dalam aplikasi yang ia buka, juga tidak ada keterangan tentang tempat seperti apa dalam koordinat itu.
Yang terlihat hanya gambar sebuah barisan ruko kosong dengan banyak sekali vandalisme yang dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.
Awalnya, Anders merasa ragu apakah ia harus mendatangi tempat itu atau tidak.
Namun, saat ini ia hanya bisa mengharapkan bantuan dari Alexa. Meskipun dalam hati ia sangat membencinya.
__ADS_1