
Setelah sedikit bergurau dengan mamanya, Anders pun kembali melanjutkan ceritanya tentang perempuan itu.
“Can I continue my story?”
“Sorry, sorry.. sayang. Iya, lanjutin ceritanya.” jawab mamanya dengan memegang tangan Anders dari seberang meja.
“So, Anders diem aja disana. Sambil lihatin dia ngobrol asik sama siswa lain. Nah, mungkin Tuhan berkata lain ya, ma. Waktu itu kan Anders dapet bangku nomor 48 di aula, ternyata dia nomor 47.”
“Loh, sebelahan dong?” tanya mamanya.
“Iya, dia duduk pas di sebelah kiriku. Dan dia yang memulai percakapan sama aku. Can you imagine that, ma? Seorang perempuan yang ngajak ngobrol duluan. Padahal kebanyakan kan laki-laki dulu yang memulai.”
“Nggak semua laki-laki bisa, dan nggak semua perempuan bisa.” tukas mamanya singkat. “Then? What happen?” tambahnya.
“Dia memperkenalkan dirinya.”
“Namanya adalah..” sahut mama.
“Ridha Ahda Sayyida.”
“Nama yang bagus loh itu sayang. Kamu tau artinya?”
“Ya.. I know. Perempuan yang mendapatkan petunjuk dan ridho-Nya.”
“Bener. Kamu tau darimana?”
“Dia sendiri yang bilang, tuh kan. Lagi-lagi Anders dibikin kagum sama dia, ma. Kan mama tau sendiri sekarang tuh buat seorang anak remaja buat hafal arti namanya sangat jarang.”
__ADS_1
“Tapi dia udah tau dan paham sama namanya.”
“Maksudnya?”
“Dia bilang kalau dia ingin jadi seorang perempuan yang sesuai dengan arti namanya. It means, ia akan mengusahakan dan mengutamakan agamanya terlebih dahulu.”
Mama Anders tersenyum tipis melihat bagaimana putranya itu begitu bersemangat menceritakan perempuan yang baru dikenal di SMA barunya.
Dalam hatinya, ia tidak ingin mengomentari banyak hal. Cukup mendengarkan saja, bisa membuat anaknya merasa lega.
Menurutnya, saat ini banyak anak remaja yang melarikan diri kepada hal-hal negatif di luaran sana karena kebutuhan untuk berceritanya tidak tercukupi.
Bahkan, yang lebih membuatnya miris lagi adalah kebanyakan saat ini, anak dari keluarga yang harmonis pun juga sangat rentan untuk terjerumus ke jurang yang membahayakan hidupnya nanti.
Ia sendiri tidak menginginkan hal itu terjadi pada kedua anak kesayangannya.
Karena itu berarti, sebagai orang tua, ia dipercaya oleh anak-anaknya sendiri untuk berkeluh kesah atas kejanggalan-kejanggalan yang sedang dialami oleh anaknya.
Kedua anaknya harus yakin bahwa ia dan suaminya bisa membantu memecahkan masalah kehidupan yang tidak diajarkan oleh sekolah. Termasuk hal-hal yang tabu dan lebih dalam terkait romansa anak remaja.
“Dan mama tau, awalnya aku itu nggak perhatiin dia waktu ngomong karena lagi sibuk lihat kedepan. Walaupun, memang di panggung sedang ada break karena kendala teknis.”
“Lalu? Dia marah ke kamu?” tanya mamanya.
“Nggak, ma. Dia dengan pelan dan sopannya minta perhatianku. Dan dia tertarik kenapa aku sangat fasih ngomong bahasa inggris.”
“Dia anak yang baik, sayang. Make sure you don’t ruin her day.”
__ADS_1
Anders terdiam mendengar ucapan mamanya barusan. Ia sangat kepikiran bagaimana Ridha saat itu. Anders merasa sedikit menyesal karena terlalu mementingkan egonya.
Ia saat itu, dengan sembrono dan sesuka hati berusaha untuk membuat Ridha terkagum dengan sifatnya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Ridha.
“Ma.. I’m so sorry.” Anders tiba-tiba meminta maaf kepada mamanya dengan nada sedih.
“Kenapa sayang?”
Ting.. ting..
Tiba-tiba suara bel pintu depan terdengar, dan saat ini adalah jam-jam yang biasanya papa Anders sampai rumah pulang dari kerjanya.
“Loh, pada ngumpul di ruang makan. Masak apa hari ini?” tanya papa Anders kepada istrinya.
“Sup iga, maaf ya hari ini aku nggak masak banyak seperti biasanya.”
“It’s okay.” jawab singkat papa Anders. “Sayang, makan es krim belepotan. Hahaha..” ucapnya sembari mengecup putrinya kecilnya.
“Papa, es krimku udah mau habis.” sahut Syifa
“Oh ya?”
Syifa hanya mengangguk dan tersenyum kepada papanya.
“Ya sudah, nanti papa ajak Syifa beli buat beli es krim lagi. Tapi janji kalau mau makan es krim, harus ijin mama lebih dulu. Okay?”
“Okay.” teriak putri kecilnya itu dengan gembira.
__ADS_1