KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 059


__ADS_3

Sudah beberapa hari Anders bolak-balik dari rumah menuju rumah sakit untuk memastikan perkembangan Noah.


Pada hari keenam, akhirnya Noah sudah diijinkan oleh dokter untuk meninggalkan rumah sakit.


Sepulang sekolah, Anders menjemput Noah dan mengantarnya pulang ke rumahnya.


Noah sangat berterima kasih pada Anders, dan perlahan akan membalas budi sedikit demi sedikit pada apa yang telah dilakukan oleh Anders.


Kedatangan Noah dan Anders dinantikan oleh semua orang yang menghuni rumah itu.


Anders menjelaskan kepada pria pemilik rumah itu, apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh Noah selama masa pemulihan.


Untungnya, pria baik hati itu bisa mengerti kondisi Noah, sehingga ia tidak memaksa Noah untuk bekerja. Ia malah lebih memilih untuk menjaga warung ditemani dengan adik Noah.


Anders begitu lega, karena Noah sudah beraktivitas seperti semula meskipun masih terbatas.


Ia kembali ke rumahnya, dan menceritakan kepada Lisa bahwa Noah sudah membaik dan diperbolehkan pulang.


Lisa yang mendengar cerita itu, juga merasa bersyukur karena sahabat putra sulungnya itu nantinya bisa kembali bertemu dan saling bercerita keluh kesah keduanya.


Tak lupa juga, Anders menceritakan semua kejadian yang dialami oleh sahabatnya itu kepada Ridha.


“Ma, semua udah balik normal lagi.” ucap Anders kepada Lisa.


“Iya, bersyukur semuanya nggak jadi lebih buruk. Mau makan apa malam ini?” balas Lisa.


“Apa aja deh ma, Anders lagi mood buat makan apapun sih hari ini.”


Mendengar jawaban dari putranya itu, akhirnya ia menggoreng tempe dan tahu.


Tak lupa ia juga menyiapkan sambal kecap kacang pedas yang menjadi salah satu sambal favorit anaknya.


Meskipun sudah terbiasa dengan kehidupan mewah, tetapi untuk masalah selera makan. Keluarga Anders tidak terlalu pilih-pilih.


Karena sebelum Alex dan Lisa sekaya ini, mereka berdua sudah merasakan bagaimana hidup di perantauan dan dididik untuk hidup dengan perjuangan mereka sendiri oleh kedua orang tuanya.


Di tahun terakhir ketika mereka berdua menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mereka berdua tidak mendapat uang saku sepeser pun.


Lisa, hanya mendapatkan uang untuk biaya kuliah semesternya. Sedangkan untuk uang makan dan hal keperluan lainnya termasuk tempat tinggalnya, Lisa harus mencari uang sendiri dengan menjadi pegawai laundry.

__ADS_1


Berbeda dengan Alex, ia malah tidak mendapatkan uang sama sekali dari kedua orang tuanya ketika menempuh semester akhir.


Ia diharuskan oleh kedua orang tuanya untuk segera mencari sampingan agar bisa mencukupi semua kebutuhannya dan juga membayar biaya kuliah semesternya.


Oleh karena itu, mereka berdua tidak menuntut apa yang akan mereka makan. Tidak meninggikan selera mereka dan yang paling penting menurunkan hal itu kepada anak-anaknya, Syifa dan Anders.


Ketika makanan sudah siap di meja makan, Lisa pun memanggil Anders yang sedang sibuk dengan ponselnya di ruang keluarga.


“Sayang, makannya udah siap.” teriak Lisa


“Ya, ma.” sahut Anders


Ia begitu kaget karena di atas meja sudah tersedia kombinasi tahu, tempe dan sambal kecap kacang favorit Anders.


Piring di depannya juga sudah menunggu untuk digunakan. Anders pun bergegas mencuci tangannya dan segera mengambil porsi makannya.


Di sela-sela ia mengunyah makannya. Anders tiba-tiba bertanya pada mamanya yang sekarang ini juga sedang menikmati jus jambu di depannya.


“Ma, mama kan udah kenal sama Noah, udah tahu juga gimana sifatnya Noah.”


“Lalu?” tanya Lisa.


“Hmmh, untuk saat ini sih mama masih belum punya saran. Toh juga kan Noah baru aja selesai operasi dan masih dalam masa pemulihan kan.” jelas Lisa.


“Tapi, ma. Nantinya kalau dia udah bener-bener sembuh, dia cocoknya masuk di bidang apa?” Anders masih berusaha bertanya dan mendapatkan jawaban dari mamanya.


“Kalau menurut mama sih, karena dia setahu mama kan suka di dunia otomotif. Noah juga anaknya nggak bisa diem, jadi montir kendaraan mungkin salah satu pilihan sih.” jawab Lisa.


“Jaman sekarang pun kualifikasi untuk pekerjaan montir juga nggak semahal dan sesusah dulu kok.” imbuhnya.


“Okay, nanti biar Anders yang bilang ke Noah.” sahut Anders.


Tidak ingin pembicaraannya berhenti, Lisa pun memutuskan untuk bercerita mengenai dua sahabatnya.


Ia menceritakan bahwa semasa SD dulu, ia mempunyai dua orang sahabat perempuan. Ketika masih kecil, mereka bertiga selalu pergi kemanapun bersama-sama.


Hingga masuk di bangku SMP, ternyata mereka bersekolah di sekolah yang sama walaupun dalam kelas yang berbeda.


Kedua orang sahabatnya itu memiliki karakter yang sangat berbeda. Ratih, adalah sosok yang rajin dan penurut pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sedangkan Hani, memiliki karakter yang periang dan terkadang berani untuk membandel.


Mungkin jika dilihat sekilas, kedua orang itu apabila disatukan dalam satu ikatan, ikatannya tidak akan bertahan lama.


Karena kebanyakan orang lebih memilih sahabat yang memiliki frekuensi dan kebiasaan yang hampir mirip.


Pada kenyataannya, hal itu tidak berlaku bagi Lisa dan juga kedua sahabatnya.


Dengan adanya perbedaan itu, mereka bertiga merasa setiap kegiatan yang mereka lalui bersama itu lebih berwarna.


Pun dengan adanya kontras karakter dari ketiga orang itu, akhirnya lebih sedikit untuk memperdebatkan sesuatu hal yang sama di masa itu.


Namun, berbeda cerita ketika ketiga orang itu memasuki masa remaja dan menginjakkan kakinya di bangku SMA.


Idealisme ketiga orang itu satu-persatu mulai muncul dan ego mulai menguasai diri mereka masing-masing.


Persahabatan yang awalnya selalu ceria dan menyenangkan dengan sedikit konflik, berubah drastis begitu saja.


Tak lain penyebabnya adalah karena masalah asmara. Disaat yang bersamaan, kala itu ketiga orang ini menyukai satu orang laki-laki yang sama secara diam-diam.


Mereka bertiga tetap berinteraksi layaknya tidak terjadi apa-apa dan seolah tidak ada yang sedang disembunyikan.


Hingga pada akhirnya itu semua terungkap ketika mereka memainkan permainan, dimana yang kalah harus menjawab pertanyaan dari yang lainnya secara jujur dan terbuka dengan bukti yang ada.


Beberapa surat yang ada di dalam tas Ratih membuat Lisa dan Hani sangat terkejut. Bagaimana tidak, surat itu dikirimkan kepada orang yang sama seperti yang Lisa dan Hani juga lakukan.


Dengan terungkapnya satu-persatu apa yang disembunyikan dari ketiga orang itu, akhirnya mereka pun saling menjauh dan menganggap semuanya sudah selesai.


Tak lupa Lisa juga menceritakan, jika mempunyai sahabat sangatlah menyenangkan.


Banyak hal bisa dilakukan bersama, dan banyak sekali momen yang akan terkenang selamanya yang suatu saat nanti akan menjadi obat ketika dalam kesendirian.


Namun yang namanya Lisa, tidak mungkin hanya akan menceritakan satu sisi dari sebuah peristiwa.


Ia  juga bercerita kepada Anders, jika mempunyai sahabat itu berarti seperti kita sedang memegang pedang bermata dua.


Tidak ada yang tau kapan pedang itu akan menusuk kita, dan juga tidak ada yang tau kapan pedang itu akan melindungi kita.


Anders yang masih dengan lahapnya memakan porsi makan malamnya itu, mengangguk mengiyakan setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh mamanya, Lisa.

__ADS_1


__ADS_2