
Syifa yang sedang bermain di balkon lantai dua melihat kakaknya memasuki gerbang.
Ia segera berlari ke bawah sambil berteriak memanggil kakaknya sambil membawa es krim kesukaannya.
"Kakak.. kakak.." teriak Syifa.
Lisa merespon teriakan putri kecilnya itu.
"Dimana kakak sayang?"
"Di… luar" sahut Syifa heboh.
Mendengar jawaban itu, Lisa pun langsung berlari menuju garasi. Ia menduga bahwa Anders menerobos hujan begitu saja, dan dugaannya ternyata benar.
"Kenapa nggak nunggu hujan reda dulu sih, kak?" tanya Lisa pada putranya.
"Nggak bisa, ma. Anders buru-buru tadi buat ke rumahnya Noah." jawab Anders terburu-buru ingin segera membersihkan badannya.
Tak lama setelah ia selesai membersihkan dirinya, ia turun kembali dan duduk di ruang keluarga.
Di sana sudah ada Syifa yang sedang asyik menyusun lego ditemani oleh mamanya yang sedang membaca buku.
“Gimana sayang, kondisinya Noah?” tanya Lisa.
“Hmmh, untuk sementara sih udah dapet pertolongan pertama. Kata dokter, kalo emang progressnya bagus, sekitar 2-3 hari kemudian udah sadar.”
“Separah apa emangnya?” tanya Lisa penasaran.
“Kalo dibilang parah, ya parah sih ma. Tapi Anders masih belum tahu gimana nanti hasil rontgen nya. Yang jelas, tulang hidungnya patah, tulang selangka kanannya juga patah. Sementara itu aja.” jelas Anders dengan nada sedih.
“Semoga cepet pulih ya buat Noah.” ucap Lisa.
Anders hanya mengangguk, ia sejenak bermain dengan Syifa untuk melepas kepenatan hari ini.
__ADS_1
Di sela-sela permainannya dengan Syifa, Anders meminta ijin pada mamanya lagi.
“Ma, aku nanti jadi ya. Buat nginep disana, kasian nggak ada yang jagain.”
Lisa mengiyakan dan mengijinkan anaknya itu untuk membantu Noah, sahabat sejak kecil Anders.
Setelah cukup bermain dengan Syifa, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Ia merapikan beberapa pakaian dan memasukkan ke dalam tasnya. Tidak tertinggal juga ia membawa buku pelajaran untuk esok hari.
Setelah mengemas semuanya dengan rapi, ia membuka brankas kecil miliknya yang ada di pojok kamar di sebelah tumpukan mini action-figure koleksinya.
Anders membuka brankas itu, dan mengambil kartu serta buku tabungannya. Ia mengecek ada berapa saldo yang ia telah kumpulkan saat ini dari uang menghemat dan pesangon yang diberikan oleh keluarganya.
Tujuh puluh delapan juta rupiah. Sebanyak itulah tabungan Anders di usianya yang baru menginjak 16 tahun.
Manajemen keuangan Anders bisa dikatakan sudah sangat mumpuni dan jauh diatas anak remaja jaman sekarang.
Ia bisa begitu menghemat pengeluarannya dan tidak tertarik pada hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.
Setelah dirasa semuanya sudah siap, Anders memutuskan untuk tidur sejenak. Alarm sudah ia setel, tanda ia akan benar-benar pergi untuk menemani sahabatnya itu.
Pukul 22.20, alarm Anders berbunyi. Bersamaan dengan nomor telepon yang tidak ia kenal.
Dengan mata dan kesadarannya yang masih sedikit terkumpul, ia mengangkat panggilan itu.
“Selamat malam, dengan Bapak Anders wali dari pasien Noah…”
Belum juga selesai informasi dari perawat yang disampaikan dalam telepon itu, ia segera meletakkan ponselnya di atas kasurnya dan berganti pakaian.
Tak perlu waktu lama, entah perawat itu tahu atau tidak bahwa dua menit ia berbicara, perawat itu sedang berbicara sendiri. Sedangkan Anders sibuk bersiap untuk berangkat.
Ia mengeluarkan motornya dari garasi dan segera memacu kendaraannya secepat mungkin. Anders tidak ingin melewatkan satupun apa yang sedang terjadi pada Noah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, ia segera menemui perawat yang sedang berjaga disana.
Dari keterangan yang perawat katakan, bahwa Anders sempat sadarkan diri. Begitu mendapat kabar seperti itu, dokter pun langsung memberi tindakan lanjutan.
Selain itu, perawat juga mengatakan dengan beberapa detik sadarnya Noah. Maka itu adalah perkembangan yang sangat baik.
Kini, dokter harus segera melakukan operasi setelah mendapatkan hasil lab tentang kondisi tulang hidung dan tulang selangka Noah.
Sebelum melakukan prosedur operasi, dibutuhkan ijin wali terlebih dahulu. Anders pun menandatangani persetujuan tindakan medis operasi.
Ia ingin segera menyelesaikan semua prosedur administrasi agar bisa segera dilakukan tindakan medis untuk Noah.
“Baik, pak. Saya terima lembar persetujuan tindakan medisnya. Dengan ini, para dokter bisa melakukan tindakan lanjutan pada pasien. Lalu bagian pembayaran, ingin diselesaikan di awal atau di akhir pasca operasi?” tanya perawat pada Anders.
“Diselesaikan sekarang juga.” ucap Anders dengan tegas.
“Prosedur operasi meliputi penyambungan tulang selangka dan (rhinoplasty) operasi tulang hidung, masing-masing menghabiskan biaya 24 juta rupiah dan 11 juta rupiah.” jelas perawat itu.
“Sekalian perawatan pasca operasi dan juga biaya inap pasien, tolong diikutsertakan di awal.” sahut Anders.
“Baik pak, sesuai dengan permintaan bapak. Biaya inap per malam untuk kelas VVIP 600.000,- per malam, dan biaya pasca operasi dan tambahan sekitar 4,1 juta rupiah.” ucap perawat itu dengan jelas.
“Totalnya?”
“Total biaya keseluruhan, 39,7 juta rupiah bapak.”
Anders langsung bernapas lega, karena uang yang ada di dalam tabungannya masih mencukupi untuk menutup seluruh biaya rumah sakit yang diperlukan. Ia segera memberikan kartu ATM miliknya dan membayar semua itu.
Saat ini, sedang dilakukan pembedahan dan prosedur operasi dua tulang Noah. Menurut keterangan yang diberikan oleh dokter sekitar 60 menit untuk rhinoplasty dan 90-120 menit untuk bedah tulang selangka.
Mengingat waktu yang cukup lama untuk menunggu, Anders pun berjalan-jalan di halaman depan rumah sakit.
Ia mencoba menelepon Ridha, tetapi Anders berpikir bahwa Ridha sudah terlelap di jam semalam ini.
__ADS_1
Dan benar, Ridha tidak mengangkat telepon Anders. Akhirnya, Anders pun menunggu operasi Noah sendirian disana,