KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 039


__ADS_3

Tidak terasa, hari terakhir MOS sudah usai dan besok seluruh siswa libur bisa bersantai dengan tenang di rumah mereka masing-masing.


Anders juga merasa lega karena sudah tidak ada lagi kewajiban untuk mengerjakan tugas yang menurutnya aneh yang diberikan oleh panitia MOS.


Tetapi ada satu keinginannya yang masih tidak bisa ia penuhi, dan hingga hari ini, ia tidak bisa menemukan Alexa.


Sempat dalam benak Anders berpikiran bahwa Alexa keluar dari sekolah ini dan pindah ke sekolah internasional di luar kota yang memang baru saja diumumkan hasil seleksinya kemarin hari.


Ia masih merasa penasaran tentang sosok Alexa ini. Berbeda dengan Ridha, Anders mulai sering untuk mengobrol ketika bertemu di jalan atau di kantin sekolah.


Anders semakin intens untuk menyapa Ridha, karena menurutnya Ridha adalah perempuan yang enak untuk diajak berbincang.


Perbincangan yang dibawa oleh kedua orang itu bisa mengalir begitu saja walaupun sangat kontras apa pembahasan dari tema pertama dan kedua.


Mereka berdua merasa bisa saling terhubung meskipun terkadang ada salah satu dari dua orang itu hanya bisa mengangguk karena kurang mengetahui apa yang sedang dibahas.


Tidak ada penolakan atau saling menjatuhkan jika hal itu terjadi. Malahan mereka berdua saling bercanda karena ketidaktahuannya masing-masing.


Anders yang saat ini sedang duduk di sofa di balkon lantai duanya sambil menikmati pemandangan yang terlihat dari rumahnya itu.


Tiba-tiba membayangkan bagaimana jadinya, jika yang berada di posisi Ridha saat ini adalah sosok Alexa.


Sepenasaran itulah dirinya pada Alexa. Bagaimana tidak, sejak kemunculan pertamanya di studio pribadi milik Anders tanpa ada undangan atau informasi terlebih dahulu adalah sebuah hal yang aneh.


Ditambah lagi, untuk anak jaman sekarang memiliki selera musik klasik tahun 90-an adalah juga hal yang aneh.


Selain itu, Alexa adalah sosok perempuan yang berwibawa. Terlihat dari nada bicaranya yang tegas.


Hingga saat ini, sebanyak siswa yang sudah Anders temui selama masa orientasi siswa, tidak ada yang memiliki ketegasan berbicara seperti itu.


Palingan hanya ada beberapa teman laki-lakinya, yang memang dasar kepribadiannya adalah sosok organisatoris. Dimana secara tidak langsung harus memiliki kemampuan dan kecakapan dalam berbicara.


Tapi menurutnya, mereka juga masih berada jauh dibawah Alexa. Bahkan sosok Anders yang sangat bisa memaklumi banyak hal hingga menciptakan dinding tinggi penghalang rasa terintimidasi bagi dirinya. Sempat merasa sedikit ketakutan terhadap Alexa kala itu.


Ia menghela nafas panjang, benar-benar menikmati ketenangannya saat ini.

__ADS_1


Memang, bagi seukuran remaja yang baru saja masuk dunia sekolah menengah atas sepertinya tidak terlalu banyak beban yang dipikirkan.


Namun, Anders yang memang sudah dididik untuk merencanakan dan memantapkan apa visinya di masa depan adalah hal yang berbeda.


Bagi sebagian orang tua mungkin saja dianggap hal itu bisa memberatkan anak kesayangan mereka.


Hal itu tidak terlepas dari bagaimana mereka memandang pendidikan terhadap anak mereka masing-masing.


Dari awal Anders lahir, Lisa dan Alex sudah memberikan banyak sekali pengetahuan untuk eksplorasi anaknya.


Dan yang tidak disangka-sangka adalah ternyata ketika Anders masih duduk di bangku sekolah dasar, anaknya itu memilih suatu saat nanti ia akan membangun perusahaan besar.


Awalnya memang ia hanya berandai-andai perusahaan besar adalah sebatas pencari uang dan penimbun kekayaan.


Seiring berjalannya waktu dan Anders juga beranjak dewasa, sedikit demi sedikit ia mengetahui bahwa semua perusahaan yang besar tidak bisa secara langsung menjadi perusahaan yang besar.


Ada banyak sekali perjuangan untuk menggapai mimpinya. Bahkan, ia mengetahui jika untuk membangun pondasinya saja begitu banyak rintangan.


Selain cita-citanya, ia juga memikirkan hal lain yang tidak lepas dari dirinya dan keluarganya.


Memikirkan bagaimana nantinya ketika kedua orang tuanya, Lisa dan Alex sudah berumur dan berhenti bekerja.


Juga terkadang, hal-hal yang berbau politik dan ekonomi secara umum pun terbesit dalam pikirannya.


Pemilihan camat saja yang notabene tidak sebesar dan seramai pemilihan presiden bisa menentukan bagaimana arah ekonomi yang dibangun di tempat tinggalnya.


Sore ini, ia bisa dengan nyaman bersantai karena Anders mematikan ponselnya.


Bagi dirinya, ponsel bukanlah hiburan yang sebenarnya. Hanya ada beberapa pengalih perhatian sekedar untuk tidak jenuh dari aktivitas yang ia lakukan secara terus-menerus.


Sedangkan yang seperti inilah, yang seharusnya banyak orang cari. Menikmati angin sepoi yang menghantam wajahnya dengan lembut. Diiringi mendengarkan musik yang ia putar melalui turntable di ruang berkumpul yang ada di lantai dua.


“Anders.” mamanya memanggil dengan pelan memastikan bahwa yang duduk di sofa adalah memang Anders.


Anders menoleh kepada mamanya dan tersenyum, sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Lisa membawa satu teko berisi teh hangat dan beberapa cangkir di atas nampan perak yang ada sedikit goresan bekas Syifa melukis.


“Boleh mama gabung? atau memang lagi ingin sendiri?” tanya mamanya.


Pertanyaan yang untuk sekarang ini jarang sekali didengar oleh anak-anak seusia Anders.


Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun bisa berdampak besar untuk mengubah suasana yang sedang terjadi atau bahkan mengubah emosi seseorang.


Kebanyakan dari anak-anak seusianya, merasa jika mereka sedang menyendiri dan tiba-tiba ada orang lain yang bergabung, akan dianggap sebagai pengganggu. Meskipun itu adalah orang tuanya atau saudara kandungnya sendiri.


Tidak salah memang jika merasakan hal itu, karena setiap orang memiliki cara menikmati waktu yang berbeda-beda.


Salah satu yang bisa menjadi jalan alternatif adalah melontarkan pertanyaan seperti apa yang baru saja dikatakan oleh Lisa.


Dengan adanya pertanyaan seperti itu, terlebih lagi diutarakan dengan nada yang halus, memungkinkan orang yang mendengarnya akan merasa nyaman dan tidak terganggu apabila ada yang ingin bergabung.


Permasalahan lain adalah, sebagian orang tua juga menganggap hal itu tidak perlu dilakukan. Dalam pikiran mereka, sebagai orang tua bisa melakukan apapun terhadap anak mereka.


Yang mereka tidak pahami adalah, tidak semuanya bisa diterima oleh anak mereka. Keadaan terpaksa yang dimaklumi oleh anak mereka akan berdampak pada kondisi emosionalnya ketika itu.


“Boleh kok, ma. Duduk aja. Anders juga cuman lagi santai, akhirnya MOS-ku udah selesai.”


“Weekend besok emangnya mau ada rencana?”


“Nggak ada, besok kayaknya cuman mau cuci mobil sama motor aja sih. Nanti kuajak Syifa biar dia bisa main air. Boleh?” tanya Anders.


“Ajak aja, yang penting bisa jaga ya..” jawab Lisa melegakan.


“Mama kepikiran deh sama omongan kamu waktu itu.”


“Omongan Anders? Yang mana emangnya? Anders banyak sekali obrolan sama mama soalnya.”


“Kamu kan pernah tanya gimana pertemuan papa dan mama.”


“Oh I see, aku inget sekarang ma.” jawab Anders sedikit terkejut dan langsung menghadapkan badannya ke arah Lisa.

__ADS_1


“Mau mama ceritain sekarang?”


“Boleh deh, ma. Mumpung suasananya lagi enak juga, mendung tipis gini kan sambil anginnya juga seger.”


__ADS_2