
Analisa Pratiwi, cukup singkat untuk ukuran nama lengkap seseorang. Tapi begitulah adanya.
Seorang superwoman bagi keluarga Anders. Saat ini, ia berusia tiga puluh tujuh tahun.
Ia merupakan lulusan sarjana dan magister psikologi di universitas ternama. Sempat menjadi salah satu mahasiswa berprestasi ketika itu.
Di lingkungan teman dekatnya, ia dipanggil Lisa. Ada juga beberapa orang yang memanggilnya penuh dengan nama Analisa.
Namanya identik dengan kata-kata yang digunakan dalam bahasa ilmiah ketika seseorang melakukan suatu riset atau penelitian.
Memang seperti itu lah karakter yang ingin diwujudkan oleh kedua orang tuanya dulu, dan saat ini Lisa memilikinya.
Ia seorang yang sangat detail dalam melihat sesuatu, bukan hanya barang yang notabene terlihat secara fisik yang mudah untuk dibedakan mana yang palsu atau asli.
Tetapi ia juga sangat detail dan mendalam ketika menghadapi suatu permasalahan.
Lisa lebih sedikit berbicara dibandingkan dengan suaminya, Alex. Ia lebih nyaman untuk memikirkan apa yang akan ia ucapkan terlebih dahulu kepada seseorang yang menjadi lawan bicaranya.
Walaupun, ia hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja. Tetapi yang jelas, ia telah memikirkan hal itu.
Semasa kuliah baik itu sarjana maupun magister, dan bahkan semasa SMA nya. Lisa sudah menjadi tempat curhat banyak orang.
Awalnya ia tidak mengetahui dan bahkan sebal dengan banyaknya orang yang memperlakukannya seperti itu.
Ia merasa terbebani dengan berbagai macam cerita dan problem dari orang-orang yang telah mencurahkan isi hatinya dan meminta saran darinya.
Hingga ketika kuliah, ia menyadari bahwa caranya merespon seseorang ketika sedang bercerita tentang masalah hidupnya memiliki karakter yang kuat dan unik.
__ADS_1
Semenjak saat itu, ia mencoba menerima takdirnya sebagai wadah dan pelampiasan banyak orang khususnya teman dekatnya untuk mengutarakan emosinya entah itu marah, sedih, penyesalan, ataupun kebahagiaan.
Lisa adalah seseorang yang sangat lihai untuk menempatkan dirinya sebagai apa dan dimana ketika menghadapi seseorang yang datang kepadanya untuk berkeluh kesah.
Ia dengan mudah bisa membayangkan posisi orang itu dan juga dengan mudah menganalisa apa saja faktor utama dan pendukung penyebab permasalahan yang terjadi kepada mereka.
Itulah salah satu karakter yang unik yang ada pada dirinya. Bagaimana caranya mengubah sudut pandang menjadikan dirinya sebagai orang yang sabar.
Sedari kecil, ia juga sangat senang untuk mengamati perilaku dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Terutama perilaku kedua orang tuanya.
Lisa kecil sudah memiliki pemikiran yang panjang terkait masalah-masalah yang berhubungan dengan sikap dan sifat manusia.
Kedua orang tuanya pun sempat terkejut ketika mendengar Lisa menceritakan sikap teman sebayanya yang rumahnya ada di seberang rumah Lisa.
Ia menceritakan dengan detail, bahwa temannya itu baru saja mengambil buah rambutan milik penjual sembako.
Menurut Lisa, temannya itu mencuri karena keinginannya tidak terpenuhi dan tergoda oleh rasa buah rambutan yang manis dan segar yang ada di memorinya.
Kesan itulah yang mungkin membuatnya melakukan hal yang tidak baik itu. Selain itu, Lisa juga bercerita bahwa bisa jadi temannya itu mencuri karena ada desakan oleh teman-temannya yang lain.
Ketakutan akan dikucilkan atau tidak diajak bermain bersama juga bisa saja menjadi salah satu faktornya.
Begitu terkejutnya orang tua Lisa mengetahui putri bungsunya mengatakan hal sedetail itu.
Saat ini, ia membuka praktik psikolog di rumahnya. Dahulunya, Lisa merupakan salah satu pimpinan divisi HRD di salah satu perusahaan multinasional milik Singapura.
Keputusannya untuk berhenti ia ambil ketika dirinya mendapat kabar bahwa ia telah mengandung anak keduanya.
__ADS_1
Tidak seramai psikolog yang lain memang, karena Lisa hanya membuka praktiknya hanya selama dua jam selama dua sesi.
Selain menjadi psikolog, ia juga menjadi penulis buku psikologi anak. Ada sekitar lima buku yang sudah diterbitkan dan dua diantaranya menjadi salah satu acuan untuk bahan ajar pendidikan di universitas.
Dan satu yang tak bisa lepas, menjadi seorang ibu rumah tangga. Meski ia sebenarnya membenci kata-kata itu, tapi ia lebih memilih untuk membiarkan saja dan tidak mau ambil pusing.
Kata ibu rumah tangga baginya tidak pas jika hanya disematkan kepada perempuan yang menjadi ibu di sebuah rumah tangga.
Memang itu hanya sebuah kata-kata sederhana untuk mempermudah pemahaman banyak orang.
Tetapi bagi seorang Lisa yang mendalami psikologi, seharusnya seorang ayah ataupun anak juga bisa mendapatkan gelar ibu rumah tangga.
Kata ibu rumah tangga baginya merupakan kata yang kompleks. Seperti halnya seorang ibu, yang saat ini di era modern ini dituntut untuk bisa melakukan apapun demi keberlangsungan kehidupan sebuah rumah tangga.
Ia merasa, bahkan seorang suami pun juga harus bisa melakukan hal-hal teknis yang bisa dilakukan seorang istri, seperti memasak, mencuci dan menenangkan bayi.
Meskipun tidak harus sehandal seorang perempuan, paling tidak seorang suami memahami bumbu-bumbu dasar.
Dan yang paling penting adalah harus dilakukan dengan kesadaran sebagai kewajiban layaknya seorang ibu rumah tangga.
Begitupun seorang anak, dalam benaknya ia berpendapat seorang anak juga harus bisa menenangkan kedua orang tuanya ketika banyak sekali masalah yang dihadapi sepulang dari pekerjaannya.
Tidak melulu hal yang besar dan membutuhkan banyak biaya, bahkan sebuah pelukan dan pertanyaan bagaimana hari ini, sudah bisa cukup untuk menenangkan kedua orang tuanya.
Baginya dalam kasus ini, hal yang paling penting adalah anaknya harus bisa melakukan hal semacam itu tanpa adanya paksaan layaknya seorang ibu rumah tangga yang menenangkan anak-anaknya.
Terlepas dari semua pikirannya itu, saat ini ia selalu dan tetap berusaha menjadi ibu yang baik bagi kedua anaknya, dan menjadi istri yang baik bagi suaminya.
__ADS_1