
Keputusannya untuk pergi menuju koordinat yang dikirimkan oleh Alexa, adalah keputusan yang benar.
Sesampainya disana, ia melihat ada beberapa orang laki-laki yang sedang merokok.
Anders menghampiri mereka, dan menanyakan kepada mereka.
“Dimana Noah?”
Mereka semua yang mendengar pertanyaan itu, sontak langsung berdiri dan melihat Anders dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mereka mengira bisa membuat Anders takut dengan menunjukkan berbagai tato dan otot mereka.
Empat orang itu tidak tahu jika orang yang ada di depannya saat ini adalah orang yang sangat menyeramkan jika ada yang membuatnya marah.
“Dimana Noah?” tanya Anders.
Mereka berempat tidak menjawab, malah menertawakan.
Ia pun ikut tertawa ketika melihat empat orang asing itu tertawa.
Tawanya mengejek, tujuannya berhasil. Mereka berempat diam.
Bagi Anders, tiga kali kesempatan untuk menjawab sudah sangatlah cukup.
Ia tidak ingin membuang-buang waktunya lagi dengan orang yang tidak peduli dengannya.
Dalam pikirannya, ia mungkin saja diserang kali ini. Tetapi, ia akan mencoba menanyakan lagi, melihat apakah mereka ingin menjawab atau tidak.
Setidaknya, ia mengulur waktu agar mereka berempat bisa memikirkan tentang keselamatan mereka.
"Terakhir, dimana Noah?"
Keempat orang itu masih tidak menjawab, malah orang yang ada di belakangnya melempar puntung rokok ke arah Anders.
Anders tersenyum dan langsung menendang tepat di bagian wajah orang yang melakukan itu.
Tendangan itu membuat ketiga orang lainnya terkejut, bagaimana tidak tendangan pertama yang dilayangkan oleh Anders membuat salah satu dari temannya langsung tumbang.
__ADS_1
Karena hal itu, ketiga orang sisanya tersulut dan menyerang Anders secara bersamaan.
Perkelahian itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Noah datang dari dalam rumah kosong itu.
"Kenapa mencariku?" tanya Noah.
Anders yang sudah muak dengan Noah, langsung memukul bertubi-tubi wajah Noah.
Seahli apapun seorang yang mempelajari jika diserang dalam kondisi tidak siap juga pada akhirnya akan babak belur juga.
Di tempat itu juga, di depan Noah, Anders berteriak lantang.
“Mulai sekarang, semuanya selesai. Tidak ada lagi kata sahabat.”
Di tengah kondisinya yang sudah seperti itu, Noah masih tetap saja tidak mau mengalah dan meminta maaf pada Anders.
Ia tetap merasa bahwa apa yang dilakukannya pada Ridha adalah hal yang benar.
Noah mengatakan, bahwa seharusnya yang ada di posisinya saat itu adalah Anders.
Kesalahan Anders lah yang membuat Noah harus datang menjenguk Ridha.
Mendengar Noah berbicara seperti itu, ia kembali memukul Noah dengan satu pukulan terakhir yang keras yang membuat Noah pingsan tidak sadarkan diri.
Anders yang juga babak belur karena telah dikeroyok oleh tiga orang sebelumnya, kini tidak tahu harus melakukan apa.
Yang pasti, ia tidak akan pulang ke rumah dengan kondisinya saat ini.
Ia duduk di depan rumah kosong itu, mengirimkan pesan lagi kepada Ridha.
"It's over, you're safe right now."
"I hope so." balas Ridha.
Selama beberapa hari, Ridha tidak membalas pesan yang ia kirimkan. Dan kali ini, balasan yang disampaikan oleh Ridha membuat pertanyaan baru.
Mengapa Ridha membalas dengan jawaban seperti itu.
__ADS_1
Anders pun mencoba menelepon Ridha, namun usahanya itu gagal. Ridha tidak mengangkat teleponnya.
Terduduk lesu, ia pun memejamkan matanya disana.
Menenangkan dirinya dari semua kekacauan yang baru saja terjadi.
Ia juga memikirkan apa yang dikatakan oleh Noah, dan teringat dengan apa yang pernah diceritakan oleh mamanya.
Persahabatan akan memiliki dua sisi, yaitu momen kebahagiaan dan momen kesedihan.
Terlalu banyak petualangan yang dilakukan bersama, membuat Anders tidak lagi mengukur seberapa banyak porsi kepercayaan yang harus diberikan kepada Noah.
Ia menyadari, dengan kata-kata yang diucapkan oleh Noah sebelum pingsan.
Noah adalah sosok yang manipulatif, berusaha melimpahkan kesalahan yang ia buat kepada Anders.
Berusaha sebaik mungkin memposisikan dirinya sebagai korban, dan menjadikan Anders sebagai dalang penyebab semua ini.
Padahal, jika dipikir secara logika, juga tidak ada yang meminta Noah untuk datang menggantikan dirinya menjenguk Ridha.
Jika dipikir lagi, Ridha juga tidak pernah menuntut Anders untuk memeluknya.
Dalam pejaman matanya, ia lebih tenang karena ia tahu, semua yang baru saja ia lakukan banyak benarnya.
Lamunannya buyar ketika ada pesan masuk dari instagram, tidak lain adalah dari akun Alexa.
"Selamat."
"Good bye."
Begitulah dua pesan yang Anders terima, ia sebenarnya penasaran bagaimana bisa Alexa mengetahui semua yang dilakukan olehnya.
Belum juga selesai mengetik balasan, akun itu menghilang begitu saja. Sudah tidak bisa untuk dikirimi pesan.
Riwayat pesan sebelumnya pun juga ikut menghilang tanpa jejak.
Anders, kali ini harus berterima kasih pada Alexa atas bantuan yang diberikan, meskipun masih terasa janggal.
__ADS_1
Ia kembali ke Jakarta pada malam hari itu juga. Karena ia lebih memilih untuk beristirahat di apartemennya daripada di sini.
Kali ini, yang masih menjadi pertanyaan bagi Anders adalah tentang Alexa.