KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 009


__ADS_3

Pengumuman ditujukan untuk seluruh siswa baru, kelas X angkatan ke-26, harap segera menuju ke aula utama sekarang juga untuk mengikuti kegiatan Masa Orientasi Sekolah hari ketiga. Terima kasih.


Terdengar sudah pengumuman itu, tiap pagi sebelum acara MOS dimulai, sekolah akan melakukan hal itu melalui pengeras suara yang tersebar di semua kelas.


Suara yang cukup keras dan intonasi yang jelas, dapat membuat seluruh mahasiswa bergerak secara masif dan tertib.


Mereka sebenarnya sudah mengetahui acara apa yang akan dilaksanakan hari ini melalui jadwal yang sudah disebar oleh panitia pada hari pertama.


Tapi, mereka hanya mengetahui susunan acara hingga siang hari, tepatnya ketika bel istirahat kedua berbunyi.


Setelah itu, tidak ada yang tahu. Seperti di hari pertama, ada acara perkenalan yang dilakukan oleh masing-masing kelompok.


Di hari kedua, berbeda lagi. Mereka mendapatkan evaluasi dari panitia MOS atas kelalaian beberapa siswa tidak mengenakan atribut atau tidak mengerjakan tugas yang sudah diberikan.


Pada hari ketiga ini, di dalam hatinya semua siswa juga bertanya-tanya apa yang akan terjadi di hari ini. Adakah evaluasi lagi, atau malah diadakan sebuah permainan antar kelompok.


Anders berjalan menuju aula sembari mencari perempuan tadi. Perempuan itu hilang bak ditelan bumi, ketika berjalan dengan rombongan siswa baru.


Memang, perempuan itu tidak terlalu tinggi. Tingginya hanya rata-rata dengan siswa yang lainnya. Maka dari itu akan cukup sulit untuk mengenalinya ketika perempuan itu sedang beriringan dengan siswa yang lain.


“Anders!” teriak seseorang di belakang barisannya.


Terdengar suara perempuan dari sana. Anders mencoba menengok ke belakang mencari tahu siapa yang memanggilnya.


Seingatnya, tidak ada satupun teman yang berasal dari SMP nya dulu berhasil lolos di SMA ini. Ia satu-satunya perwakilan dari SMP nya untuk tahun ini.


Anders masih berjalan sambil sesekali menengok ke arah kanan kiri, mencari asal suara itu.


Tidak ada satu orang juga yang mengangkat tangan sebagai penanda bahwa orang itu memanggilnya.


Cukup lama barisan berjalan pelan hingga akhirnya tiba Anders tepat di depan pintu aula utama. Memang untuk memasuki aula utama akan dilakukan pengecekan atribut sekolah.


Di samping itu juga akan ada pengecekan terkait atribut MOS seperti name tag, dan beberapa buku yang wajib dibawa.


Bahkan sampai ia diperiksa oleh panitia, orang yang memanggilnya pun tak kunjung menampakkan diri lagi.


Lalu, Anders pun berpikir mungkin saja ada siswa lain juga yang memiliki nama yang sama dengan dirinya.


Memasuki gedung aula utama, ia langsung menuju tempat duduk sesuai dengan nomor yang ia dapat.


Terlihat bahwa tempat duduknya berada di barisan ke-sembilan dari depan, ia duduk diantara nomor 47 dan 49.


Posisi yang cukup nyaman untuk melihat ke arah panggung di depan sana, tetapi tidak cukup strategis untuk mendengarkan gosip-gosip yang biasanya dibicarakan oleh panitia di belakang.

__ADS_1


Setelah berada di bangkunya, ia segera mencari perempuan itu. Mengurutkannya dari barisan depan apakah perempuan itu sudah masuk dan duduk terlebih dahulu.


Atau malah belum memasuki aula dan masih berada di dalam barisan di belakang. Ia sangat penasaran. Lebih tepatnya ingin mengetahui siapa nama perempuan itu.


“Di barisan depan tidak ada, berarti dia belum masuk ke aula ini.” gumamnya dalam hati.


Anders pun fokus ke satu-persatu orang yang memasuki aula itu. Dengan seksama ia memperhatikan wajah tiap orang.


Secara tidak langsung, Anders juga ingin menyeleksi kepribadian orang yang nantinya akan bisa berteman dengan baik dengannya.


“Hei.” ucap perempuan di sebelahnya yang duduk lebih awal di nomor 47.


“Hei.” balas Anders mengajukan tangannya untuk berjabat tangan.


“Ridha. Namamu?” tanyanya singkat.


“Anders.”


“Nama yang bagus. Senang berkenalan denganmu.” tukasnya.


Anders yang dalam proses berkenalan itu masih tidak fokus, dan menjawab pertanyaan perempuan dengan menoleh ke arah kanan di mana pintu masuk berada.


“Can I get your attention when I introduce myself?” tanya perempuan itu lagi.


Jawabannya terhenti setelah ia memalingkan pandangan dari pintu itu dan menatap perempuan itu.


Ya, perempuan di sebelah kirinya itu adalah perempuan yang ia cari sedari tadi.


Perempuan yang tadi pagi membuatnya tertarik dengan perangainya yang menawan dan pembawaannya yang ceria.


“Just what? Hahaha.. Kenapa tidak dilanjutkan penjelasannya?”


Anders terdiam tidak bisa berkata-kata. Ia mengalami brain freeze sejenak.


“Hey.. kamu nggak apa-apa kan? Apa aku mengejutkanmu dengan perkenalanku tadi?” tanya lagi perempuan itu dengan nada menenangkan.


“I’m fine. Sorry. Aku tadi sedang mencari seseorang yang memanggil namaku ketika aku sedang antri memasuki aula, dan sampai saat ini belum ketemu.” jelas Anders.


“Your friends?”


“Tidak, aku tidak mempunyai teman yang satu almamater dari SMP ku di sini. Mungkin tadi aku hanya salah dengar, atau memang ada orang yang memiliki nama yang sama denganku. Aku tidak tahu.”


“Okay, so am I your first friend?”

__ADS_1


Kata-kata itu mengejutkannya lagi. Bagaimana tidak, jika dipikir-pikir selama dua hari yang telah berlalu. Anders hanya sebatas berkenalan nama dengan siswa lain.


Ia juga mengerjakan apapun yang ditugaskan padanya dengan sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.


“Can we?” tanya Anders balik.


“Tentu saja. Aku Ridha, nama lengkapku bisa kamu baca pada name tag yang sekarang aku pakai.”


“Ridha Ahda Sayyida?”


“Ya. Dan kamu?”


“I’m Anders. Anders Zhafran Al Fatih.”


“Nama yang asing bagiku, perpaduan antara nama Eropa dan Timur Tengah.”


Pujian yang diberikan kepada Anders membuatnya semakin terkagum pada Ridha. Ia tidak menyangka bahwa ada yang memujinya di kali pertama bertemu.


“Lalu? Ridha Ahda Sayyida?”


“Perempuan yang mendapatkan petunjuk dan ridho-Nya. Itu arti namaku.”


Jawaban itu, lagi dan lagi semakin membuat Anders terkagum, karena menurutnya di zaman sekarang sangat jarang sekali anak seumurannya yang mengetahui arti dari nama yang disematkan oleh kedua orang tuanya.


“Do you know a fact?”


“Beritahu aku.”


“Nowadays, it’s very rare for teenagers to know the meaning of their name. And you know yours. I still can’t believe it.”


“Aku sudah mengetahuinya dari aku kecil, karena orang tuaku mengajarkan harus bisa menjadi seseorang sesuai dengan namanya. Sebelum itu, tampaknya kamu sangat nyaman untuk berbicara Bahasa Inggris.”


“Orang tua merupakan orang yang sangat mementingkan pendidikan untuk anak-anaknya, dan aku sudah dididik untuk berbicara dengan Bahasa Inggris, karena ketika kecil aku bilang kepada mamaku akan berkuliah di luar negeri.” jelas Anders.


“Kuliah di luar negeri?” tanya Ridha seketika begitu tertarik dengan obrolan yang dibuka oleh Anders. “Aussie?” tambahnya.


“Aku masih belum tahu akan berkuliah dimana untuk pendidikan magister ku nanti.”


“Aku juga ingin sekali bisa berkuliah di luar negeri, khususnya Australia.”


Mereka berdua pun berbincang dengan santai. Bagi Anders, kesan pertamanya pada Ridha sangatlah mengagumkan.


Ia banyak dibikin terkejut hanya dengan beberapa kata yang diucapkan oleh perempuan itu.

__ADS_1


Bahkan Anders pun tidak percaya, apakah ia akan jatuh cinta pada Ridha hanya dalam beberapa saat.


__ADS_2