
Akhirnya, Anders memutuskan untuk tidak memesan kopi lagi. Ia membiarkan kopi yang tumpah tetap berada di atas nampan dan memilih untuk tidak meminumnya.
Dan Anders memutuskan untuk duduk sejenak dan membuka ponselnya lagi.
Sedangkan Marks, sudah siap untuk menyantap makanannya. Ia telah membeli hotdog dan beberapa minuman soda favoritnya.
“Hey bro, from all the Asian food sold on this floor, which one would you recommend to me?” tanya Marks santai.
“Hmm, which one have you ever tried?”
“No one, hahaha..”
“Which country have you ever visited?”
“I'm never going to Asia, man.”
“Okay, go for Sate Padang.”
“Sate Padang? What kind of food is that?”
“Just buy and taste it.” jawab Anders singkat karena malas untuk menjelaskan.
Marks pun hanya bisa mengangguk sambil mengunyah makanannya. Di lain sisi, Anders dari tadi masih sibuk bermain dengan ponselnya.
Setiap hari ia masih rutin mengecek surel pribadinya, memastikan apakah surel terakhir yang ia kirim ke orang itu sudah mendapat balasan atau belum.
Ya, kegiatan mengecek surel seolah menjadi kewajiban bagi Anders pribadi. Bahkan, di awal waktu setelah tragedi itu terjadi, Anders memasang banyak sekali alarm untuk membiasakan dirinya membuka surel setiap hari.
Fokusnya teralihkan hingga seorang perempuan datang menghampirinya. Ia pun terkejut, dan segera menoleh ke arah perempuan itu.
Ternyata adalah salah satu pramusaji dari booth kopi yang tadi ia beli.
“Maaf kak, ada titipan pesanan kopi untuk meja ini.” ujar pramusaji tersebut.
Ternyata itu adalah kopi hitam. Di atas nampan yang disajikan dengan kopi hitam yang baru datang itu terdapat sebuah tulisan.
I hope your day that I messed up can get better again, Alexa.
Ia sangat terkejut ketika membaca tulisan itu. Sontak Anders pun berdiri dari tempat duduknya dan mencari dimana Alexa.
Anders yang tadi sangat marah dengan sikap tidak bertanggung jawabnya seorang Alexa, kini merasa bersalah karena terlalu cepat memutuskan bagaimana karakter seseorang.
Bahkan Marks yang sedang lahapnya menyantap makanan dari tadi juga terkejut dengan melihat gelagat Anders saat itu.
“What’s up, bro?” tanya Marks.
Namun, Marks tidak mendapat jawaban apapun. Ia menoleh ke arah nampan yang baru tiba itu.
Marks mengambil sobekan kertas yang ada disana, dan membacanya. Marks pun tertawa dan mencoba menggoda Anders.
__ADS_1
“She ruined your day, but at the same time she fell in love with you, bro. Hahaha..”
“Shut up.” gertak Anders kepada Marks.
“Wow.. wow.. calm down, man. Sit down, please. Can you?”
Anders pun akhirnya duduk kembali. Ia pun berkata kepada Marks mengapa ia sangat kaget ketika membaca tulisan itu.
Ia menjelaskan, bahwa semua orang yang ditemuinya akan dengan mudah ia membaca karakter seseorang.
Anders memang dari dulu, sangat menyukai bidang ini. Walaupun ia tidak menempuh pendidikan formal di bidang psikologi, tetapi Anders sangat antusias dalam mempelajarinya.
Tetapi, Anders pun sempat membaca ilmu psikologi karena ia pernah terjebak oleh hal itu di masa lalu.
Maka dari itu, Anders lebih menguatkan dan meninggikan lagi batasan-batasan pribadinya apabila bertemu dengan orang yang baru.
Ketika ia menjelaskan bagaimana dirinya kepada Marks, Marks pun terheran karena memiliki teman yang unik.
Marks saat ini hanya lebih memilih untuk mendengarkan dan tidak menginterupsi apapun yang dikatakan oleh temannya itu. Ia tidak ingin, hari temannya itu lebih kacau lagi hanya karena ia memotong cerita Anders.
Baginya, kalimat gertakan yang ia dapatkan sudah cukup memberikan sebuah sinyal bahwa Anders adalah orang yang sangat serius dalam hal-hal tertentu.
Mau tidak mau, Anders akhirnya meminum kopi yang baru saja datang itu yang diberikan oleh seseorang sebagai ganti rugi karena telah mengacaukan harinya.
Daripada kopi itu dingin dan terbuang sia-sia, ia pun lebih memilih untuk menerima pemberian seseorang tak dikenal, Alexa.
Kali ini, ia merasa jengkel kepada dirinya sendiri dan juga kepada Alexa. Bagaimana Alexa tau jika kopi yang dipesannya adalah kopi hitam tanpa gula?
Dalam benaknya, apakah cipratan kopi tadi ada yang terciprat ke dalam mulut Alexa? Namun rasanya tidak mungkin, karena saat itu posisi Alexa berada menyampingi dirinya, tidak tepat di depannya.
Apakah Alexa bertanya kepada kasir tentang kopi apa yang Anders pesan? Jika ya, kuat sekali ingatan kasir itu. Melayani banyak sekali mahasiswa dari pagi dan mengingatnya satu-persatu.
Atau siapakah Alexa? Apakah ia adalah orang yang pernah Anders temui di masa lalu. Tetapi, mengapa Alexa tadi mengucapkan namanya ketika meminta maaf seolah itu adalah pertemuan yang pertama kali.
Semua pertanyaan itu kini berputar-putar di dalam benak Anders. Ia semakin merasa bingung dan tidak nyaman pada apa yang telah terjadi dalam satu siang ini.
“Do you know Alexa? Is she your friend?” tanya Anders kepada Marks.
“I’m a newcomer here and I never had a friend named Alexa. Why?”
“Imagine if someone spilled your coffee by accident. and you don't know her. Suddenly she buys you a new coffee exactly what you ordered, including the amount of sugar, water and ice.”
“Then?” tanya Marks singkat.
“Don't you suspect how that person found out what we ordered?”
“I wouldn't think about such a complicated thing, in fact I'd be grateful for getting a new coffee. Hahaha..” jawab Marks santai.
Jawaban yang diberikan sama sekali bukanlah jawaban yang diinginkan oleh Anders. Ia baru menyadari bahwa Marks adalah tipe orang yang mudah bercanda dan membawa suasana santai.
__ADS_1
“Just drink, man. Trust me.” ucap Marks menenangkan Anders.
Anders akhirnya bagaimanapun juga berusaha untuk menyingkirkan pikiran-pikiran itu dan mencoba untuk menikmati kopi yang sudah hampir dua bulan sejak kepindahannya ke Melbourne tidak ia rasakan.
Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan satu cangkir kopi hitam baginya.
Anders adalah seorang pecinta kopi hitam yang berbeda dengan yang lainnya.
Jika orang lain bisa meminum kopi dan menikmatinya walaupun kopi sudah dingin, namun tidak dengannya.
Ia menikmati kopi dalam lima tegukan pertama, setelah itu ia sudah akan mengingat bagaimana sensasi kopi yang telah ia minum itu.
Sehingga tegukan keenam hingga kopi itu habis ia anggap sebagai bonus dan pemuas rasa dahaganya saja.
Mungkin aneh bagi sebagian orang. Tapi memang seperti itulah seorang Anders.
Setelah kopi itu habis, ia mengajak Marks untuk segera pergi meninggalkan kantin.
“Done!” kata Anders.
“Where will you go after this?” tanya Marks.
“I wanna go to shower and relax my mind and my body.”
“Okay. See you tomorrow, man.”
Anders dan Marks pun berpisah dan menuju ke rumah masing-masing.
Di tengah perjalanan pulang, Anders menyempatkan diri untuk singgah ke minimarket di dekat rumahnya.
Ia ingin membeli beberapa makanan ringan dan makanan beku cepat saji untuk bekalnya belajar malam ini.
Memasuki minimarket, Anders tidak basa-basi langsung mencari bagian snack dan frozen food. Ia membeli kentang, nugget, dan beberapa kaleng sarden pedas buatan Indonesia yang dijual disitu.
Setelah mengambil semua yang ia perlukan ia pun langsung membayar dan melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Anders mendengarkan lagu favoritnya karya Elvis Presley yang berjudul Can’t Help Falling in Love.
Lagu itu sangat berkesan bagi dirinya dan perempuan itu. Hampir seluruh baris dari lirik lagu itu pernah terjadi kepada mereka berdua.
Yang membuatnya tersenyum adalah ketika liriknya berbunyi,
wise men say
only fools rush in
but I can’t help falling in love with you
Baginya itu adalah satu lirik yang membuatnya bernostalgia mengingat betapa bodohnya ia ketika masa itu. Terlalu mencintai seseorang bahkan dirinya sendiri tidak ia pedulikan.
__ADS_1