
Dari rumah Ridha untuk menuju ke rumah Anders cukup jauh. Jika menggunakan motor, kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 40 menit.
Anders begitu merasa bahagia karena juga didukung oleh ibu Ridha untuk mengungkapkan perasaan pada putrinya.
Di tengah perjalanan, Ridha bertanya kepada Anders.
"Emangnya kita mau kemana sih?"
"Mau jalan-jalan aja." jawab Anders.
"I know, tapi kemana tepatnya. Lagian kenapa sih nggak bilang dulu waktu di sekolah." jawab Ridha ketus.
"Habis ini, kita ke rumahku dulu ya, aku mau ganti pakaian." sahut Anders.
Jawaban yang diberikan Anders itu didengar oleh Ridha.
Ia berpikir, itu tidak akan menjadi masalah. Ridha juga belum pernah diajak meskipun hanya untuk sekedar mampir di rumahnya.
Sebelumnya, Anders ketika ditanya tentang rumah, selalu saja menyembunyikan dan tidak mau menjawab.
Entah apa alasan dibalik hal itu, Ridha juga tidak mengetahuinya.
Namun, yang pasti bagi Ridha adalah Anders sangat menjaga privasinya.
Dan kali ini, ia diajak untuk mampir ke rumah milik Anders terlebih dahulu.
Ridha begitu penasaran, bagaimana rumah Anders dan dimana rumah Anders.
Mengapa di hari pertama sekolah, ia bahkan sampai terlambat datang untuk mengikuti pelajaran jam pertama.
Apakah memang sejauh itu rumahnya, Ridha hanya bisa menebak-nebak di dalam kepalanya.
Menit demi menit mereka lalui bersama sepanjang jalan. Ridha yang notabene perempuan yang jarang sekali keluar rumah, begitu asing dengan rute yang dilewati oleh Anders.
Ia menoleh ke arah kanan dan kiri, mengamati dan mencoba menggali ingatannya apakah pernah melewati jalan yang baru saja ia lewati.
Namun, tetap tidak menemukan penggalan ingatan itu.
"Benar ini jalannya?" tanya Ridha.
"Tentu saja. Kenapa?" balas Anders singkat.
"Tidak apa-apa hanya saja baru kali ini aku melewati rute ini."
Anders hanya tersenyum ketika Ridha mengucapkan kalimat itu.
Ridha yang masih diselimuti oleh kabut kebingungan akan kemanakah mereka pergi setelah ini, berusaha memikirkan hal itu.
Berbeda dengan Anders yang dari tadi senyum sendiri karena mengetahui rencananya berjalan dengan mulus sampai saat ini.
Anders mengharap semua rencana yang ada di rumahnya sudah siap, skenario dari Anders yang diberikan mamanya juga tinggal eksekusi saja.
Dalam perjalanan itu juga, sembari menarik tuas gas motor miliknya.
Ia kembali mengingat masa-masa dimana ia baru bertemu Ridha.
Mengingat bagaimana hal-hal random bisa mereka berdua lakukan kala itu.
__ADS_1
Anders juga satu persatu mengorek memorinya, mereka ulang beberapa kesalahan yang pernah ia lakukan pada Ridha.
Dalam hatinya, ia tidak ingin lagi membuat kesalahan yang sama. Terlebih membuat perempuan yang saat ini duduk di belakangnya merasa bersedih akibat ulahnya.
Hingga akhirnya, sampai di depan Rumah Anders, Ridha begitu terkejut melihat betapa megahnya rumah yang dimiliki oleh Anders.
"Sudah? Ini?" tanya Anders sambil berdecak kagum.
"Ya. Tidak perlu turun." sahut Anders.
Gerbang utama dibukakan oleh satpam yang selalu siap berjaga di posnya.
Mereka berdua memasuki garasi. Anders menyuruh Ridha untuk segera keluar dan masuk melalui pintu depan.
Sedangkan dirinya, masuk melalui pintu samping dan segera bergegas untuk mandi dan berganti pakaian.
Ridha keluar dari garasi yang berisi empat mobil sport mewah dan tiga mobil keluarga seri kelas ata, juga ada beberapa motor milik keluarga Anders.
Ia melihat ke sekelilingnya. Halaman depan yang begitu luas, dihiasi dengan air mancur dan suasana taman yang begitu menyejukkan.
Empat tiang pilar utama besar nan tinggi yang menjadi penyambut setiap tamu yang akan melangkah menuju pintu utama begitu menggambarkan bagaimana pemilik rumah ini.
Ridha memencet bel pintu yang ada di sebelah pintu depan itu, ia menunggu dengan diiringi detak jantungnya yang semakin cepat.
Tidak pernah ia melihat rumah semegah dan semewah ini sebelumnya.
Ia merasa deg-degan membayangkan bagaimana karakter orang yang ada di dalamnya.
Beberapa kali ia mendapatkan cerita dari Anders tentang bagaimana sikap keluarganya, kehangatan tercermin dari cerita itu.
Dal kepalanya, seperti sangat kontras antara karakter dan sifat yang diceritakan dengan selera desain rumah yang saat ini ia lihat.
Pintu terbuka tidak lama setelah Ridha memencet tombol bel itu.
"Halo sayang, selamat datang." ucap Lisa yang langsung memeluk Ridha.
"Terima kasih, tante." balas Ridha sambil tersenyum ramah.
"Ayo masuk dulu, tante udah bikinin teh sama kue coklat tadi." sahut Lisa.
Prasangkanya hancur begitu saja ketika mendapat sambutan yang diberikan oleh tuan rumah.
Dengan adanya sambutan seperti itu, tidak ada lagi keraguan tentang kehangatan cerita keluarga dari Anders.
Ridha pun melangkahkan kakinya ke dalam istana yang sangat megah dan indah itu.
Ia duduk di sofa berukuran besar dengan kayu yang telah dicat putih bersih dengan beberapa ukiran emas.
"Jauh ya rumahnya Anders?" tanya Lisa sambil menyuguhkan teh dan kue buatannya.
"Kalau jauh mungkin tidak kok tante, saya aja yang memang belum pernah ke daerah sini. Jadi rasanya asing banget."
"Oh, jadi begitu. It's okay, biar tau daerah sini ya." ucap Lisa.
"Iya tante."
"Sudah tahu namanya tante belum?"
__ADS_1
"Maaf, tapi belum. Anders nggak pernah menyebutkan nama anggota keluarganya." ucap Ridha sambil menunduk.
"It's okay, sayang. Nama tante Analisa Pratiwi. Biasanya dipanggil Lisa. Kalo suami tante, namanya Alex, sedangkan putri yang paling kecil namanya Syifa." jelas Lisa dengan begitu ceria.
"Terima kasih, tante Lisa."
Lisa pun mengobrol hangat dengan Ridha, cukup banyak berbagi cerita yang ringan-ringan hanya sekedar untuk membuat Ridha tidak merasa canggung.
Ia juga melihat bahwa sosok Ridha yang diceritakan oleh putranya, sesuai dengan dugaannya.
Sosok perempuan yang kalem dan penyabar, terlihat dari gestur tubuh dan cara Ridha berbicara.
Selain itu, ia juga melihat bahwa Ridha merasa begitu nyaman dengan sambutannya. Karena Lisa juga melihat bagaimana Ridha menikmati kue dan teh buatannya itu.
Hingga akhirnya, Anders mengirim pesan kepada mamanya bahwa ia sudah berada di studio dan siap untuk melakukan semua rencananya.
Ridha yang mendengar suara notifikasi itu, langsung ijin kepada Ridha untuk pergi ke belakang terlebih dahulu.
"Sayang, tunggu sebentar ya. Tante ada keperluan kecil di belakang." ucap Lisa.
"Silahkan dilanjutkan, tante. Biar saya menunggu Anders disini."
Lisa menuju ke dapur untuk mengambil kue soft cake yang sudah ia buat dan membawanya ke dalam studio di lantai dua.
Ia menemui Anders, dan bertanya apakah ada lagi yang dibutuhkan.
"Ini sayang, kuenya. Taruh di seat depan yang sekiranya nggak kelihatan dari seat tengah." ucap mamanya.
"Oke, ma."
"Terus, videonya, sama hadiahnya gimana?" tanya Lisa.
"Sudah ma, video playernya sudah Anders atur tadi. Jadi bisa diputar pake remot yang Anders bawa nanti. Hadiah juga sudah siap kok."
"Okay, good luck my dear." ucap Lisa seraya mengecup kening putra kesayangannya itu.
Lisa kembali ke ruang tamu untuk menemui Ridha lagi.
"Sayang, Anders di lantai dua. Tapi tante nggak tahu masih lama atau udah selesai, jadi kamu tunggu di studio aja ya." ucap Lisa.
"Studio mana, tante? tanya Ridha tidak tahu apa-apa tentang rumah ini.
"Kamu lihat tangga di sebelah kanan itu kan, nah naik saja. Lalu di sebelah kiri nanti ada pintu berwarna merah. Kamu masuk saja, menunggu disana." jelas Lisa.
Ridha yang tidak tahu apapun, menuruti begitu saja perkataan Lisa. Ia segera menaiki tangga itu dan mencari pintu berwarna merah.
Ia membuka pintu itu, bagaimana tidak terkejut. Baru kali ini ia melihat benar-benar ada studio pribadi di dalam rumah Anders.
Kondisi studio saat ini cukup gelap, hanya ada beberapa lampu kuning di sebelah kanan dan kiri yang menjadi sumber penerangan studio itu.
Ridha duduk di bagian belakang, ia merasakan bahwa tempat duduk studio pribadi milik Anders bahkan lebih nyaman daripada studio yang ada di mall.
Dilihatnya sekeliling studio itu, penuh dengan karpet dan busa peredam suara. Di bagian atas terdapat AC yang menjaga suhu ruangan tetap dingin.
Suasana yang sama bahkan lebih baik ketimbang studio publik pada umumnya.
Ia menyamankan posisi duduknya, membuka ponsel pribadinya dan menunggu kedatangan Anders.
__ADS_1