KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU

KEKASIHKU ADALAH KEKASIHMU
CHAPTER 017


__ADS_3

“Gimana kak MOS nya hari ini?” sahut Mama Anders ketika melihat putranya itu sudah datang dan sedang mengobrol dengan si kecil, Syifa.


“Just fine. Everything has gone well.”


“Sudah makan siang?” tanyanya


“Sudah, tadi beli nasi lemak yang harganya dua belas ribu.”


“Hah? Gimana rasanya nasi lemak semurah itu?” tanya mamanya penasaran.


“You’ve to try, Ma. Nggak seburuk apa yang mama pikirin. Aku awalnya juga random buat milih yang antrian paling sedikit. Tapi, ternyata enak.” jelasnya.


“Next time I’ll try.”


“Mama hari ini masak apa?”


“Maaf sayang, mama hari ini nggak bisa masak banyak menu seperti biasanya. Hanya ada sup iga. Mau mama ambilin?” tawar mama Anders.


“Boleh, kebetulan aku juga laper soalnya tadi di jalan pulang macet banget.”


Mama Anders pun mengambilkan sup iga buatannya yang ada di dapur dan membawakannya untuk Anders menuju ruang makan.


Anders langsung berdiri dan mengambil piring serta sendok di sebelahnya. Ia sangat suka apapun masakan yang dimasak oleh mamanya.


Rasa yang terkadang terlalu asin atau bahkan hambar baginya bisa ditoleransi demi menjaga perasaan mamanya.


Biasanya, ia akan mengatakan rasa makanan yang sebenarnya di kemudian hari ketika makanan itu telah habis.


Dengan seperti itu, ia tidak akan menyakiti perasaan mamanya, bahkan mamanya akan lebih mengingat dan menakar ulang kadar setiap bumbu yang ia masukkan.


Mamanya pun kembali dengan membawa sup iga hangat di dalam mangkok gelas besar yang biasa digunakan untuk menyajikan makanan.


Tanpa pikir panjang, Anders langsung mengambil sup iga itu sekalian dengan isi yang ada di dalamnya.


“Jadi hari ini ngapain aja tadi di sekolah” tanya Mama Anders pelan.


Anders yang terlalu menikmati sup iganya tidak mendengarkan pertanyaan mamanya. Akhirnya mamanya pun mengulang kembali pertanyaannya.


“Sayang, ngapain aja hari ini di sekolah?”

__ADS_1


“Sorry. Sup nya enak banget, sampe aku nggak denger Mama lagi ngomong apa. Ya, hari ini seperti kemarin, panitia bahas tugas, terus ada penjelasan dari Wakil Kepala Kesiswaan tentang pengembangan diri. Sorenya ada games.” jelas Anders sambil melanjutkan mengunyah makanannya.


Mama Anders tersenyum melihat anak sulungnya itu dengan lahap memakan sup iga buatannya.


“Ma..”


“Yaa? Ada apa?”


“Menurut mama, sejauh apa Anders harus melindungi prinsip Anders dari hal-hal yang bisa mengganggunya?” tanya Anders pelan.


“Kenapa tiba-tiba tanya tentang prinsip hayo? Pasti ada sesuatu yang udah kamu lakuin tadi di sekolah yang sekarang bikin kamu kepikiran.”


“Ada beberapa yang menurut Anders, sudah benar sih. Tapi entahlah, Anders cuma khawatir prinsip Anders bertabrakan dengan prinsip orang itu.”


“Jadi, kalo boleh mama simpulkan, kamu udah berkenalan dengan seseorang. Kamu udah berbicara banyak dan mungkin malah kalian udah pernah saling memberikan sikap. Am I right?”


“Seperti itulah.” jawab Anders singkat.


“Perempuan?”


Anders tidak menjawabnya, meskipun ia mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh mamanya.


Anders yang awalnya sangat menikmati sup iga, dan bahkan memasukkan suapan lagi ketika masih belum selesai mengunyah.


Setelah mendengar pertanyaan itu, anaknya sedikit melambatkan tempo makannya dan lebih perlahan dalam mengunyah sup iga buatannya.


Namun, yang namanya seorang mama tidak akan secara langsung memberikan saran untuk anaknya yang sudah remaja.


Ia akan lebih memilih untuk memberikan opsi terkait apa yang harus dilakukan oleh Anders.


“Hmmm.. kalo temanmu ini laki-laki, sepertinya kamu tidak perlu ambil pusing. Soalnya mereka juga akan melakukan hal yang sama yang menurut logika mereka benar.”


Anders mengangguk pelan mendengarkan jawaban mamanya.


“Tapi, kalo perempuan..”


Seketika Anders langsung melihat mamanya ketika menyebutkan kata perempuan. Ia segera memfokuskan semua koordinasi otak dan pendengarannya agar tidak ada satupun kata yang tertinggal.


Mamanya hanya tersenyum melihat reflek anaknya itu.

__ADS_1


“Tapi, kalo perempuan, case nya beda lagi sayang.” ucap Mama Anders.


“Perempuan lebih banyak untuk menggunakan perasaan, feeling, dan bahkan instingnya untuk merespon semua yang ia dapat. Entah itu sebuah perilaku atau perkataan orang lain. Khususnya kalo diberikan sama lawan jenisnya.” tambahnya.


“Tapi, terkait dengan prinsip untuk anak seusia kamu. Seorang perempuan akan jauh lebih lunak daripada seorang laki-laki. Mereka masih terjebak dalam pertanyaan apakah prinsip mereka udah sesuai di lingkungannya atau tidak.”


Anders mendengarkan dengan seksama apa yang diutarakan oleh mamanya itu.


“Tenang aja, mereka akan terlihat emosional jika ada yang mengganggu prinsipnya. Tapi itu tidak akan berlangsung lama kok, sayang.” ujar Mama Anders untuk menenangkan.


“Tapi, Ma..”


“Ya, sayang?”


“Aku mau menceritakan sesuatu terlebih dahulu. Boleh?”


Mamanya pun langsung duduk di depan Anders dan menyingkirkan ponselnya, ia ingin memberikan perhatian penuh kepada anak sulungnya ini.


“Tadi, ketika pagi sebelum bel masuk. Anders melihat perempuan yang menurutku cukup unik.”


“Unik gimana, sayang?”


“Dari kejauhan, Anders melihat dia begitu akrab dengan orang lain. Dia berbincang dengan santai ke semua orang bahkan yang baru datang dan nggak kenal sama dia.”


“Lalu?”


“Itu yang bikin Anders kagum, ada perempuan yang bisa membawa suasana yang ceria yang ada di dalam dirinya. Bikin semua orang yang ia ajak ngobrol merasa santai.”


“Padahal di saat yang sama, banyak juga anak-anak yang diam, milih buat nggak ngobrol dengan yang lain karena mungkin takut apa yang bakalan terjadi sama hari ini ketika MOS.”


“Anders saat itu, tiba-tiba ngerasa pengen tahu siapa sebenarnya perempuan itu.”


“Terus Anders cari tahu apa nggak?” tanya mamanya penasaran.


“Anders pas itu sempat ada keinginan untuk cari tahu, bahkan ingin langsung nyamperin dia buat berkenalan. Tapi, entah kenapa otak Anders itu rasanya membeku, Ma. Nggak mau nyuruh kakiku buat gerak.”


“Hahaha..” Mama Anders tertawa mendengar apa yang baru saja diceritakan oleh anaknya itu.


“Ish, mama mah mesti gitu. Yaudah, I’ll stop.”

__ADS_1


Mama Anders masih tidak bisa menahan ketawanya, melihat putra sulungnya itu begitu kecewa dengan respon yang ia berikan.


__ADS_2